Tampilkan postingan dengan label babad madiun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label babad madiun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2025

Pemberontakan Jayakatwang

Adanya pemberontakan yang dilakukan oleh Jayakatwang merupakan penyebab runtuhnya Kerajaan Singasari. Pemberontakan itu terjadi pada 1292, ketika masa pemerintahan Kertanegara, raja Kerajaan Singasari yang terakhir. Jayakatwang adalah keturunan Raja Kertajaya, penguasa terakhir Kerajaan Kediri yang dikalahkan oleh Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari. Lantas, apa sebab Jayakatwang ingin sekali menghancurkan Kerajaan Singasari dan bagaimana kronologinya?

Latar belakang Pemberontakan Jayakatwang

Pada 1222, Raja Kertajaya dari Kediri dapat dikalahkan oleh Ken Arok, penguasa Tumapel, dalam Perang Ganter. Setelah itu, Ken Arok mendirikan Kerajaan Tumapel, yang pada akhirnya dikenal sebagai Kerajaan Singasari. Sedangkan Kediri tidak dihancurkan dan diperintah oleh keturunan Raja Kertajaya yang mengakui kepemimpinan Singasari. Sejak 1271, salah seorang keturunan Raja Kertajaya yang bernama Jayakatwang, memerintah sebagai adipati di Gelang-Gelang (sekitar Madiun sekarang). Raja Kertanegara, yang berkuasa di Kerajaan Singasari antara 1272-1292, telah mengambil beberapa langkah untuk menjaga hubungan baik dengan Jayakatwang. Salah satunya adalah dengan menikahkan Jayakatwang dengan adiknya, Turukbali. Disebutkan pula dalam Prasasti Kudadu dan Prasati Mula-Malurung bahwa Raja Kertanegara menjadikan anak Jayakatwang yang bernama Arddharaja sebagai menantunya. Dengan begitu, Raja Kertanegara dan Jayakatwang sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan, yakni sebagai ipar sekaligus besan. Akan tetapi, atas hasutan patihnya, Jayakatwang bertekad akan membalas dendam kematian leluhurnya. Oleh sang patih, ditunjukkan dharma seorang ksatria yang harus menghapus aib leluhurnya. Itulah yang menjadi penyebab Jayakatwang akhirnya memberontak untuk menyerang dan membunuh Kertanegara.

Kronologi Pemberontakan Jayakatwang
Kitab Pararaton menyebutkan bahwa dalam usaha meruntuhkan Kerajaan Singasari, Jayakatwang mendapat bantuan dari Arya Wiraraja, Bupati Sumenep yang telah dijauhkan dari keraton oleh Raja Kertanegara. Arya Wiraraja memberitahu kapan waktu yang tepat untuk menyerang Singasari, yaitu ketika sebagian besar tentaranya sedang melaksanakan Ekspedisi Pamalayu. Pemberontakan Jayakatwang dilaksanakan antara pertengahan bulan Mei dan Juni 1292. Prasasti Kudadu maupun Kitab Pararaton menyebut bahwa tentara Kediri dibagi ke dalam dua kelompok untuk menyerang dari arah utara dan selatan. Rupanya, tentara yang menyerang dari utara hanya sekadar untuk menarik pasukan Singasari dari keraton. Untuk meredam para pemberontak yang datang dari utara, Raja Kertanegara memerintahkan menantunya, Raden Wijaya, memimpin serangan. Ketika Raden Wijaya mengejar pasukan Kediri yang terus bergerak mundur, Jayakatwang segera menyerbu keraton dari arah selatan.

Raja Kertanegara terbunuh dalam serangan dan Jayakatwang berhasil menguasai seluruh istana. Gugurnya Raja Kertanegara pada 1292 menandai runtuhnya Kerajaan Singasari dan Jayakatwang kemudian berusaha membangkitkan Kerajaan Kediri. Akan tetapi, sebelum impian tersebut tercapai, Raden Wijaya melancarkan serangan balas dendam pada 1293 dan membunuh Jayakatwang. Setelah itu, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur.

Referensi:

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Eds). (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.

Sumber: kompas . com, Fb : Prapanca’s

Selasa, 26 September 2023

SRIMULAT

                     

R.A.Srimulat


                     Raden Ayu Srimulat Sang primadona Jawa yg berjiwa modern

           (7 Mei 1905 – 1 Desember 1968) 

Adalah pemain sandiwara panggung, pemain film & penyanyi pada era akhir 50-an hingga akhir 60-an. R.Ayu Srimulat adalah anak dari R.M Aryo Rumpoko Tjitrosoma, seorang wedono di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah & R. Ayu Sedah. Lahir di Desa Botokan, Klaten pada 7 Mei 1905. Setelah ibu kandungnya wafat, pada usia 6 tahun Srimulat dibawa ke rumah kakak ayahnya, Raden Mas Sunarjo. Sunarjo waktu itu bekerja sebagai komisaris asisten residen di Klaten. Gadis kecil itu disekolahkan kakaknya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di kawasan Klaseman, Gatak, Sukoharjo. Baru setelah menginjak usia remaja, Srimulat kembali ke rumah ayahnya yg ditunjuk menjadi wedono di Bekonang, Sukoharjo. Ia melanjutkan sekolahnya di Koningin Emma School di Solo. Hanya beberapa bulan mengenyam pelajaran, Srimulat disuruh berhenti sekolah oleh ibu tirinya. Putri ningrat tak perlu sekolah tinggi-tinggi, begitu kata ibu tirinya. Srimulat sangat terpukul. Apalagi ia tak mendapat pembelaan dari ayahnya. Srimulat lantas dipingit. Seperti kisah putri2 bangsawan yg menjalani pingitan, masa remaja Srimulat hanya dihabiskan dlm kungkungan dinding kewedanaan saja. Ia belajar berbagai macam keterampilan dari para abdinya. Usianya baru 12 tahun tapi sudah pintar menembang, menari, & juga membatik. Kadang2 kalau lagi senggang, ayahnya kadang2 mendampingi Srimulat & saudara2nya di saat belajar menari & menembang. Hidup Srimulat penuh dgn suara tembang, bunyi gamelan & gerak tari. Dibandingkan saudara2nya, Srimulat anak yg paling cepat menangkap ajaran kesenian yg diberikan ayah & abdinya. Orang tuanya lalu menikahkan Srimulat dgn seorang kerabat dekat ayahnya bernama Raden Hardjowinoto. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Rumah tangganya tak berlangsung lama. Srimulat diterpa kemalangan secara beruntun. Anaknya yg baru berusia 2,5 tahun meninggal dunia lalu disusul suaminya 3 bulan kemudian. Kesedihannya semakin bertambah saat ayahnya mencari selir2 baru. Muak akan kehidupan feodal priyayi & praktik perseliran di dalam kompleks rumahnya sendiri Srimulat bertekad minggat. Suatu malam ia memutuskan kabur dari rumah. Berbekal uang 3,5 sen ia pergi ke Surakarta lalu ke Yogyakarta. Ia melamar kerja ke dalang Ki Tjermosugondo yg sedang kondang. Setahun kemudian, Srimulat bergabung dgn Ketoprak Candra Ndedari pimpinan Ki Retsotruno yg kebetulan sedang pentas di Alun-alun Utara. R.A.Srimulat mengawali kiprahnya sebagai pemain rombongan ketoprak Mardi Utomo di Magelang & Rido Carito. Ketenarannya menembus baik lapisan atas maupun bawah masyarakat. Srimulat tak segan menari bersama penari2 lokal di sejumlah daerah membawakan tari2an daerah yg tak begitu dikenal. Ia juga bersedia diundang dlm acara tradisional penebangan pohon2 jati tua di sebuah desa di Blora, Jawa Tengah. Srimulat pindah ke panggung Wayang Orang Ngesthi Rahayu yg dipimpin Nyi Murtiasih dari Jawa Timur. Kebetulan suami Murtiasih punya grup orkes yg sering tampil di pesta perkawinan. Srimulat pun diminta bernyanyi dgn iringan musik irama keroncong & Hawaiian. Sewaktu digelar pasar malam di Magelang, ia berjuampa dengan Mannoek, bos penyelenggara pasar malam. Ia pun berkelana dari kota ke kota mengisi panggung hiburan pasar malam. Dalam waktu singkat Srimulat, anak priyayi & gadis pingitan itu, menjelma menjadi perempuan yg mandiri. Ia menentang arus saat itu, menolak menjadi Raden Ayu & memilih menjadi sri mahapanggung atau ratu panggung,. 

Pendiriannya yg keras membuatnya membela mati2an seorang pesinden bernama Nyai Mas Sulandjari yg berhasil memenangkan lomba kontes batik di Pasar Malam Amal Yogyakarta pada 1938. Kemenangan Sulandjari itu diprotes keras para bangsawan Yogyakarta & Surakarta. Apalagi Sulandjari berhasil mengalahkan putri-putri ningrat. Mendengar Sulandjari dihina, Srimulat melawan para bangsawan itu. Melalui wawancara dengan mingguan Darmo Kondho & Penjebar Semangat, Srimulat menyatakan dukungannya kepada Sulandjari sembari mengkritik keras para kaum ningrat. "Siapa yg lebih berhak memberikan penilaian dlm kontes semacam itu?," tanyanya sinis. Di sisi lain, Srimulat pernah dikontrak untuk masuk dapur rekaman oleh perusahaan piringan hitam Burung Kenari, Columbia & His Master's. Suara merdunya yg melantunkan lagu Kopi Susu, Padi Bunting, Janger Bali, dsb. Saat itu hanya kaum berpunya saja yg bisa memiliki gramofon untuk memutar piringan hitam. Budayawan Arswendo Atmowiloto menggambarkan Srimulat sebagai seorang penampil yg meletakkan dasar2 seorang artis modern. "Sikapnya terbuka pada segala jenis tarian. Ia turun ke pelosok, ke pusat keramaian membawakan secara live lagu yg sedang ngetop." Di pentas wayang orang ia tampil di kelompok Srikuncoro. Selain itu, ia juga pernah membintangi film Sapu Tangan (1949), Bintang Surabaja (1951), Putri Sala (1953), Sebatang Kara (1954) dan Radja Karet dari Singapura (1956). Teguh Srimulat. yg merupakan suami terakhir sekaligus suami yg bepengaruh dalam hidup Srimulat. Sukses di panggung, Srimulat kurang berhasil dalam berumahtangga. Tiga kali pernikahannya selalu kandas. Pada tahun 1947 di Purwodadi, Grobogan,Srimulat satu panggung dgn Orkes Keroncong Bunga Mawar dari Solo. Gitaris orkes tersebut bernama Kho Tjien Tiong (dikenal dengan Teguh Slamet Rahardjo). Kedua saling terpikat. Sehabis pentas di Purwodadi mereka resmi berpacaran. Usia mereka terpaut jauh. Teguh jejaka berusia 21 tahun sementara Srimulat berusia 39 tahun. Pada 8 Agustus 1950, R.A.Srimulat menikah dgn Teguh Slamet Rahardjo (Kho Djien Tiong) yg berusia 24 tahun. Pada saat yg sama dibentuk rombongan kesenian keliling bernama Gema Malam Srimulat. Gema Malam Srimulat adalah sebuah kelompok kesenian yg menyuguhkan gabungan antara lawak & nyanyi terutama lagu2 langgam Jawa & keroncong. Penyanyinya waktu itu antara lain Kusdiarti, Suhartati, Ribut Rawit, Maleha, Rumiyati & Srimulat sendiri sedangkan Teguh menjadi pemain gitar & biola. Sebelum memasuki tahun 1957, Gema Malam Srimulat berganti nama menjadi Srimulat Review. Memasuki 1957 namanya berubah lagi menjadi Aneka Ria Srimulat. Salah satu momen bersejarah bagi Srimulat & Teguh adalah keputusan mereka pindah ke Surabaya dari Surakarta sekitar Peristiwa G 30 S. Suatu malam pada 1965, tak lama sebelum geger 30 September, Srimulat berbisik di telinga Teguh Slamet Rahardjo, suaminya. “Sebentar lagi bakal ada ontran2. Pak Jenderal meminta kita untuk berhati-hati. Sebaiknya kita tidak pulang dulu ke Solo untuk waktu cukup lama,” kata Srimulat, dikutip Sony Set & Agung Pewe dalam bukunya, berjudul Srimulat, Aneh yg Lucu.

Saat itu Srimulat sudah dua tahun hijrah dari Solo ke Surabaya. Tak hanya para pelawak & awak Srimulat yg boyongan ke Surabaya, tapi juga berikut semua anggota keluarganya. Boyongan Srimulat besar-besaran ini juga merupakan ide dari Srimulat. Melihat situasi politik di Solo makin panas, Srimulat merasa kelompok mereka harus pindah. “Situasi negara sedang gonjang-ganjing. Sebaiknya seluruh anak panggung & artis kita pindah ke Surabaya,” Srimulat menyampaikan usulnya ke Teguh. Teguh tentu saja kaget bukan kepalang mendengar ide istrinya. Memindahkan belasan orang saja sudah sulit, apalagi memindahkan puluhan anggota Srimulat. Tapi Srimulat terus meyakinkan Teguh. “Jika mereka tak pindah ke Surabaya, aku takut mereka akan jadi korban.” Ketika itu, gesekan antara kelompok2 ‘kiri’ dgn lawan2 politiknya makin sering terjadi. Masing2 kelompok berusaha menarik sebanyak mungkin pendukungnya ke kubunya. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yg punya hubungan dekat dgn Partai Komunis Indonesia (PKI) terus mendesak mereka agar bergabung dengan Lekra. Srimulat & Teguh yg memang tak tertarik dengan politik tidak mau terseret dlm perkubuan itu. Untuk melindungi grup Srimulat, mereka mencari perlindungan ke militer. Kebetulan Srimulat memang dekat dgn sejumlah perwira militer. Kedekatan yg kadang bikin Teguh sendiri tak habis pikir. Kedekatan Srimulat dgn para perwira itu pula yg membuat pertunjukan grup Srimulat pada masa-masa tegang itu sering dijaga tentara. Hijrah Srimulat ke Surabaya itu lah yg menyelamatkan kelompok itu. Srimulat meninggal dunia pada tahun 1968. Sepeninggal dirinya, Aneka Ria Srimulat dilanjutkan oleh Teguh dgn berfokus sebagai grup lawak.

Sumber : Lesbumi NU kota Madiun

Minggu, 22 Agustus 2021

Sejarah Munculnya Dan Perlawanan Kelompok Samin di Madiun Tahun 1908 - 1914

 

Sejarah Munculnya Dan Perlawanan Kelompok Samin di Madiun Tahun 1908 - 1914

(Septian D Kharisma)
Historia van Madioen

Munculnya kelompok Samin di Madiun pada dasarnya adalah imbas dari gerakan kelompok Samin di Blora, pimpinan Samin Surosentiko. Pengikut Samin Surosentiko yang menyebar ke seluruh daerah di Jawa tengah dan Jawa timur termasuk ke Madiun, kelompok  Samin yang menyebar ke Madiun ini membawa isu yang sama dengan gerakan Samin di Blora

yaitu tentang Tanah, Pajak, hutan dan masalah bersifat fundamental yang memang mengarah ke problematika dasar Masyarakat Pribumi (Wong Cilik) yang bertepatan dengan situasi politik yaitu diturunkannya kebijakan tanam paksa dan kerja rodi oleh kolonial Belanda.


Wongsorejo sebagai pengikut Samin Surosentiko menyebarkan nilai-nilai di Saminisme di Jiwan Kabupaten Madiun pada tahun 1908, Wongsorejo selama di Madiun melakukan Propaganda dan penghasutan pada rakyat desa jiwan untuk melawan Belanda dengan cara tidak membayar pajak


Akhirnya Pemerintah Belanda mengutus Bupati Madiun yang saat itu dijabat oleh R.H.T. Kusnodiningrat untuk memadamkan gerakan perlawanan kelompok kelompok Samin pimpinan Wongsorejo tersebut dengan cara persuasive, Cara Bupati Madiun tersebut dapat meredam aktivitas kelompok Samin di Madiun serta membuat Wongsorejo  dua pengikutnya dapat ditangkap. Mereka diasingkan oleh pemerintah kolonial ke luar jawa yaitu Api-api (Pantai Timur Sumatra) lalu dan Pasar Tais (Bengkulu).

Ditangkap dan diasingkannya Wongsorejo, belum dapat sepenuhnya menghilangkan 

ajaran dan perlawanan kaum Saminis, pada tahun 1914 munculah saminis yang bernama Projodikromo yang berprofesi sebagai petani, yang tinggal di dusun Plosorejo Madiun. 

Awalnya Projodikromo merekrut 24 orang untuk mendukung gerakannya, selanjutnya ia melakukan aksi melawan Belanda dengan menipu petugas pajak. Projodikromo berkata pada masyarakat dan pengikutnya bahwa pajak akan dinaikan oleh pemerintah kolonial. 

Aksi tersebut meresahkan pemerintah kolonial akhirnya pemerintah kolonial mengutus kembali Bupati Madiun untuk melakukan pendekatan persuasive pada para pengikut Samin, sehingga sekali lagi kelompok Samin di Madiun dapat diredam dan Projodikromo ditahan di penjara Negara Madiun (Rumah Tahanan Militer atau RTM Madiun di jalan Ahmad Yani Kota Madiun, sekarang)  selanjutnya diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda di luar jawa.


Kelompok Samin pada umumnya dapat diredam dengan mudah dengan pendekatan 

persuasive yang dilakukan oleh bupati Madiun, di kabupaten Madiun gerakan Samin pada tahun 1908 dan 1914 dapat dihentikan secara efektif, melalui intervensi bupati yang bijaksana sehingga berhasil membujuk para penganut Samin untuk keluar dari kelompoknya.

Kebijaksanaan dari pemerintah kabupaten Madiun saat itu dan pembuangan pemimpin kelompok Samin di luar Jawa, membuat kelompok Samin tidak dapat muncul kembali. Hancurnya kelompok Samin di Madiun karena  kolompok samin kurang memiliki pondasi yang kuat dari segi keyakinan dan pemahaman tentang ajaran Samin, sehingga kelompok Samin daerah Madiun dapat di gulung dengan mudah oleh pemerintah kolonial dengan bantuan pemerintah tradisional Madiun / Bupati Madiun.

Di tahun 1914, Pasca Gerakan perlawanan Samin di Madiun ini. Bupati Madiun R.H.T Koesnodiningrat, berhasil menghapuskan kebijakan Kerja Rodi yang dicanangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kebijakan kerja Rodi inilah yang telah membebani rakyat dan membuat rakyat Madiun bergejolak.

*Catatan

1.lokasi penyebaran Ajaran dan kelompok Samin tahun 1908: desa Bedoho, Ngetrep, Bibrik, Gading, Sidorejo, Nangkrik di Kecamatan Jiwan, di desa Tiron dan Pelempayung kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun.

2.lokasi penyebaran Ajaran dan kelompok Samin tahun 1914: desa Simo, Tapellan, Bulakrejo di distrik Madiun, desa Mraoe, distrik Caruban, dusun Plosorejo, desa Simo, dan Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun

*kolom 1 Foto samin surosentiko dan Pengikutnya

*Daftar Pustaka di Kolom 2 dan 3




Senin, 09 Agustus 2021

Tahun Baru Jawa

 SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN


Memadukan penanggalan Śaka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan dengan penanggalan Hijriyah Islam yang mempergunakan peredaran bulan saja sebagai basic perhitungan, pada tahun 1555 Śaka Jawa, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram ke-3 yang memerintah pada 1613-1645 Masehi, mengesahkan adanya kalender baru bagi Tanah Jawa, yaitu Kalender Jawa atau Kalender Kêjawen. Perhitungan tahun tidak dimulai dari tahun 1, melainkan meneruskan perhitungan tahun Śaka Jawa yang sudah menginjak tahun 1555. Ini terjadi tepat pada tahun 1633 Masehi. Sistem perhitungan rumit dan pelik Śaka Jawa hampir semua di adopsi namun kebanyakan sudah diubah namanya menjadi nama-nama Arab. Bahkan nama bulan pun juga mempergunakan nama-nama Arab. Paling kentara adalah penamaan nama hari yang semula mempergunakan nama Kawi diubah menjadi nama Arab.


1. Radite – Ahad (logat Jawa : Ngahad)

2. Soma – Itsnain (logat Jawa : Sênen)

3. Anggara – Tsalatsah (logat Jawa : Sêlasa)

4. Budha – Arba’ah (logat Jawa : Rêbo)

5. Rêspati – Khomsah (logat Jawa : Kêmis)

6. Sukra – Jama’ah (logat Jawa : Jumngat)

7. Tumpak – Sab’ah (logat Jawa : Sêbtu)


Nama-nama bulan pun juga diubah dari Kawi ke Arab.


1. Warana– Syura (logat Jawa : Sura)

2. Wadana– Shofar (logat Jawa : Sapar)

3. Wijangga– Rabi’ul Awwal/Maulid (logat Jawa : Mulud)

4. Wiyana– Rabi’ul Akhir/Ba’da Maulid (logat Jawa : Bakda Mulud)

5. Widada– Jumadil Awwal (logat Jawa : Jumadilawal)

6. Widarpa– Jumadil Akhir (logat Jawa : Jumadilakir)

7. Wilapa– Rojab (logat Jawa : Rêjêb)

8. Wahana– Arwah (logat Jawa : Ruwah)

9. Wanana– Ramadlan (logat Jawa : Ramêlan/Pasa)

10. Wurana– Syawal (logat Jawa : Sawal)

11. Wujana– Dzulqoidah (diganti Sêla)

12. Wujala– Dzulhijjah (diganti Bêsar)


Masih banyak nama-nama Kawi diganti menjadi nama Arab yang cenderung Islami, termasuk pembagian perhitungan waktu dalam Jawa semenjak jaman Buda yang dibagi menjadi 5 waktu dalam sehari semalam diganti menjadi :


1. Maheśwara diganti Ahmad (logat Jawa : Akmad)

2. Wiṣṇu diganti Jabarail

3. Brahmā diganti Ibrahim

4. Śrī diganti Yusuf(logat Jawa : Yusup)

5. Kāla diganti Izrail(logat Jawa : Ngijrail)


Pendek kata, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma ingin menunjukkan kepada dunia Islam, khususnya kepada Kekhalifahan Turki Utsmani yang merupakan pusat Kekhalifahan Islam pada waktu itu bahwa beliau benar-benar berkomitmen menyebarkan Islam di Tanah Jawa tidak hanya setengah-setengah. Karena upayanya tersebut, beliau mendapat gelar Sultan dari penguasa Ka’bah pada 1641 Masehi. Sebelumnya beliau hanya mempergunakan gelar Kangjêng Susuhunan Prabhu Anyakrakusuma. Kalender Jawa yang disahkan oleh beliau resmi menjadi kalender Jawa-Islam alias Kalender Kêjawen. Demikian kenyataan dan faktanya.


Pada awalnya ketika disahkan, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, dimulai pada hari Jum’at Lêgi. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Jamngiyah (Jam’iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Ajugi, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Jum’at Lêgi.


Pada 1 Sura tahun Alip 1675, dimulai pada hari Kêmis Kliwon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Kamsiyah (Khamsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Amiswon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Kêmis Kliwon.


Pada 1 Sura tahun Alip 1795, dimulai pada hari Rêbo Wage. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba’iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Aboge, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Rêbo Wage.


Pada 1 Sura tahun Alip 1915, dimulai pada hari Sêlasa Pon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Asapon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Sêlasa Pon.


Masa kita sekarang telah mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah). Ini berlaku semenjak 19 Oktober 1982 Masehi. Celakanya di pedesaan Jawa masih banyak yang tidak memahami pergantian Kurup (Huruf) ini sehingga mereka tetap mempergunakan perhitungan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba’iyyah) atau Aboge. Hasilnya, semenjak tahun 1915 Jawa atau 1982 Masehi, tanggal 1 Sura di pedesaan akan maju satu hari. Menjadi kewajiban kita sebagai pemerhati budaya untuk meluruskan hal ini agar tidak berlarut-larut sehingga menyebabkan adanya kesalahan fatal dalam perhitungan hari karena kalender Jawa menyangkut dengan pemilihan hari baik dan buruk.


Sesuai Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) atau Asapon, tahun baru Sura atau tanggal 1 Sura tahun Alip 1955 kali ini, jatuh pada hari Sêlasa Pon atau bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021. Yang masih mempergunakan Aboge tahun baru Sura mempergunakan hari Rêbo Wage tanggal 11 Agustus 2021, dan perhitungan itu salah. Pelurusan perlu digalakkan.


Sugêng warsa enggal Kêjawen


Sêlasa Pon, 1 Sura 1955 Alip, Wuku Kulawu, Windu Sangara.


Cantrik Patêmbayan Jawadipa boleh ikut memperingati tahun baru Kêjawen. Sêsajian dan ritual segera saya berikan via Group Cantrik Sari, Cantrik Jêro dan Cantrik Jaba.


Mugi tansah pinaringan têguh rahayu slamêt tan ana baya-bayane, luput ing sambekala. Tansah satuhu rahayu. Sarwa hayu!


Ki Ajar Jawadipa.


Bogor, 31 Juli 2021 sore (Sudah masuk malam Minggu Wage)

Copas : Damar Sasangka