Tampilkan postingan dengan label Kraton Surakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kraton Surakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2025

Gelar Sentana dan Abdi Dalem Kraton Kasunanan

Karaton Surakarta Hadiningrat (Kraton Solo) memiliki sistem gelar dan pangkat yang diatur secara hierarkis, dimana gelar dan pangkat yang lebih tinggi ditulis paling atas.

Berikut adalah aturan gelar dan pangkat yang diberikan oleh Raja kepada para abdi dalem yang bukan berasal dari trah (keturuanan) Dalem:

1. Sentono Dalem (Keluarga Raja)
- Pangeran Sepuh: Diberi gelar Kangjeng Pangeran Arya (KPA.)
- Pangeran: Diberi gelar Kangjeng Pangeran (K.P.)
- Sentana Riya Inggil: Diberi gelar Kangjeng Raden Riya Arya (KRRA.)
- Sentana Riya: Diberi gelar Kangjeng Raden Arya (KRA.)
- Sentana Riya Putri: Diberi gelar Kangjeng Mas Ayu (KMAY.)

2. Abdi Dalem Kakung (Laki-laki)
- Bupati Riya Inggil: Diberi gelar Kangjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT.)
- Bupati Sepuh: Diberi gelar Kangjeng Raden Tumenggung (KRT.)
- Bupati Anom: Diberi gelar Raden Tumenggung (R.T.)
- Panewu: Diberi gelar Mas Ngabehi (M.Ng.)
- Mantri: Diberi gelar Mas Ngabehi (M.Ng.)
- Lurah: Diberi gelar Mas Lurah (M.L.)
- Jajar: Diberi gelar Mas (M.)
- Magang: Tidak memiliki gelar khusus.

3. Abdi Dalem Putri (Perempuan)
- Bupati Riya Inggil: Diberi gelar Kangjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT.)
- Bupati Sepuh: Diberi gelar Kangjeng Mas Tumenggung (KMT.)
- Bupati Anom: Diberi gelar Nyi Mas Tumenggung (NyiMT.)
- Panewu: Diberi gelar Nyi Ngabehi (Nyi Behi)
- Mantri: Diberi gelar Nyi Ngabehi (Nyi Behi)
- Lurah: Diberi gelar Nyi Mas Lurah (Nyi.L)
- Jajar: Diberi gelar Nyi

Gelar-gelar ini mencerminkan status sosial dan tugas yang diberikan oleh Karaton kepada abdi dalem.

Gelar yang lebih tinggi biasanya diberikan kepada mereka yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam struktur pemerintahan Karaton. 

Sistem gelar ini adalah bagian penting dari budaya dan tradisi Karaton Surakarta, yang menjaga nilai-nilai adat istiadat dan kesetiaan kepada Raja dan Karaton. 


Sumber: Tim Digital Media Center Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kamis, 15 September 2011

Katjilakaan Rombongan Soesoehoenan


Katjilakaan Rombongan Soesoehoenan 

SK Darmokondo 4 September 1916.
Kelamarin pagi Sri Paduka Kanjeng Soesoehoenan hendak bertjengkerama ke pesanggrahan Ngeksipoerno, kedjadiannja tiada ke Ngeksipoerno, tetapi ke pesanggerahan M.N.Paranggoepito, afdeling Wonogiri (deket laoet kidoel).

Pada berangkatnja Sri Padoeka itoe, pengiring pengiringnja jang mengendarai auto sewaan mendapat bahaja amat ngeri, jaitoe dimana djalan desa Krisak sebelah lor Wonogiri autonja soedah langgar gerobag sehingga auto dan gerobagnja mendjadi binasa.

Penoempang penoempangnja :
RM Ng. Djojodarsono dapat loeka patah kedoea toelangnja poendak kanan kiri.
RM A Prijowinoto loeka kedoea kakinja.
R Ng. Atmomarsono loeka di batoeknja.
RM Ng Poerwodipoero badannja sama babak
R. Ng. Atmosoewido loeka dengkoelnja.
RM Ng Poerwodipoero dan R Ng. Atmosoewido boleh dikata loeka ringan sadja, sehingga kedoenja masih dapat meladjoetkan mengiring Sri Padoeka. Sedang lainnja terpaksa berhenti dipelihara dokter.

Adapoen schauffeurnja auto selamet, tjoema si knecht jang hantjoer badannja. Orang mengira knecht itoe tidak boleh diharap hidoepnja.

Kalamarin itoe Directeur kami toean Dr. Wirjohoesodo djoega menghiring Sri Padoeka, tetapi berkendaraan auto lain dan djalannja soedah mendahoeloei djaoeh, djadi tidak tahoe antara ketjilakaan itoe. Maka jang memberi tolongan Dokter di Wonogiri toean Boedihardjo.

Selain ketjilakaan orang ada poela ketjilakaan poesaka Kangdjeng Kijai jang diampil di dalam auto itoe djoega soedah roesak bangoennja.

Sekarang jang loeka itoe masih sama di dalam rawatan. Soenggoeh terlaloe soesah boeat RM A Prijowinoto seorang jang telah djaoeh oesia beroleh loeka jang begitoe roepa.

Kedjadian jang di atas itoe chabarnja disebabkan dari gegabahnja schauffeur.