Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 06 Oktober 2013

Petirtan Dewi Sri (candi Simbatan) dalam Pemugaran BPCB

Petirtan Dewi Sri (candi Simbatan) dalam Pemugaran BPCB
Desa Simbatan Kulon, Kec. Nguntoronadi Kab. Magetan

candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
candi simbatan
kemeriahan bersih desa tiap suro di candi simbatan


PETIRTAAN DEWI SRI
(Candi Simbatan, Sendang Beji)
Desa Simbatan, Kec. Nguntoronadi, Kab. Magetan.

Situs Pertirtaan Dewi Sri secara keseluruhan merupakan suatu bangunan pertirtaan. Hal ini nampak jelas dengan adanya bangunan kolam dan pancuran-pancuran yang ada di bagian-bagian tertentu. Petirtaan Dewi Sri merupakan bangunan kolam yang terletak di bawah permukaan tanah yang sebagian besar komponennya tersusun dari bata. Oleh karena itu, apabila hendak mencapai lantai dasar pertirtaan harus menuruni tangga yang berada di sisi timur.

Pada dinding barat bilik utama terdapat arca pancuran wanita dari bahan batu adesit. Arca wanita inilah yang kemudian oleh masyarakat dianggap sebagai arca Dewi Sri. Di Jawa ada keyakinan bahwa Dewi Sri dianggap sebagai dewi kesuburan dan dihubungkan dengan pertanian. Di pulau Jawa dan Bali Dewi Shri atau Dewi Sri dikenal sebagai dewi bercocok tanam, terutama padi dan sawah, la merupakan representasi dari dunia bawah tanah dan juga bulan, la mengontrol bahan makanan di bumi dan kematian. Oleh karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang sebagai ibu kehidupan.

Mengenai Dewi Sri, menurut cerita legenda bercorak Hindu Jawa yang berkembang di Indonesia diceritakan bahwa Dewi Sri merupakan istri Bathara Guru. Pada suatu masa, Dewi Sri dikejar-kejar oleh dewa bawahan Bathara Guru karena terpesona akan kecantikannya. Karena kesal, dewa bawahan itu pun kemudian dikutuk oleh Dewi Sri menjadi babi hutan. Namun walaupun telah berubah menjadi babi hutan, dewa bawahan tersebut terus mengejar Dewi Sri. Selanjutnya Dewi Sri pun memohon agar ia berubah menjadi tanaman agar tidak dikejar-kejar babi hutan itu lagi, dan kemudian ia menjelma menjadi tanaman padi di sawah. Namun demikian, ternyata babi hutan tersebut terus mengejar Dewi Sri dengan menjadi hama bagi tanaman padi.

Arca wanita yang terdapat di Pertirtaan Dewi Sri yang diidentifikasi oleh masyarakat sebagai Dewi Sri tersebut memakai mahkota yang bentuknya bertingkat mengecil ke atas, dan berhiaskan simbar/antefik. Arca tersebut memiliki prabha dan stela. Rambut arca digambarkan berombak panjang sampai bahu. Pada lehernya terdapat 3 lapis hara, salah satunya bermotif sulur-suluran. Arca tersebut bertangan dua dengan posisi tangan sedang memegang payudara yang berfungsi sebagai pancuran. Air pancuran ini dialirkan dari belakang stela. Air yang keluar dari payudara dapat diidentikkan dengan air susu. Dalam mitologi agama Hindu/Budha, air susu dianggap melenyapkan mala. Kedua lengan arca memakai gelang polos masing-masing 2 buah dan kelat bahu masing-masing dua buah berhias sulur-suluran. Kain digambarkan hingga ke mata kaki. Di kiri kanan pinggang terdapat uncal dan drapery di perut dan kiri kanan kaki. Gelang kaki digambarkan berbentuk sulur-suluran. Arca berdiri di atas padma ganda yang menempel pada stela. Di kiri kanan kaki arca terdapat hiasan padma sederhana yang seolah-olah keluar dari padma ganda.

Berdasarkan pengamatan, arca ini kemungkinan diidentifikasi sebagai Dewi Laksmi, yang merupakan salah satu perwujudan Durga yang biasanya ditempatkan pada petirtaan. Nama lain Laksmi adalah Padmasambhawa (yang lahir dari teratai mekar) atau padmesthita (yang berdiri di atas padma) (Zimmer, 1962: 91). Padma itu sendiri merupakan lambang kelahiran (Santiko, 1985: 292). Dewi Laksmi sendiri merupakan sakti (istri) dari Dewa Wisnu. Biasanya, Dewa Wisnu digambarkan bersama dua saktinya yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Menurut konsep, Laksmi adalah istri tertua dari Dewa Wisnu. Walaupun demikian, sangat susah dimengerti mengapa Arca Sri dan Arca Laksmi dibedakan karena sebenarnya mereka adalah satu (sama) dalam penggambarannya. Sakti-sakti Wisnu tersebut biasanya ditemui bersama Wisnu. Namun tidak jarang juga kita hanya menemui sakti tersebut saja. Bila demikian, maka kita dapat menyebut arca tersebut sebagai Arca Laksmi atau Arca Sri. (Gupte, hal.56).

Penggambaran Laksmi yang ditemui secara individual menurut konsep ikonografi India adalah bila arca tersebut bertangan empat maka ia memegang atribut cakra, sangkha bersayap, teratai dan cemara. Bila arca tersebut bertangan dua maka ia digambarkan sedang memegang sangkha bersayap dan lotus yang ditemani oleh Vidyadharas di kedua sisi. (Gupte, hal. 56). Namun berbeda dengan gaya ikonografi India, Arca Laksmi di Indonesia digambarkan dalam posisi tangan memegang payudara. Selain di Pertirtaan Dewi Sri, konsep Dewi Laksmi dalam sebuah pertirtaan, dapat di temui juga seperti di Pertirtaan Belahan, Mojokerto. Arca Laksmi tersebut digambarkan dengan posisi berdiri dan kedua tangan memegang payudara yang mengeluarkan air. Arca Laksmi ini diapit oleh dua buah jaladwara yang berbentuk padma di sebelah kanan dan kirinya. Di atas Arca Dewi Laksmi terdapat relief kala yang distilir berbentuk sulur-suluran. Gaya penggambaran kala ini adalah merupakan gaya khas kala dari masa Jawa Timur.

Di samping itu, masih terdapat dua buah kala lagi yang sudah lepas dari tempat aslinya. Saat ini kedua kala tersebut berada di depan pintu masuk bilik utama dan pada dinding utara bilik utara. Kala yang berada di dinding utara bilik utara mempunyai spesifikasi. Wajah kala digambarkan ramah (santa), bukan menyeramkan (ugra). Mempunyai rahang bawah. Kedua tangannya digambarkan lengkap dilipat ke depan seolah-olah dalam posisi tengkurap dengan kesepuluh jari di bawah dagu. Namun secara keseluruhan, bentuk rahang lengkap dan kesepuluh jari bebas dalam arti tidak mengenggam sesuatu. Tipe gaya kala seperti ini sangat menarik karena sangat jarang ditemukan di Indonesia. Satu-satunya yang sedikit banyak mendekati gaya penggambaran kala Pertirtaan Dewi Sri adalah bentuk kala pada Candi Singosari Di Malang, Jawa Timur.

Pada bagian teras, terdapat masing-masing 2 buah jaladwara yang digambarkan dengan bentuk tubuh arca laki-laki dan perempuan dalam posisi duduk bersimpuh mengapit pancuran yang menempel pada dinding sisi utara dan selatan. Kepala-kepala arca tersebut dengan alasan demi keamanan pada sekitar tahun 1994 dibawa ke kantor Balai Pelestarian Peninggalan Jawa Timur di Mojokerto karena daerah tersebut rawan pencurian. Arca-arca tersebut secara ikonografis penggambarannya sangat indah dan sempurna. Bahu digambarkan sangat sempurna, garis-garisnya tegas dan tepat. Gaya Arca Jaladwara ini sangat mirip dengan Arca Jaladwara yang ada di Pertirtaan Belahan. Pada sisi barat di kedua bilik terdapat jaladwara berbentuk makara dengan relief wanita, masing-masing bilik memiliki dua buah jaladwara. Relief wanita yang digambarkan dalam masing-masing jaladwara tersebut memiliki gaya berdiri yang berbeda-beda. Hiasan rambut dan alur-alur rambut yang sangat jelas pada relief wanita tersebut sangat bagus. Gaya relief pada jaladwara di Pertirtaan Dewi Sri ini memiliki kesamaan gaya dengan bentuk hiasan dan gaya pada relief di Pertirtaan Jolotundo, Mojokerto.

Sampai di sini, dari tinggalan arkeologis yang ditemui di pertirtaan Dewi Sri, tampak bahwa beberapa komponen pertirtaan ini memiliki persamaan dengan tinggalan arkeologis yang ada di Pertirtaan Belahan dan Pertirtaan Jolotundo, Mojokerto. Dengan demikian, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa pertirtaan-pertirtaan ini kemungkinan besar memiliki keterkaitan dan dibangun dalam satu masa. Bila Candi Belahan dan Pertirtaan Jolotundo dikaitkan dengan masa pemerintahan Dharmawangsa Tguh-Airlangga pada masa abad XXI Masehi (Kinney 1997: 50-67). maka ada kemungkinan bahwa pertirtaan Dewi Sri berasal dari masa yang sama. Adapun latar belakang keagamaan ketiga tinggalan arkeologis tersebut pun sama-sama beraliran Hindu Waisnawa.

Dugaaan latar belakang sejarah pertirtaan Dewi Sri yang ditarik dari bukti-bukti arkeologisnya tersebut di atas dapat juga didukung dari temuan data-data historis lain yang ditemukan di sekitar wilayah Kabupaten Magetan. Seperti kita ketahui bersama, di wilayah Kabupaten Magetan banyak ditemukan prasasti yang berasal dari sekitar abad X Masehi. Prasasti-prasasti tersebut antara lain prasasti Kawambang Kulwan dari Maospati yang sekarang disimpan di Museum Nasional. Prasasti tersebut berasal dari tahun 913 Saka atau setara dengan tahun 991 Masehi. Selain itu, di sekitar daerah ini ditemukan juga prasasti lainnya, di antaranya seperti Prasasti Taji dari Maospati, Prasasti Kledokan dari Maospati, Bulu Gledek dari Maospati, Prasasti dari masa pemerintahan Raja Jayabhaya dari Parang. Sementara itu, Hariani Santiko dalam penelitiannya di Simbatan menemukan miniatur rumah dengan angka 905 dan 917 pada bagian atapnya. Temuan ini diasumsikan oleh Hariani berangka tahun saka sehingga berasal dari 983 Masehi dan 995 Masehi (Santiko, 1985:296). Sementara itu, masih ada beberapa temuan arkeologis yang berupa miniatur rumah dari Simbatan dan sekitarnya yang berasal dari sekitar abad X Masehi, baik yang masih in situ maupun menjadi koleksi Museum Nasional (Haryosudibyo, 1998). Salah satu miniatur rumah/lumbung padi tersebut pada bagian atapnya terdapat angka 919, dan dibaliknya terdapat relief sangkha bersayap. Angka tersebut dapat diasumsikan sebagai tahun 919 Syang setara dengan 997 M. Terkait dengan latar belakang keagamaan pertirtaan Dewi Sri, sangkha bersayap yang terdapat pada miniatur rumah tersebut dapat menguatkan dugaan bahwa pertirtaan Dewi Sri beraliran Hindu Waisnawa. Hal tersebut dikarenakan sangkha bersayap merupakan salah satu atribut Wisnu. Selain itu, miniatur rumah/lumbung padi yang lain bertuliskan sri pala. Di dalam mitologi agama Hindu, sri pala merupakan salah satu atribut yang dipegang salah satu tangan Dewi Mahalaksmi.
(
Wicaksono Dwi Nugroho, M.Hum dan Ririet Surjandari, M.Hum)
foto : Widodogb sastro, Kompas Madya

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Majalah Museum Trowulan.