Senin, 11 Juni 2018

Menelusuri jejak Laskar Diponegoro di Madiun

Masjid Baitul Karim

Menelusuri jejak Laskar Diponegoro di Manisredja dan sekitarnya

Jejak Pesantren Mbah Suhud
Berawal dari pengamatan pada peta kuno 1922 di wilayah Manisrejo, ditemukan titik-titik simbol bangunan dan tempat umum yang cukup penting dalam penelusuran sebuah kekunoan, yaitu  rumah wedana Kanigoro, masigit (masjid), makam Islam dan Tionghoa. Dalam penelusuran yang dilakukan oleh sahabat hvm dan Lesbumi NU kota Madiun, maka titik-titik tersebut menunjuk pada :
1. Masjid Baitul Karim, berarsitektur khas masjid Djawa dengan atap tumpang, yang berbentuk meru, cukup khas. Menurut beberapa informasi masjid ini di bangun tahun 1911 M atau sumber lain th 1913 M

2. Makam umum, ditemukan bekas pondasi masjid pesantren Mbah Suhud dan kebun yang terdapat sebuah pohon sawo tua, ini mengingatkan pada perjuangan para pengikut Diponegoro setelah perang Jawa. Dimana para pengikut Diponegoro terus berjuang melawan Belanda dengan mendirikan masjid dan pesantren di daerah masing-masing dengan sebuah tanda khusus,  didepan masjid ditanam pohon Tanjung dan sawo.
3. Belik / sendang di pinggir sungai dekat Masjid Mbah Suhud, dulu biasanya digunakan masyarakat sekitar dan para santri untuk mandi, mencuci dan keperluan memasak.  (Sekarang belik sudah tertutup tanah). Menurut informasi dari keluarga, ada satu santri yang masih ada, yaitu kyai TASLIM  mendirikan Pesantren di  Gonggang Poncol, Magetan.

Dulu pada jaman Belanda di daerah Tanjungsari (daerah Jl. Tanjung raya sekarang) sering dijadikan pusat pergerakan para pejuang, hal itu segera diketahui oleh Belanda. Akhirnya masjid di pindah ke Dungus, Wungu Madiun, sekitar pasar dungus ( diperkirakan masjid Al Istiqomah atau masjid Mbah Muhbib Muthohar). Konon di Masjid Dungus ini masih menyimpan kayu yang usianya ratusan tahun sama dengan kayu yang ada di Masjid Baitul Karim bagian dalam  atap meru. Ada pendapat lain bahwa masjid di pindah ke daerah Kediri.

Menurut informasi, Pesantren ini dulu dijadikan tempat berlindung atau menggalang kekuatan dari salah seorang Senopati Pangeran Diponegoro. Dinamakan daerah Tanjungsari karena dulu banyak ditanam pohon tanjung dan  pohon sawo (Red : sebagai penanda pengikut Diponegoro). Hampir semua masjid kuno di Madiun masih ada kekerabatan diantaranya : Masjid Bantengan, Masjid Tempursari, Masjid Kanigoro Kampir, dan termasuk Masjid Sewulan dll.

4. Dimakam ini juga sumare besan dari KH. Hasyim Asy`ari namanya Mbah Abdullah Mubin, putri beliau bernama “Hj. Siti Bariyah” menikah dengan KH. Yusuf Hasyim (pamannya Gus DUR). KH. Yusuf Hasyim putra bungsu KH. Hasyim As`ari adik dari KH. Wahid Hasyim. Konon saat Mbah Abdullah Faqih (putra Mbah Suhud)  masih sugeng, GUS DUR (kecil) sering sowan ke beliau.
Banyak tokoh ulama sepuh yang dimakamkan disini, selain Mbah Suhud Kakung & putri, Mbah Abdulah Mubin, Mbah Abdulah Fakih, juga Mbah Darussalam imam masjid besar Madiun.
Juga banyak kijing dan nisan batu kuno dengan tulisan Arab yang sudah aus, hal ini menunjukan bahwa makam ini sudah cukup tua usianya.
Masjid Al Mubarok

5. Masjid Al Mubarok, Kampir kel. Kanigoro, melihat arsitektur masjid ini juga cukup khas masjid Jawa dengan atap tumpang dan bentuk meru sebagai kemuncaknya, namun kelihatan sudah banyak yang direnovasi hingga nuansa kekunoan pada masjid ini kurang menonjol, namun jika kita masuk kedalam ruang utama maka akan tampak kekunoan dari pilar, plafon, palang kayu atas dan tentunya suasana hening/sidem di dalamnya. 
Menurut sedikit catatan yang ditemukan : masjid ini didirikan oleh Mbah Imam Mubarok pada tahun 1836 M, beliau adalah laskar Pangeran Diponegoro dari dari pesantren Nglasem Jawa Tengah. 

Makam Tionghoa Manisrejo

6. Bongpay / makam Tionghoa tunggal di Manisrejo. 
Sebuah makam tionghoa di Wilayah Kel Manisrejo, tepatnya di kebun tepi barat sungai dekat jl. Kelapa manis. Ada plakat bertuliskan huruf China, yang artinya sebuah makam seorang tuan dan nyonya bermarga Tan tahun 1851. Ada kemungkinan beliau seorang kapiten China. 

Dirangkum dari hasil observasi langsung dan narasumber :
Mas Yono (juru pelihara makam)
Informasi Mas Lutfi, Mas Hasan, hasil diskusi sahabat IPNU, Kompasmadya, dan Lesbumi NU. 
Mohon Koreksi, Masukan dan saran untuk melengkapi penelusuran sejarah keberadaan laskar Diponegoro dan tokoh-tokoh ulama sepuh Madiun dan sekitarnya. 

Minggu, 27 Mei 2018

Kyai Sari Muhamad dan Jeruk Nambangan Yang Terlupakan

Mushala Kyai Sari Muhamad
Kisah Kyai Sari Muhamad dan Jeruk Nambangan Yang Terlupakan

Kyai Sari Muhamad (1800 an - 1937 M) , seorang ulama terkemuka di lingkungan Jambewangi Gg. pesantren wilayah Kelurahan Nambangan kidul (Jl. Kaswari sekarang) mendirikan pesantren Jambewangi , pada saat itu beliau mempunyai kebun jeruk yg dikelola para santri, para santri kebanyakan berasal dari daerah Takeran, rupanya jeruk ini kemudian di kembangkan di daerah Takeran dan sekitar dengan sebutan jeruk Nambangan yg cukup terkenal tersebut. Namun jeruk tersebut di daerah Nambangan sendiri sudah punah keberadaanya. 
Kyai Sari Muhamad selain mumpuni dalam bidang agama beliau juga dikenal punya kelebihan dalam hal kewaskitaannya, maka suatu waktu dimintai bantuan oleh Kanjeng Bupati Ronggo di Madiun untuk membantu Bupati Trenggalek atau ada yg mengatakan Bupati Ngawi untuk mengalahkan patihnya yg mbalelo atau melawan sang bupati. Sebuah Mushala / langgar tiban, tiba-tiba berdiri di depan ndalem kyai Sari Muhamad yang merupakan hadiah dari sang Bupati.
Mushala tersebut hingga sekarang masih ada walaupun sudah banyak perubahan yg semula berupa langgar panggungan, sekarang sudah permanen. Gebyok ber motif sulur bunga dan sebuah relief kaligrafi yang oleh masyarakat sekitar disebut "jolompong" bergambar harimau yg masih tersisa selain ndalem Kyai yang sekarang menjadi kediaman putra wayah. Ada tradisi unik di lingkungan mushala ini, konon jika ingin berhasil dalam hal pendidikan atau mendapat pekerjaan agar bermunajat kepada Allah SWT dan membersihkan "jolompong" tersebut. 
Mushala Kyai Sari Muhamad sudah berpindah dari tempat aslinya sudah 3 kali yang terakhir ditempat sekarang yaitu bernam Mushala Baitus Syafaat, hal ini disebabkan karena kurangnya penerus  Mbah Kyai Sari Muhamad, termasuk kurangnya yang mau mengurus mushala dan jeruk Nambangan, serta hal ini akibat adanya geger gerombolan PKI Muso 1948. Kyai Sari Muhamad, mempunyai 3 istri salah satunya merupakan putri triman dari perdikan Pacalan, yang sering disebut Nyai Pacalan. 
Selain Napak tilas Kyai Sari Muhamad yang hidup di era kolonial sekitar tahun 1900 an, teman-teman Historia Van Madioen dan Lesbumi NU Kota Madiun juga mengunjungi beberapa titik petilasan tokoh yang babat lingkungan ini yaitu : Mbah Kyai Ageng Jambewangi, yang makamnya sekarang sudah terhuruk oleh tangkis sungai Madiun, juga mengunjungi punden Mbah Dalang dan tokoh atau guru penghayat kepercayaan "Sapta sila" Mbah Diran Sastrowidjaya di sekitar makam Jodang Nambangan kidul.
Dengan kegiatan ini, kita semua berharap keberadaan peninggalan Mbah Kyai Sari Muhamad baik berupa bendawi maupun petuah dan tradisi dapat lestari serta berkembang seperti waktu dulu lagi. Jeruk Nambangan sebagai ikon Kelurahan Nambangan dapat dibudidayakan kembali  dan kehidupan masyarakat Jambewangi yang cukup agamis waktu itu dapat mewarnai kembali.  
Narasumber : Bapak Mustakim ketua RW, Bapak Kabul (cucu), Bapak Mulyono (cucu) dan Bapak Djumono (sesepuh) Mbah Soeparsih (putra Mantu)