Menelusuri Jejak Perdikan Giripurno Gunung Bancak Magetan |
Pagi cerah Rabu 9 Maret 2016 tak berlangsung lama,
sang Ditya Kala Rahu sudah siap dengan taringnya segera menerkam dan memangsa Sang Surya,
mengetahui hal tersebut kali ini tidak menyurutkan penduduk bumi Purabaya untuk
menjalankan aktivitasnya, hanya sebagian kecil mbok-mbok bakul di pasar sengaja
tidak menggelar dagangannya, bukan karena takut pada sang Ditya tapi lebih
karena ingin ikut melaksanakan puja bakti sembahyang Kusuf Gerhana Matahari
yang telah diumumkan oleh rama Kyai di sanggar
pemujaan (masjid) sehari sebelumnya.
Pagi itu cuaca sangat cerah namun tak berapa lama sang Surya mulai pucat
dan akhirnya hilang hampir seluruh tubuhnya, untuk wilayah Brangwetan tanah
Jawa, Kotapraja Madioen khususnya diperkirakan terjadi gerhana matahari 85,17 persen. Tidak terdengar suara kentongan
bertalu-talu seperti puluhan tahun lalu, pada pukul 07.00 wib, sebagian besar
sanggar pamujan Masjid di bumi Purabaya melaksanakan sholat Kusuf Gerhana Matahari,
diluar perkiraan tanpa rasa ketakutan
akan keberadaan Ditya Kala Rahu yang berwajah seram siap memangsa sang Surya
mpenduduk bumi justru tampak gembira berbondong
bondong mendatangi sanggar pamujan masjid
untuk melaksanakan sholat kusuf Gerhana Matahari, kiranya Batara Whisnu
telah melaksanakan tugasnya dengan baik
sang Surya telah kembali bersinar
sempurna seperti sedia kala.
Sesuai dengan rencana sehari sebelumnya kami tim Kompas Madya dari bumi Purabaya segera meluncur ke arah peraduan abadi GKR Maduretno dan Pangeran Ronggo Prawirodirjo III di Gunung
Bancak, Desa Giripurno Kabupaten Magetan. Setelah sampai dikaki Gunung Bancak
kami segera sowan ke rumah Mbah Laimah Putri untuk pinjam kunci Pesarean
Gunung Bancak. Medan tanjakan 75
derajat dan tikungan tajam segera kami
terjang tanpa menghiraukan pemandangan yang sebenarnya sangat menakjubkan di
sepanjang perjalanan sekitar 2,5 KM menuju Makam Ratu GKR Maduretno. Sampai di
Pesarean kami sejenak tertegun, karena disana sudah ada beberapa kelompok
peziarah dari berbagai wilayah di Madiun yang memanfaatkan momen hari gerhana
Matahari itu, tampak rombongan dengan pakaian khas orang Hindhu, Rombongan
masyarakat umum, dan anak-anak muda yang sekedar bersantai menikmati suasana
teduh dan damai di taman pesarean Gunung Bancak. Kami segera memasuki cungkup
utama dan berdoa dan tahlil dipimpin oleh Mbah Harto Panembahan Sekar Tanjung.
Kemudian kami segera blusukan di areal Makam GKR
Maduretno, sesuai pengamatan tim Blusukan : Didalam cungkup utama terdapat 3
nisan yang tengah adalah makam GKR Maduretno , sebelah kirinya Makam Ronggo
Prawirodirjo III dan sebelah kanan tertulis makam Abdi dalem, selain itu ada 4
makam tanpa nama yang hanya ditandai nisan kecil. Sedangkan makam mbah Kaliyah berada di sebelah bsrat cungkup utama, kemudian konon juga terdapat 100 makam prajurit Soreng yang ditandai dengan nisan-nisan batu yg sudah berserakan letaknya. Prajurit Soreng merupakan prajurit khas milik kabupaten Maospati sebagai penderek dari Gusti Ratu Maduretno.
Di areal pesarean terdapat 2 pohon tanjung seolah
sebagai pintu masuk cungkup utama dan 1
pohon sawo kecik tua, hal ini mengingatkan kami pada ciri khas masjid-masjid
kuno kyai-kyai shaleh era Mataram.
Di areal makam banyak ditemukan batu-batu balok
persegi, juga struktur pondasi batu persegi memanjang yg sdh tertutup tanah,
yang bisa di asumsikan sebagai fragmen candi. Juga di pinggir jalan menuju
Pesarean terdapat batu lapik arca.
Di bawah pohon tanjung ada arca Dwarapala yang sudah
rusak sulit dikenali bentuknya
Disekitar makam banyak jenis batuan lava beku dan jenis
batuan endapan ( ada yang berasumsi sebagai semen purba )
Kebanyakan Arsitektur rumah Kampung (srotong) di Desa Giripurno mempunyai arsitektur yg
sedikit berbeda dengan gaya rumah limasan pada umumnya terutama bagian pasangan
kuda-kuda dan gewel, hal ini konon terkait dengan keberadaan kanjeng ratu Maduretno di gunung Bancak
Diwilayah sekitar Gunung Bancak banyak ditemukan situs
purbakala diantaranya, situs Desa Sampung, Desa Pojok, Desa Ngunut, Desa Bogem
dll.
Dalam penelusuran Tim Kompas madya tersebut belum ditemukan secara pasti letak bekas
ndalem kyai perdikan, namun dari informasi Bapak Kades bahwa Ndalem Ndoro Kyai Ageng letaknya persis sekarang digunakan sebagai kantor Desa Giripurno, sedangkan Masjid dan areal pesantrennya terletak dibelakang Kantor Desa. Masjidnya kira-kira masjid Baitul Mujahadah yang sekarang. Apalagi sesuai dengan toponim dusun sekitar kantor desa ini disebut dukuh Santren.
Sesuai daftar silsilah Kyai Perdikan Giripurno yang
dipasang di cungkup GKR Maduretno terdapat perbedaan angka tahun yang terdapat
rentang waktu cukup lama jika dibanding dengan tulisan yang terdapat pada Buku
Sejarah Kabupaten Madiun tahun 1980 dan Banjarsari-online yang merupakan Blog keluarga Kyai Bin Umar, ayah
dari Kyai Baelawi.
Yaitu Tanggal 17 Desember 1810 Ronggo Prawirodirjo III
gugur dengan tombak sakti ”Kyai Blabar” melawan Pangeran Dipokusumo. Sedangkan sang istri
tercinta GKR Maduretno meninggal (sedo konduran) pada 16 November 1809 mendahului dan di makamkan di puncak gunung Kencana (namn lain Gunung Bancak) dimana kanjeng ratu juga berguru pada Kyai Kaliyah.
Namun dalam silsilah Kyai Perdikan yang di pasang digunung Bancak Kyai Imam Balawi
adalah Kyai Perdikan Pertama yaitu pada tahun 1883 – 1886.
Sedangkan Kyai Muhammad Bin Umar meninggal pada Tahun 1807 M atau 1227 hijriah. Ia mewariskan sebuah masjid, Al-Muttaqin, yang didirikannya pada 29 September 1763 Beliau memimpin Perdikan Banjarsari selama 44 tahun.
Sedangkan Kyai Muhammad Bin Umar meninggal pada Tahun 1807 M atau 1227 hijriah. Ia mewariskan sebuah masjid, Al-Muttaqin, yang didirikannya pada 29 September 1763 Beliau memimpin Perdikan Banjarsari selama 44 tahun.
Ketidak sesuaian ini semoga bisa dijadikan bahan
kajian dan penelitian lebih lanjut baik dari pemerintah, keluarga, komunitas
maupun dari akademisi hingga keberadaan situs Gunung Bancak dapat lestari dan mampu
memberi manfaat ekonomi bagi kesejahteraan penduduk Giripurno dan sekitarnya.
Penelusuran dilaksanakan : Rabu, 9 Maret 2016 bersamaan dengan Gerhana Matahari Total dan
Hari Raya Nyepi
Peserta Jumlah : 13 peserta dari komunitas Historia
Van Madioen (HvM) yaitu, Widodogb, Arfiati, Riski, Januar, Tatang, Andrik
Akira, Soeharto Sosrodipuro, Pak Dhe Sulung, Bu Dhe Sulung, Jans Susetyo,
Risna, Tata, Pak Eko.
Dokumentasi :
pertigaan menuju pesarean kekiri/ jurukunci kekanan |
Suasana Desa Giripurno |
Menuju Pesarean Gunung Bancak |
diantara 2 pohon tanjung depan cungkup GKR Maduretno |
Mengamati arca dwarapala |
fragmen batu |
Batu persegi di Makam Mbah Kaliyah |
Batu jenis lava purba disekitar pesarean |
Kembang sungsang disekitar pesarean |
Tipe nisan kuno |
Warung Kopi Giripurno Gn. Bancak |
Rumah Limasan Khas Masyarakat Giripurno |
|
Desain kuda-kuda gaya khas rumah limasan di Giripurno |
Situs Sampung, lereng gunung Bancak |
Batu Sandung/replika lumbung |
Lapik arca di lereng gunung Bancak |
Makam Mbah kyai baelawi |
Penelusuran Trah Kyai Baelawi di Desa Kedondong , Kebonsari Madiun
Keturunan
Kyai Baidhowi / Kyai Baelawi – Banjarsari mempunyai putra / putri 7 orang yakni
:
1.
Kyai Imam Hidayat – Giripurno
2.
Ki Abdul Latif - Kebonsari
3.
Ki Zakaria (Djokaryo) – dsn. Simun , Sambirejo, Geger Madiun
4.
Ki Munthohar – Kedondong Kebonsari Madiun
5.
Ki Mustofa
6.
Ki Ali Brahim
7.
Ki Kasan Pura – Magetan
Ki Munthohar/Kyai Ali Munthohar/ Eyang Jayengsari mendirikan Masjid Nurul Huda dan Pondok Pesantren, Desa Kedondong Kebonsari Madiun.
Keluarga keturunan Kyai Ali Munthohar juga disebut Trah Eyang Jayengsari
Trah Eyang Jayengsari dalam meneruskan perjuangan dalam bidang pendidikan dan keagamaan sampai sekarang mendirikan yayasan pendidikan Nurul Islam yang mengelola sekolah / Madrasah MI Nurul Islam, Jl. Jayengsari, Ds. Kedondong Kec. Kebonsari Kab. Madiun.
Sumber : http://banijayengsari.blogspot.co.id/
Masjid Nurul Huda Ds. Kedondong didirikan Kyai Munthohar Putra Kyai Baelawi |
Lingkungan Masjid Nurul Huda |
Bedug Masjid Nurul Huda |
Ornamen Masjid Nurul Huda |
Makam Kyai Munthohar 1929, Ds. Kedondong Kebonsari |
Saya masih keturunan dari Ki Moh Bilawi (cucu dari Ki Moh Besari), melalui jalur putra beliau : Ki Abdul Latif, yg merupakan kakek dari nenek buyut saya. Mudah2an suatu saat ada kesempatan nyekar kesana 🙏
BalasHapusSaya juga keturunan dr Ki Moh Baelawi melalui jalur Ki Abdul latif lanjut Ki Mangunarso—> Nyi Faqih Ibrahim—> Ki Hardjosoemarto—>Moh.Syahban —> Prayogo dan saya sendiri.
BalasHapusSaya keturunan Ki Moh Baelawi, kmudian menurunkan Ki Abdul Latif (putra ke 2), Ki Mangunarso (putra ke ..), Ki Mangunatmodjo (putra ke 3), Nyi Siti Koestiyah Soerodjo (putri ke 9), Ki Krisnosoektji (putra ke 2), saya: Nyi Medy Krisnany (putri ke 1)
BalasHapus