Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Ayahnya seorang pensiunan Wedana Distrik Uteran, Madiun, yang bernama Sutejo dan ibunya bernama Soejati. Subagio menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun. Pendidikan Subagio dilakukan di berbagai tempat, yaitu HIS di Bandung dan Jakarta. Pendidikan HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta. Pada tahun 1958 berhasil menamatkan studinya di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada dan 1963 meraih gelar master of art (M.A.) dari Department of Comparative Literature, Universitas Yale, Amerika Serikat. Subagio pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia B-1 di Yogyakarta (1954—1958). Ia juga pernah mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra, UGM pada tahun 1958—1961. Pada 1966—1971 ia mengajar di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung . Selanjutnya, tahun 1971—1974 mengajar di Salisbury Teacherrs College, Australia Selatan, dan di Universitas Flinders, Australia Selatan tahun 1974—1981. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982—1984) dan sebagai anggota Kelompok Kerja Sosial Budaya Lemhanas dan Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981). Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Tentang kepenyairannya itu, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa sajak-sajak Subagio adalah sajak rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. Itulah paling tidak sebagian dari karakter kepenyairan Subagio Sastrowardoyo. Kreativitas Subagio Sastrowardoyo tidak terbatas sebagai penyair. Oleh karena itu, ia tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961 menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan prosa dan esai-esainya. KARYA: Karya yang telah ditulisnya pun beragam dan banyak, seperti berikut ini. A. Kumpulan puisi 1. Simphoni (1957) 2. Daerah Perbatasan (1970) 3. Keroncong Motinggo (1975) 4. Buku Harian (1979) 5. Hari dan Hara (1982) 6. Simponi Dua (1989) 7. Dan Kematian Makin Dekat (1995) B. Kumpulan esai 1. Bakat Alam dan Intelektualitas (1972) 2. Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor (1976) 3. Sosok Pribadi dalam Sajak (1980) 4. Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983) 5. Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1989) 6. Bunga Rampai Sastra Asean: Sastra Lisan Indonesia (1983) 7. Modern Asean Plays Indonesia (di dalamnya dimuat drama “The Bottomless Well”, “Wow”, “Time Bomb”, dan “Dhemit”) (1992) 8. Anthology of Asean Literatures: Volume III a: The Islamic Period in Indonesian Literature (1994) C. Kumpulan cerpen Tulisan Subagio yang berupa cerpen terkumpul dalam sebuah kumpulan cerpen, yaitu Kedjantanan di Sumbing (1965). Selain itu, ia juga menerima hadiah dan penghargaan atas kreatifitasnya itu. Hadiah dan Penghargaan yang diterima: 1. Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983) untuk karyanya Sastra Hindia Belanda dan Kita 2. Hadiah Pertama dari majalah Kisah (1995) untuk cerpennya “Kedjantanan di Sumbing” 3. Hadiah dari majalah Horison untuk puisinya “Dan Kematian pun Semakin Akrab” yang dimuat dalam majalah itu tahun 1966/1967 4. Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) untuk kumpulan puisinya Daerah Perbatasan 5. Penghargaan South East Asia Write Award (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada tahun 1991 untuk kumpulan puisinya Simponi Dua.
Senin, 30 Maret 2026
Senin, 02 Juni 2025
Tan Malaka di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun
Tan Malaka di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun
Sabtu, 19 April 2025
Sunario Sastrowardoyo
Soenario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional manifesto 1925 dan Kongres Pemuda II. Soenario lahir di Madiun pada tanggal 28 Agustus 1902. Sejak kecil Soenario sudah bersekolah di sekolah Belanda, karena ia adalah anak dari pasangan Sutejo Sastrowardoyo yang merupakan mantan wedana di Uteran dan Suyati Kartokusumo.
Beliau sejak kecil tinggal di Madiun, beliau masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak atau Frobelschool pada Tahun 1908. Kemudian masuk Europeesche Lagere School (ELS) setingkat seperti SD namun harus ditempuh selama 7 tahun pada Tahun 1909. Kemudian
melanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan hanya 1 tahun disana. Kemudian beliau pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya di Rechtschool, selain belajar disana ia juga memahirkan bahasa Prancis. Setelah beliau lulus pada 1923, beliau melanjutkan sekolahnya di negeri Belanda atas biayanya sendiri. Beliau di terima di Universitas Leiden yang merupakan perguruan tertinggi tertua di Belanda. Pada Tahun 1925 beliau mendapat gelar Mr. atau Meester in
de Rechten yang berarti ahli dalam ilmu hukum (Fitri, Melinea, & Zuhri, 2021)
Sumber: Yusuf Perdana dan Rinaldo Adi Pratama, SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL
INDONESIA Penerbit Lakeisha 2022

