Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 05 Oktober 2011

Sejarah Benteng Fort Van Den Bosch, Ngawi



tampak dari belakang Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi
foto tgl 01 Oktober 2011

suasana didalam Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi

Makam di dalam kantor utama dalam Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi
KH. Muhammad Nursalim adalah tokoh pejuang yang ditangkap belanda dan di bawa ke Benteng, karena kesaktiannya beliau tidak mempan ditembak akhirnya oleh tentara belanda dikubur hidup-hidup didalam benteng. 

Makam KH.Moh. Nursalim di dalam Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi

sungai di samping Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi
diseberangnya adalah Desa Ngawi Purba. sebuah desa kuno yang mrupakan cikal bakal Kota Ngawi

pernah di bom jepang , Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi
hingga atapnya ambrol

Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi


Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi




Benteng pendem van den bosch, tangga lantai dua


lorong Benteng van den bosch, ngawi

Sejarah sekitar Benteng Fort Van Den Bosch/ benteng Pendem , Ngawi


Nama Van Den Bosch berkaitan dengan nama ”Benteng Van Den Bosch Di Ngawi, yang dibangun pada Tahun 1839 – 1845 untuk menghadapi kelanjutan Perjuangan Perlawanan dan serangan rakyat terhadap penjajah, diantaranya di ngawi yang dipimpin oleh Wirotani, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diketahui dari buku ”De Java Oorlog” karangan Pjf. Louw Jilid I Tahun 1894 dengan sebutan (menurut sebutan dari penjajah) : ”Tentang Pemberontakan Wirotani di Ngawi”. Bersamaan dengan ketetapan ngawi sebagai Onder – Regentschap telah ditetapkan pembentukan 8 regentschap atau Kabupaten dalam wilayah Ex. Karesidenan Madiun akan tetapi hanya 2 regentschap saja yang mampu bertahan dan berstatus sebagai Kabupaten yaitu Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan. Adapun Ngawi yang berstatus sebagai Onder – Regentschap dinaikkan menjadi regentschap atau kabupaten, karena disamping letak geografisnya sangat menguntungkan juga memiliki potensi yang cukup memadai.


Ngawi sebagai regentschap yang dikepalai oleh Regent Atau Bupati Raden Adipati Kertonegoro pada tahun 1834 (Almanak Naam Den Gregoriaanschen Stijl, Vor Het Jaar Na De Geboorte Van Jezus Christus,1834 Halaman 31)