Tampilkan postingan dengan label sejarah_kolonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah_kolonial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 September 2025

Koetil: Akhir Tragis Jagal Gerakan Tiga Daerah

Koetil: Akhir Tragis Jagal Gerakan Tiga Daerah



Senin, 14 Februari 2022 | 18:26 WIB

NAMA Koetil bagi masyarakat Tegal dan Brebes saat membincang kaitannya dengan Peristiwa Tiga Daerah 1945 senantiasa mengingatkan sebagai algojo yang bertanggung jawab atas kematian di wilayah Talang. Khususnya di broeg abang bendungan Ekoproyo Talang. Selebihnya, publik tidak mengetahui kiprahnya dalam dinamika revolusi 1945. Hingga namanya lebih populer ketimbang tokoh-tokoh politik lainnya seperti Widarta, K. Midjaja atau Mohammad Nuh. Ini diakui oleh Amir, seorang tokoh Gerakan Tiga Daerah melalui catatan manuskrip yang dikumpulkan dalam file arsip Anton Lucas dalam kumpulan arsip Flinders University :

Dia muncul secara mendadak sebagai tokoh penggerak massa rakjat yang menjadi sangat populer dan disegani. Karena dia selalu muncul di tengah-tengah gerakan massa, maka dia lebih dikenal rakjat daripada pemimpin Tiga Daerah yang sebenarnya sehingga Tiga Daerah dikenal sebagai Gerakan Kutil

Peristiwa Tiga Daerah akhirnya diidentikkan dengan nama Koetil. Lalu siapa sebenar Koetil, hingga akhirnya berakhir tragis diujung pelor regu tembak mati tahun 1951 setelah sebelumnya malang melintang dan dicap sebagai pesakitan politik. Tidak ada yang mengetahui bahwa saat tahanan politik Tiga Daerah dikumpulkan di penjara Wirogunan Yogyakarta bubar akibat Agresi Militer I 1947, hingga sempat melarikan diri ke Batavia dan tertangkap di sana tahun 1950. Yang belum banyak diketahui bagaimana ia tertangkap pendudukan Belanda di Batavia dan diserahkan ke pemerintahan Republik Indonesia Serikat tahun1950.

Ia lebih populer dengan sebutan Koetil. Makna ini lebih ke arah peyoratif. Dalam beberapa hal istilah “kutil”  merujuk pengertian nama bintil kecil yang memenuhi kulit. Dari tuturan Anton Lucas pada One Soul One StruggleRegion and Revolution in Indonesian (1991), Kutil memiliki bintil-bintil di mukanya, yang kemudian hilang sesudah dewasa. Makna kedua, arti kutil dimaknai sebagai tukang ngutil alias mengambil barang tanpa sepengetahuan si pemiliknya. Atau tukang copet. Namun penulis lebih berpendapat bahwa nama Kutil disematkan karena ada paraban (julukan) yang melekat secara fisik.

Lalu siapakah nama sebenarnya Kutil? Nama aslinya Sakhyani. Tetapi dalam kutipan Pengadilan Negeri Pekalongan No. 1/1950 menyebutkan nama Amat Saleh sebagai nama lain dari Kutil. Dari beberapa nama mungkin Syakhani yang banyak disebut sebagai nama asli Koetil.

AMRI Talang dan Panggung Tiga Daerah 

Koetil menjadi pencerminan mobilitas sosial saat ruang pentas Revolusi 1945 memberikan panggung bagi orang-orang biasa menjelma sebagai aktor-aktor yang diperhitungkan dengan sepak terjangnya. Ini mengingatkan film satire naskah Asrul Sani dan disutradarai MT Risjaf tentang Nagabonar dengan aktor Dedy Mizwar. Jagad Revolusi 1945 yang heroic dijungkirbalikkan pencopet Nagabonar. Tanpa terkecuali dengan Koetil yang semula tukang cukur di Kajen hingga ke Talang hingga menjadi komandan laskar Angkatan Moeda Repoeblik Indonesia (AMRI) Talang dalam bulan Oktober 1945. Posisi sebagai pimpinan badan kelaskaran serta pengaruhnya di wilayah Talang menjadikan dirinya bak raja seperti layaknya seorang Gubernur Jenderal lengkap dengan uniformnya (lihat arsip laporan Algemene Politie Semarang Hoofdcommisariat Crimenele Recherche, 8 Juli 1949).

Laporan dari Dinas Reserse Kriminal menarik soal catatan tentang Kutil yang saat peristiwa Tiga Daerah dicap sebagai algojo bersama pengawal lainnya yang bernama Moekri. Ketenaran dan kekejaman Kutil sebagai algojo dikenang dalam memori Mr. Besar Martoatmodjo saat Koetil menggerakkan massa Kabupaten Tegal menuju Tegal Kota 4 November 1945:

             “…..jam 6 sore tibalah mereka (ber) selempang Jnur kuning, seraya bersama-sama bertahlil : La illa haillillah yang tak ada putus-putusnya, sehingga menggetarkan hati sungguh-sungguh bagi setiap orang yang mendengarkan dengungan suaranya yang begitu seram. Mereka bersenjatan cocolan bambu, keris, pedang dan sebagainya. Sedang pemimpin-pemimpinnya berpakaian yang serba seram yaitu kebanyakan berpakaian serba hitam serta ikat kepala hitam dan bercelana komprang dan bersenjata pedang. Ada juga yang naik kuda”.

Korban eksekusi Koetil dan kelompoknya menimpa pada Mardjono Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Tegal yang menerima penyerahan kedaulatan kekuasaan dari pemerintahan status quo. Mardjono berkeinginan menunjukkan bukti-bukti penyerahan pada kaum revolusioner di Talang dan Slawi. Bersama Wedana Adiwerna, Mohammad Ikhsan dan sopir Soemardjo menuju markas AMRI Talang. Cerita Mr. Besar menyebutkan bahwa belum sampai di Talang, tepatnya di Pagogangan, mobil (konon mobil jenis For Mercury warna kuning ini dijadikan kendaraan oleh Koetil). Mereka dihentikan oleh ratusan massa dan ketiga penumpangnya dipaksa keluar dan diikat. Massa di Pagongan merupakan kelompok yang hendak long march ke Tegal kota. Mardjono dan Ikhsan menjadi martir Tiga Daerah. 

Yang selamat dari keberingasan kelompok Koetil adalah sopir Soemardjo. Toh masih menurut penuturan Mr. Besar, walau selamat Soemardjo mengalami traumatik :

       “…..Akan tetapi terbawa oleh perasaannya yang sangat takut Ketika mendapatkan siksaan yang baru dialaminya. Maka setibanya di rumah, ia menderita sakit hamper satu bulan lamanya. Dalam mana ia masih ada di dalam sakit itu, setiap waktu bangun lalu seperti orang terkejut , kemudian berteriak-teriak minta tolong dengan gerak-gerik yang memilukan hati”.

Kuatnya basis massa Koetil di Talang menjadikan siapapun yang hendak menuju Slawi atau selatan saat melewati Talang, maka sama halnya dengan meregang nyawa. Pilihan antara hidup dan mati. Sebelum long march ke Tegal serangkaian vergadering (rapat-rapat terbuka) antara lain di Oedjoengroesi dan Doekoehwringin.

Long march yang digerakkan kelompok Koetil mencetuskan aksi dombreng. Korbannya yang salah sasaran menimpa R.A Kardinah (saudara R.A Kartini dan R.A Roekmini). Kardinah merupakan isteri dari Bupati Tegal Reksonegoro X. Yang menjadi sasaran adalah putranya yang yaitu Bupati Sunarjo Reksonegoro. Rumah Pungkuran (sekarang menjadi swalayan di kota Tegal) menjadi sasaran massa. Kardinah bersama cucu perempuan dan pembantu dipaksa mengenakan pakaian karung goni dan dipermalukan serta diarak keliling kota hingga berhenti di Kejambon (di depan rumah sakit yang sekarang bernama RSUD Kardinah). Konon sebgaimana diceritakan Kembali oleh Yono Daryono dalam tulisan tentang Kardinah (2018) aksi dombreng Kardinah mengakibatkan trauma baginya, bahkan mendengar nama Tegal. Hingga ia dibujuk untuk kembali ke Tegal tahun 1977 dari Salatiga, tempat terakhir beliau bermukim.

Sirkulasi kekerasan menjadi bagian dari meletusnya revolusi sosial Koetil nyaris seperti tokoh Robbespierr-nya Revolusi Perancis dengan “Pemerintahan terornya. Hukuman mati yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Pekalongan 21 Oktober 1946 tak bisa dilaksanakan karena pada 21 Juli1947 meletus Agresi Militer I Belanda yang berdampak bagi diungsikan tahanan politik Tiga Daerah dari Wirogunan Yogyakarta ke wilayah selatan Pekalongan. Namun Koetil berhasil melarikan diri ke Batavia, hingga ia dikenali kembali oleh warga Slawi bernama Kasbi alias Samsuri. Ia tertangkap di desa Kebon Kacang gang II onderdistrik Tanah Abang.

Saat ditangkap ia masih menjalani profesi sebagai tukang cukur. Koetil menjadi pertukaran tahanan politik saat penyerahan kedaulatan tahun 1950 dan dikirim ke Pemerintah RIS dititipkan Semarang. Koetil kembali mendiami “hotel prodeo” Pekalongan 13 Februari 1950. Koetil sempat mengajukan grasi kepada Presiden Soekarno melalui surat tertanggal 1 Agustus 1950. Namun grasi tersebut ditolak melalui keputusan Presiden Nomor 336/G Tahun 1951 tertanggal 24 April 1951, yang isinya menguatkan keputusan Jaksa Soeprapto di tahun 1946 yang dikuatkan oleh keputusan Hakim Pengadilan Negeri Pekalongan tanggal 8 April 1950 Mas Mardiman Tjokrodiredjo.

Menurut Anton Lucas (1991: 310) ia dieksekusi pada 5 Mei 1951, di pantai dekat Pekalongan. Ia memilih dieksekusi sembari berjongkok dan menolak ditutup matanya oleh regu tembak Komando Militer Kota dengan pimpinan regu tembak Soedharmo yang pernah menjadi komandan TKR Resimen XVII Pekalongan saat Peristiwa Tiga Daerah. 

Koetil menghadapi desingan pelor, bersamaan kabut misteri dimana makamnya. Dan Koetil menjadi warga Indonesia yang dihukum mati pertama oleh Pemerintah RI. (*)

WijanartoSejarawan

Senin, 17 Maret 2025

Kabupaten Berbek

berbek

Berbek saat ini hanyalah sebuah kecamatan di wilayah Nganjuk, namun demikian dahulu kala wilayah ini ternyata pernah menjadi salah satu kabupaten penuh sejak abad 18-19. Berbek sendiri secara geografis berbatasan dengan Madiun di sisi barat, Bojonegoro di sisi utara, Pace/Kediri di sisi timur, dan Gunung Wilis di sisi selatannya.

Nama Berbek sebenarnya sudah tercatat oleh Valentijn tahun 1681 di mana saat itu wilayah ini dipimpin oleh Demang Watsiana. Namun demikian, eksistensi Kabupaten Berbek secara konkrit baru mengemuka sejak awal abad 19, yakni selepas terjadinya perlawanan Ronggo Prawirodirjo III (Bupati Wedono Madiun).
Tahun 1812, setelah kota Berbek di porak-porandakan oleh perlawanan Ronggo Prawirodirjo III dua tahun sebelumnya, maka Sultan Hamengkubuwana II dari Yogyakarta kemudian menunjuk Raden Tumenggung Sosrokusumo I (dikenal pula dengan nama Kanjeng Jimat) sebagai bupati pertama wilayah Berbek ini. Beliau sendiri awalnya adalah bupati dari wilayah Grobogan, Jawa Tengah yang kemudian dipindah di Berbek.
Tahun 1830 wilayah Berbek berhasil dicaplok oleh pihak Gubernemen (Pemerintah Hindia-Belanda) sebagai imbas dari peristiwa Perang Jawa (1825-1830). Meskipun Bupati Berbek saat itu loyal terhadap pihak keraton, namun sebagian rakyatnya adalah barisan pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Setelah dikuasai oleh pihak Gubernemen, wilayah Berbek bahkan diperluas/ditambah sampai dengan Nganjuk dan Kertosono.
Pada tahun 1880, pusat ibukota Kabupaten Berbek terpaksa dipindah sedikit ke utara, yakni dari kota Berbek menuju kota Nganjuk. Dengan demikian sejak saat itu ada pemerintahan Kabupaten Berbek yang berpusat di kota Nganjuk. Perpindahan ini disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah pembangunan jalur kereta api di sisi utara sebagai arus perkembangan transportasi zaman dan akses perkebunan.
Menginjak akhir tahun 1928, saat berkuasa tokoh bupati yang bernama Raden Tumenggung Sosrohadikusumo, pihak Gubernemen memberikan otonomi kepada kabupaten ini. Namun demikian, dalam Besluit tersebut, tidak lagi menggunakan mama Kabupaten Berbek, melainkan sudah memakai nama Kabupaten Nganjuk. Hal ini menyesuaikan nama wilayah pemerintahan dengan nama ibukota dan letak pendoponya. ketetapan Besluit ini berlaku per 1 Januari 1929. Demikianlah, maka sejak tahun 1929 nama Kabupaten Berbek hilang dalam sejarah untuk dilanjutkan dengan Kabupaten Nganjuk

sumber : Eko Jarwanto,https://www.facebook.com/eko.jarwanto.92

Selasa, 31 Desember 2024

PERAYAAN TAHUN BARU DOKTER BREITENSTEIN

31 Desember 1888 adalah malam Tahun Baru pertama yang dialami istriku di Tanah Jawa yaitu ketika kami tinggal di Ngawi. Kuda-kuda yang kubeli agak keras kepala dan liar sehingga aku tidak berani menggunakannya untuk mengantar kami ke sociëteit yang jauhnya sekitar 2 km dari rumah. Kami berjalan kaki dan tiba sekitar jam 21:15 dan sudah berkumpul semua orang penting di sana. Para pria bermain kartu L’hombre-Tafel sedangkan para wanita bermain kartu Whist sambil bercengkerama. Sociëteit menyediakan Likör dan kopi tanpa pungutan biaya. Pukul 12 malam tiap orang bersulang dengan gelas Rheinwein, Brandy, soda, atau Bordeauxwein diawali dengan sulangan dari asisten residen.

Tahun baru harus diawali dengan berdansa. Dalam urutan ketat menurut pangkat dan kedudukan, pasangan dansa memasuki ruangan dengan langkah pelan, memutari ruang dansa 2 kali. Musik berganti dan dansa Walz mengawali dansa Reigen. Beberapa pria meninggalkan ruang dansa karena lebih memilih untuk bermain kartu atau secara umum dansa itu terlalu gerah untuk cuaca seperti ini. Beberapa pria yang melarikan diri ke beranda dan bermain kartupun akhirnya harus berdansa dan akupun juga harus menuju ke ruang dansa ketika istri komandan miiter dan istri asisten residen mengajak berdansa Lanciers. Akhirnya aku terbebas dari kewajiban sosialku itu namun ketika baru setengah jam bermain kartu dan sibuk dengan Spadille, Manille, Basta, Ponto, terdengar seruan Quadrille! Dengan tatapan penuh takut kulihat ke arah pintu ruang dansa dan di sana berdiri 2 wanita, istri dua orang paling berpangaruh dan di belakang mereka berdiri istriku yang tersenyum mengolok. Akupun harus kembali ke ruang dansa. Setelah dansa Quadrille yang melelahkan aku dan istriku meninggalkan sociëteit sekitar jam 3 pagi sementara yang lainnya tetap berdansa atau bermain kartu hingga matahari terbit

Aku menerima undangan dari dokter pribadi Susuhunan Solo untuk menghadiri perayaan Tahun Baru 1 Januari yang diadakan oleh residen. Kereta api yang berangkat dari Madiun jam 6:15 pagi tiba di Paron jam 7:15, jadi kami harus berangkat dari rumah jam 6 pagi. Kami memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk tidur hingga jam 5 pagi. Kereta kuda dengan 2 kuda jenis Sandelwood siap pada jam yang ditentukan. Dua kudaku melaju dengan cepat melewati jalanan kota yang panjang menuju Paron. Dua kudaku tiba-tiba berhenti ketika berada di Paal 4, kemudian kudengar bahwa ada harimau mati tergeletak di semak-semak. Menurut statistik tahun 1893, kecelakaan yang menyebabkan kematian akibat melintasnya binatang di Hindia Belanda sebenarnya tidak besar yaitu 43 karena harimau, 39 karena buaya, 38 karena ular. Segala upaya telah dilakukan tetapi kuda-kuda tidak mau beranjak dari Paal 4. Akhirnya aku, istriku, dan seorang babu turun dari kereta kuda dan berjalan kaki sembari si kusir terus berusaha menghentikan mogoknya dua kuda itu namun hingga mencapai Paal 5 kami tidak melihat maupun mendengar kereta kuda kami. Masih ada 1 Paal (1 Paal= 1,5 km) lagi hingga ke stasiun Paron ketika kami mendengar bunyi tiupan lokomotif di kejauhan. Kereta api sudah berangkat dari Geneng, stasiun sebelum Paron. Dengan langkah cepat aku dan istriku bergegas dan tidak menyadari bahwa babu kami tertinggal di belakang dengan tas bawaan. Istriku juga tidak sanggup lagi melanjutkan berjalan cepat menempuh 100 langkah terakhir. Aku tahu bahwa di stasiun terdapat sado, dan aku sendirian berlari menuju ke stasiun dan tiba bersamaan dengan datangnya kereta api. Segera aku mengirim 1 sado untuk menjemput istriku, babu dan tasku dan aku mencari kepala stasiun dan memintanya untuk menunggu 2 menit hingga istriku tiba.

Setelah 3 jam perjalanan kami tiba di Solo lalu makan Rijsttafel dan kami dipinjami baju tidur oleh nyonya rumah dan segera tidur siang, hal yang kami butuhkan setelah hari yang melelahkan. Sayangnya kami tidak bisa tidur siang terlalu lama karena tamu-tamu orang Eropa diharapkan hadir jam 5 sore oleh residen. Pakaian yang kami kenakan dalam perjalanan siang hari kami pakai lagi, kemudian kami minum teh dan menuju ke rumah residen. Dalam perjalanan kami diberitahu bahwa orang-orang pribumi sudah sejak jam 6 pagi mengucapkan selamat kepada residen dan mereka menerima hadiah kecil berupa uang maupun pakaian. Dengan diiringi musik hal itu berlangsung hingga jam 10 ketika para pemusik pengawal Susuhunan, agen polisi, pemusik Pangeran Mangkunegara, pawang gajah, dst menyampaikan ucapan itu. Sekitar jam 10 musik terdengar lebih pelan dan tampak semua pegawai pemerintah Eropa, para perwira, Pangeran Mangkunegara dan pejabat masyarakat datang untuk mengucapkan selamat Tahun Baru kepada residen.

lalu duduk di kursi tahta dan di sisi kirinya putra mahkota dan beberapa pangeran sedangkan di sisi kanan para tamu orang Eropa. Kemudian 4 orang gadis yaitu putri-putri bangsawan menarikan Srimpi. Setelah 2 jam berlalu, musik militer eropa terdengar memainkan musik untuk dansa Polonaise. Residen menggandeng Susuhunan, asisten residen menggandeng putra mahkota, Platz-Commandant menggandeng istri residen, dan yang lain mengikuti memutari ruang dansa 2 kali. Selebihnya Polonaise ditujukan untuk orang eropa yang berdansa berbentuk lingkaran sementara Susuhunan menuju ke Whisttafel di ruangan lain dimana di sana orang terpandang dan tuan tanah terkaya ikut bermain kartu. Perjamuan makan malam adalah penutup untuk acara perayaan Tahun Baru. Residen menuju ke ruang bermain sekitar jam 23:30 untuk mengingatkan Susuhunan tentang jam perjamuan makan.

Di malam sebelumnya istriku hanya tidur 3 jam dan perjalanan ke stasiun sangat melelahkan sekaligus kekurangan pakaian, hingga jam 2 pagi istriku mengenakan pakaian yang sama sehingga istriku merasa tidak enak badan. Aku menuju ke salah seorang pengatur seremoni untuk menyampaikan bahwa kami tidak bisa ikut dalam jamuan makan itu. Orang itu hanya berkata singkat: mustahil! Dan dia bergegas pergi untuk mempersiapkan hal lainnya. Karena rasa tidak enak badan istriku semakin bertambah maka aku membawanya pulang dan setelah aku memeriksa dan mengetahui penyebab rasa tidak enak badan istriku yaitu karena kelehan berlebihan maka aku tidak begitu kuatir. Lalu aku kembali ke ruang dansa dan menyampaikan berita itu kepada pengatur seremoni dan meminta penjelasan atas jawaban ‚mustahil‘ darinya. Katanya, „Meja perjamuan terdiri dari 2 meja besar dengan bentuk T. Di meja horisontal duduk Susuhunan dan di sebelah kanannya Platz-Commandant, di sisi kiri residen dan di sampingnya duduk para pejabat Eropa sesuai tingkatan pangkatnya. Di meja vertikal duduk para bangsawan yang jumlahnya tetap. Tetapi para tamu Eropa selalu dinamis jumlah dan kepangkatannya sehingga setiap kali dilaksanakan perjamuan makan ada pengaturan tempat duduk baru. Anda dan istri anda adalah orang termuda dan berada dalam pangkat paling rendah boleh duduk bersama dalam meja itu sementara para tamu Eropa lainnya duduk di meja lainnya tanpa harus ada pengaturan tempat duduk karena urutan pangkat. Jika anda membatalkannya, dengan siapa saya harus menggantikan tempat duduk itu?“

Makanan apa yang diterima para bangsawan aku tidak tahu karena tidak melihatnya dan apakah Susuhunan ikut bersulang, aku tidak ingat. Aku hanya ingat bahwa sulangan pertama diminum untuk kesehatan Raja Holland dan sulangan terakhir dalam perjamuan itu diakhiri dengan kata „Salamat tanah Djawa!“

Teks disarikan dari: Breitenstein, H. 1900. 21 Jahre in Indien. Aus dem Tagebuche eines Militärarztes, 2. Theil: Java. Leipzig. Th. Grieben's Verlag (L. Fernan)
Foto : Beranda depan Societeit Ngawi dan lokasi Societeit di pertemuan Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Koleksi KITLV

Sumber : Artikel FB : Eva Mentari Christoph

Kamis, 15 September 2011

KISAH TJIA GIOK THWAM



MAHASISWA KEDOKTERAN INI MENINGGALKAN BANGKU KULIAH UNTUK JADI GERILYAWAN
KISAH TJIA GIOK THWAM, SANG PEJUANG DENGAN DUA NAMA

SURABAYA, 1945–1950 — Di tengah hiruk pikuk perjuangan kemerdekaan, ada satu nama yang membawa janji kehidupan (dokter) dan kematian (pejuang gerilya) sekaligus: Tjia Giok Thwam. Lebih dikenal dengan nama Indonesianya, Basuki Hidayat, kisah pemuda keturunan Tionghoa ini adalah ironi heroik. Mengapa seorang mahasiswa kedokteran yang seharusnya berada di laboratorium, memilih lumpur, senapan, dan risiko kematian demi Republik yang baru lahir?

Inilah kisah perjuangan Tjia Giok Thwam, bukti bahwa loyalitas kepada Indonesia melampaui sekat etnis, kelas, dan cita-cita profesional.

I. Panggilan Revolusi: Meninggalkan Stetoskop Demi Senapan
Tjia Giok Thwam lahir di Surabaya pada tahun 1927. Ia berada di jalur cerah masa depan, seorang pelajar Tionghoa yang terdidik. Namun, proklamasi kemerdekaan 1945 mengubah segalanya. Ketika Belanda berusaha merebut kembali Indonesia, Tjia Giok Thwam tidak memilih jalur aman.

Pilihan Ekstrem: Pada usia 18 tahun, ia meninggalkan buku-buku kedokteran dan memilih senjata. Ia bergabung dengan Corps Mahasiswa Djawa Timur (CMDT), tepatnya di Pasukan 19. CMDT adalah kesatuan mahasiswa yang secara aktif terlibat dalam Revolusi Fisik di Jawa Timur.

Identitas Baru: Dalam perjuangan gerilya yang penuh risiko, ia mengadopsi nama Jawa yang populer: Basuki Hidayat. Nama baru ini berfungsi sebagai simbol integrasi dan loyalitas totalnya kepada perjuangan Republik.

II. Medan Juang Gerilya: Mahasiswa Menjadi Tentara Elit
Tjia Giok Thwam tidak hanya ikut-ikutan; ia terlibat aktif dalam berbagai pertempuran penting di Jawa Timur. Ia bertempur sebagai bagian dari pasukan gerilya CMDT, sebuah unit yang memiliki mobilitas tinggi dan kemampuan tempur yang cerdik.

Kontribusi Vital: Perjuangan Tjia Giok Thwam dan CMDT berlangsung hingga tahun 1950. Mereka bertanggung jawab atas berbagai operasi militer, terutama dalam menghadapi agresi militer Belanda I dan II di wilayah Jawa Timur.

Pengorbanan Penuh: Melalui hutan dan desa, Tjia Giok Thwam hidup dalam kondisi sulit sebagai gerilyawan. Statusnya sebagai mahasiswa terdidik menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan menarik semua elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang.

III. Pensiun Dini dan Penghargaan Negara
Setelah kedaulatan Indonesia diakui sepenuhnya pada tahun 1950, Tjia Giok Thwam membuat keputusan signifikan: ia mundur dari dunia militer dengan pangkat terakhir Letnan Dua (Letda).

Kembali ke Cita-cita: Ia menanggalkan seragam tempur untuk kembali mengejar cita-cita awalnya—studi kedokteran. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Perjalanan dari Letda gerilyawan kembali menjadi mahasiswa kedokteran adalah simbol unik dari transisi Indonesia dari masa revolusi ke masa pembangunan.

Pengakuan Negara: Meskipun kembali ke kehidupan sipil, jasa-jasanya di medan perang tidak dilupakan. Pada tahun 1958, Tjia Giok Thwam menerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua dari pemerintah RI, sebuah tanda kehormatan atas perjuangannya.

Tjia Giok Thwam kemudian mengabdikan dirinya dalam bidang kesehatan, menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Sumber Porong hingga akhir hayatnya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati, Malang, dengan upacara militer yang lengkap—sebuah penghormatan abadi bagi seorang patriot yang berjuang dengan dua nama, dan mengabdi dengan dua profesi.

Sumber Utama Peristiwa dan Detail:

Arsip Sejarah Corps Mahasiswa Djawa Timur (CMDT).

Keputusan Menteri Pertahanan RI Tahun 1958 (Mengenai pemberian Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua).

Historiografi Tokoh Keturunan Tionghoa dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Data Pemakaman Taman Makam Pahlawan Suropati, Malang.