Tampilkan postingan dengan label sejarah Madiun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah Madiun. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2026

Subagio Sastrowardoyo


Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Ayahnya seorang pensiunan Wedana Distrik Uteran, Madiun, yang bernama Sutejo dan ibunya bernama Soejati. Subagio menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun. Pendidikan Subagio dilakukan di berbagai tempat, yaitu HIS di Bandung dan Jakarta. Pendidikan HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta. Pada tahun 1958 berhasil menamatkan studinya di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada dan 1963 meraih gelar master of art (M.A.) dari Department of Comparative Literature, Universitas Yale, Amerika Serikat. Subagio pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia B-1 di Yogyakarta (1954—1958). Ia juga pernah mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra, UGM pada tahun 1958—1961. Pada 1966—1971 ia mengajar di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung . Selanjutnya, tahun 1971—1974 mengajar di Salisbury Teacherrs College, Australia Selatan, dan di Universitas Flinders, Australia Selatan tahun 1974—1981. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982—1984) dan sebagai anggota Kelompok Kerja Sosial Budaya Lemhanas dan Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981). Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Tentang kepenyairannya itu, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa sajak-sajak Subagio adalah sajak rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. Itulah paling tidak sebagian dari karakter kepenyairan Subagio Sastrowardoyo. Kreativitas Subagio Sastrowardoyo tidak terbatas sebagai penyair. Oleh karena itu, ia tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961 menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan prosa dan esai-esainya. KARYA: Karya yang telah ditulisnya pun beragam dan banyak, seperti berikut ini. A. Kumpulan puisi 1. Simphoni (1957) 2. Daerah Perbatasan (1970) 3. Keroncong Motinggo (1975) 4. Buku Harian (1979) 5. Hari dan Hara (1982) 6. Simponi Dua (1989) 7. Dan Kematian Makin Dekat (1995) B. Kumpulan esai 1. Bakat Alam dan Intelektualitas (1972) 2. Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor (1976) 3. Sosok Pribadi dalam Sajak (1980) 4. Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983) 5. Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1989) 6. Bunga Rampai Sastra Asean: Sastra Lisan Indonesia (1983) 7. Modern Asean Plays Indonesia (di dalamnya dimuat drama “The Bottomless Well”, “Wow”, “Time Bomb”, dan “Dhemit”) (1992) 8. Anthology of Asean Literatures: Volume III a: The Islamic Period in Indonesian Literature (1994) C. Kumpulan cerpen Tulisan Subagio yang berupa cerpen terkumpul dalam sebuah kumpulan cerpen, yaitu Kedjantanan di Sumbing (1965). Selain itu, ia juga menerima hadiah dan penghargaan atas kreatifitasnya itu. Hadiah dan Penghargaan yang diterima: 1. Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983) untuk karyanya Sastra Hindia Belanda dan Kita 2. Hadiah Pertama dari majalah Kisah (1995) untuk cerpennya “Kedjantanan di Sumbing” 3. Hadiah dari majalah Horison untuk puisinya “Dan Kematian pun Semakin Akrab” yang dimuat dalam majalah itu tahun 1966/1967 4. Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) untuk kumpulan puisinya Daerah Perbatasan 5. Penghargaan South East Asia Write Award (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada tahun 1991 untuk kumpulan puisinya Simponi Dua.


Senin, 02 Juni 2025

Tan Malaka di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun


Tan Malaka di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun

Ditahannya  Tan Malaka di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun adalah buntut dari aksi Tan Malaka dalam kudeta 3 juli 1946. Hal ini membuat Tan Malaka ditahan di beberapa kota salah satunya di Madiun. penahanan Tan Malaka di Madiun ini oleh Soemarsono disebutkan sebagai upaya pemerintah (Amir Syarifuddin) untuk mengamankan Tan Malaka Dan kawan-kawannya dari upaya pembebasan paksa pengikut Tan Malaka, Di Madiun pengikut Tan Malaka tidak begitu mendominasi. Disisi lain Jarak antara Madiun dengan Jogjakarta cukup dekat. Penahanan Tan Malaka bersama Soekarni, Pandu, Abikoesno Cokrosujoso dan bersama tiga puluh delapan tahanan di Rumah Tahanan Madiun terjadi pada 26 November 1947 hingga bulan Mei 1948. 

Ketika dipenjara di Madiun, Tan Malaka dan kawan-kawannya diperlakukan dengan baik karena penahanan di Madiun tidak seperti saat dipenjara di Ponorogo yang minim fasilitas.  
Di Rumah Tahanan Madiun untuk urusan makanan para tahanan termasuk Tan Malaka terpenuhi dengan baik dan fasilitasnya cukup baik, bisa dibilang memuaskan. Misalnya Tahanan Madiun yang dijaga oleh tentara divisi Siliwangi itu memperbolehkan menerima kunjungan dari istri dan anak-anak mereka. Para penjaga di Rumah Tahanan Madiun itu begitu ramah pada para tahanan, lalu tahanan sesekali berjalan-jalan menuju rumah sakit dengan santai dan dapat berbicara bebas meskipun dikawal oleh pasukan dari Rumah Tahanan Militer Madiun.

Pada tanggal 20 januari 1948 empat tahanan seperti Tan Malaka, Abikoesno, Darwis dan soebandi ingin pergi kerumah sakit, mereka di fasilitasi dan diberi pilihan naik dokar atau jalan kaki, setibanya keempat tahanan ini datang ke rumah sakit. Mereka diberi  makanan berupa roti dan makanan-makanan lain, bahkan rokok. Tan Malaka oleh kepala Polisi Tentara diberi fasilitas untuk membuat tulisan, meskipun tidak ada koleksi buku dalam penjara. Namun di Rumah Tahanan Militer Madiun itu Tan Malaka mendapat ruangan untuk menulis dan ia dapat mengumumkan karangan-karangan di surat-surat kabar dengan nama samaran. 

Tan Malaka menulis tulisan-tulisan tersebut dengan nama samaran, ditempat itu juga Tan malaka  bisa menulis buku meski dengan modal ingatannya karena keterbatasan buku. tulisan-tulisan yang sudah dibuat oleh Tan malaka dipenjara Madiun diantaranya. Minimum Program yang selesai ditulis bulan Maret 1948, Greliya Politik dan Ekonomi (GERPOLEK) yang selesai pada 17 Mei 1948 dan Dari Penjara ke Penjara Jilid III yang proses penulisannya dimulai di Madiun. Septian HvM

Daftar Pustaka

*Buku
Malaka, Tan. 2000, Dari Penjara Ke Penjara Jilid III, Jakarta: TePLoK Press.

Poeze, A. Harry. 2010, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3: Maret 1947-Agustus 1948, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV.

Poeze, A. Harry. 2010 , Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLV
Setiawan, Hersri. 2003, “Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan”, FuSPAD.

*Koran
 07  Januari 1948. Politieke Gevangenen Te Madioen. De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad

08 Januari 1948. 36 orang tahanan politik di Madioen. Pelita Rakjat

Septian Dwita Kharisma 


Sabtu, 19 April 2025

Sunario Sastrowardoyo

Soenario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional manifesto 1925 dan Kongres Pemuda II. Soenario lahir di Madiun pada tanggal 28 Agustus 1902. Sejak kecil Soenario sudah bersekolah di sekolah Belanda, karena ia adalah anak dari pasangan Sutejo Sastrowardoyo yang merupakan mantan wedana di Uteran dan Suyati Kartokusumo.

Beliau sejak kecil tinggal di Madiun, beliau masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak atau Frobelschool pada Tahun 1908. Kemudian masuk Europeesche Lagere School (ELS) setingkat seperti SD namun harus ditempuh selama 7 tahun pada Tahun 1909. Kemudian 

melanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan hanya 1 tahun disana. Kemudian beliau pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya di Rechtschool, selain belajar disana ia juga memahirkan bahasa Prancis. Setelah beliau lulus pada 1923, beliau melanjutkan sekolahnya di negeri Belanda atas biayanya sendiri. Beliau di terima di Universitas Leiden yang merupakan perguruan tertinggi tertua di Belanda. Pada Tahun 1925 beliau mendapat gelar Mr. atau Meester in 

de Rechten yang berarti ahli dalam ilmu hukum (Fitri, Melinea, & Zuhri, 2021)

Sumber: Yusuf Perdana dan Rinaldo Adi Pratama, SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL

INDONESIA Penerbit Lakeisha 2022


Pendopo  eks Kawedanan Uteran, Madiun

Laporan Belanda tahun 1905 meminformasikan bahwa  rumah wedono Uteran juga dipakai sebagai tempat penyelamatan benda-benda purbakala. Sementara menurut laporan tahun 1935, rumah wedono Uteran juga
dimanfaatkan sebagai tempat rapat bagi perkumpulan para tenaga kesehatan yang sedang menghadapi wabah Tuberculose.