Kamis, 06 Agustus 2026
Pendekatan-Pendekatan dalam Pembelajaran
Sabtu, 27 Juni 2026
Kyai Mukti
Kamis, 25 Juni 2026
Prasasti Gemekan (Masahar)
Rumah Cagar Budaya Maclaine Pont
Senin, 30 Maret 2026
Kata Likur dalam hitungan Jawa
ASAL-USUL KATA "LIKUR"
2026 - rong ewu nemlikur (Jawa Baru)
Bahasa Jawa Kuno ada 2 variasi :
- rwang iwu rwang puluh enem
- rwang iwu nem likur
Misal angka-angka seperti 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29 adalah: sĕlikur, rolikur, tĕlu likur, patlikur, nĕm likur, pitu likur, wolu likur, sångå likur. [ kecuali 25 = selawé ].
Ini sebenarnya agak bergeser dari pola zaman Jawa pertengahan, dimana saat itu polanya ada dua, yaitu masih sama dengan pola Melayu : memakai "puluh + angka satuan"
Melayu : Dua puluh + enam
Jawa : Rwa + ng + puluh + enem (Rong puluh enem)
Saat itu pemakaian likur juga sudah dipakai.
Jadi ada dualisme.
Bukti ?
Dalam naskah Calon Arang (pupuh 133: 2) terdapat kata "pitu likur", sedangkan dalam Kidung Rangga Lawe (pupuh 6: 27) terdapat kata "rong puluh pitu". Jadi saat itu ada dua penyebutan.
Bukti lain misalnya naskah yang lebih tua, yaitu berbahasa Jawa Kuno juga ada yang menyebut 27 dengan istilah "pitu likur" yaitu dalam naskah Brahmāṇḍapuraṇa (bab 174: 14).
Adapun dalam rontal Ādiparwa terdapat kata "rwang puluh papat" untuk menyebut bilangan 24 dan bukan "pat likur".
Bahasa Jawa, Malayu, Sunda, Madura, Bali, Tagalog, dsb adalah keturunan bahasa Proto Malayo-Polynesia. Jejak di Melayu yang kemungkinan juga memakai kata likur dahulu, terlihat dalam penyebutan "Malam Tujuh Likur". Jadi ada suatu masa dimana dulu likur dan puluh dipakai dua-duanya.
Dalam kamus Proto Malayo-Polynesia terdapat kata "likud" yang bermakna "kembali".
Kata likud inilah yang kemudian berubah menjadi likur dalam bahasa Jawa karena pertukaran bunyi d & r.
* padi = pari
* pĕdih = pĕrih
* datu = ratu
* badak = warak
* udang = urang
Maksudnya "kembali ke jari tangan" untuk menghitung setelah sebelumnya habis dipakai menghitung angka 1 sd 20 sesuai jumlah jari tangan dan kaki manusia. Nah setelah masuk angka 21 kembali ke setelan awal yaitu memakai tangan kanan.
Kita bayangkan begini, kita menghitung pakai jari tangan dan kaki ya..
1-5 : pakai jari tangan kanan
6-10 : pakai jari tangan kiri
11-15 : pakai jari kaki kanan
16-20 : pakai jari kaki kiri
Nah begitu sampai 21-25 : "kembali pakai jari tangan kanan" atau "likur".
Ini untuk pemakaian angka sehari2 yang biasanya tidak terlalu besar.
Saat Jawa Baru, penyebutan puluh untuk 21 - 29 bergeser ke likur. Sebaliknya Melayu justru meninggalkan likur, dan memakai puluh seperti saat ini.
Rujukan tulisan mas Heri Purwanto
Subagio Sastrowardoyo
Minggu, 01 Februari 2026
Ziarah Kubur, Nyadran, dan Bulan Ruwah
Tradisi Islam Nusantara antara Sunnah, Etika Pesantren, dan Polemik Tauhid
Pendahuluan
Setiap memasuki bulan Sya’ban—atau Ruwah dalam penanggalan Jawa—umat Islam di Nusantara secara turun-temurun melakukan ziarah kubur dan nyadran. Mereka mendatangi makam orang tua, leluhur, para wali, dan ulama yang dianggap berjasa dalam dakwah Islam. Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun, lintas generasi, lintas kerajaan, dan lintas pesantren.
Namun di era kontemporer, praktik ini kerap dipersoalkan. Sebagian kalangan menstigmatisasi ziarah kubur dan nyadran sebagai perbuatan syirik, bid’ah, bahkan “penyembahan kubur”. Polemik ini bukan sekadar soal praktik ibadah, tetapi menyentuh cara membaca sejarah, metodologi keilmuan Islam, dan relasi antara agama dan budaya.
Tulisan ini memadukan tiga sudut pandang sekaligus:
(1) kajian fiqh dan hadis Ahlus Sunnah,
Nyadran sebagai Etika Sosial-Religius
Dalam konteks Nusantara, ziarah kubur berkembang menjadi tradisi nyadran. Secara praktik, nyadran mencakup:
- ziarah dan doa untuk mayit,
- membersihkan makam,
- sedekah makanan,
- silaturahmi sosial.
Penamaan Ruwah berasal dari kata “ruh”, menandai fase refleksi tentang hidup dan mati. Dalam Islam, Sya’ban dikenal sebagai bulan persiapan Ramadhan, bulan penguatan batin dan taubat. Ziarah kubur di bulan ini bukan kebetulan, melainkan sinkronisasi simbolik antara ajaran Islam dan kosmologi lokal.
Tradisi ini tidak menambah akidah baru, tetapi memberi bahasa budaya bagi nilai universal Islam: eling marang pati (ingat mati), resik batin, dan siap menyongsong ibadah Ramadhan.
Perspektif Serat Jawa-Islam
Serat-serat klasik Jawa-Islam memberi lapisan pemahaman yang lebih dalam. Dalam Serat Wedhatama, khususnya pupuh Sinom dan Pangkur, manusia diajak menata diri melalui kesadaran etis, bukan spekulasi metafisik. Kematian dihadirkan sebagai cermin, bukan objek ketakutan atau pemujaan.
Dalam suluk-suluk seperti Suluk Wujil dan Suluk Malang Sumirang, makam dan kematian berfungsi simbolik: penanda kefanaan ego dan pintu kesadaran akan Gusti. Ini bukan manunggaling ontologis yang menyamakan hamba dan Tuhan, melainkan manunggaling etis—keselarasan laku manusia dengan kehendak Ilahi.
Ziarah kubur, dalam kerangka ini, adalah laku batin: melatih rendah hati, menundukkan rasa, dan menyadari keterbatasan diri.
Menjawab Stigma Syirik secara Akademik
Stigma “penyembah kubur” muncul dari pembacaan tauhid yang sangat literal dan ahistoris. Ia sering gagal membedakan antara:
wasilah dan ibadah, penghormatan dan pemujaan, simbol budaya dan keyakinan teologis.
Dalam ushul fiqh, menghukumi tradisi mayoritas dengan contoh penyimpangan minoritas adalah kekeliruan metodologis. Kritik teologis seharusnya bersifat spesifik, bukan generalisasi.
Penutup
Ziarah kubur dan nyadran di bulan Ruwah bukanlah praktik menyimpang dari Islam, melainkan ekspresi historis Ahlus Sunnah di Nusantara. Ia berdiri di atas sunnah Nabi, dirawat oleh pesantren, dan diperdalam oleh kebijaksanaan Jawa-Islam.
Selama doa ditujukan kepada Allah, makam dipahami sebagai pengingat, dan tradisi dijalankan dengan adab, maka ziarah kubur bukan ancaman tauhid, melainkan pendidikan kesadaran hidup.
Di titik inilah Islam Nusantara menunjukkan wajahnya: tidak reaktif, tidak kehilangan tauhid, dan tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Oleh : Gus Mamak Sewulan
Rabu, 12 November 2025
Pembahasan soal masa Pergerakan Nasional
1. Jelaskan hubungan antara kebijakan politik etis dengan pergerakan nasional Indonesia!
Jawaban:
Kebijakan Politik Etis atau Etische Politiek adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 sebagai “balas budi” kepada rakyat Indonesia. Isi kebijakan ini mencakup tiga program utama, yaitu:
-
Irigasi (pengairan) – untuk meningkatkan pertanian rakyat.
-
Emigrasi – untuk pemerataan penduduk.
-
Edukasi (pendidikan) – memberikan kesempatan pendidikan bagi pribumi.
Dari ketiga program tersebut, pendidikan memiliki dampak besar terhadap munculnya pergerakan nasional Indonesia. Pendidikan melahirkan kaum terpelajar pribumi (intelektual) yang mulai sadar akan ketidakadilan kolonial dan mulai berjuang untuk kemerdekaan. Jadi, hubungannya adalah:
Politik Etis → membuka akses pendidikan → lahir kaum terpelajar → tumbuh kesadaran nasional → munculnya organisasi pergerakan nasional.
2. Jelaskan peran pers dalam perjuangan pergerakan nasional Indonesia!
Jawaban:
Pers (surat kabar dan majalah) memiliki peran sangat penting dalam perjuangan nasional, yaitu sebagai alat penyebar informasi, pendidikan politik, dan pembangkit semangat nasionalisme.
Beberapa perannya antara lain:
-
Menyebarkan ide-ide kebangsaan dan menumbuhkan kesadaran nasional.
-
Mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat.
-
Menghubungkan organisasi-organisasi pergerakan dan menyatukan rakyat dari berbagai daerah.
-
Menjadi media komunikasi dan propaganda perjuangan.
Contoh surat kabar perjuangan:
-
Medan Prijaji (oleh Tirto Adhi Soerjo)
-
Oetoesan Hindia (oleh Sarekat Islam)
-
De Expres (oleh Douwes Dekker)
-
Hindia Baroe, dan lainnya.
3. Sebutkan organisasi-organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, dan siapa tokohnya!
Jawaban:
Berikut beberapa organisasi penting dalam pergerakan nasional beserta tokohnya:
| No | Organisasi | Tahun Berdiri | Tokoh Utama |
|---|---|---|---|
| 1 | Budi Utomo | 1908 | Dr. Soetomo, Wahidin Soedirohusodo |
| 2 | Sarekat Islam (SI) | 1912 | Haji Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto |
| 3 | Indische Partij | 1912 | Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo |
| 4 | Muhammadiyah | 1912 | K.H. Ahmad Dahlan |
| 5 | Nahdlatul Ulama (NU) | 1926 | K.H. Hasyim Asy’ari |
| 6 | Perhimpunan Indonesia (PI) | 1925 | Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo |
| 7 | Partai Nasional Indonesia (PNI) | 1927 | Ir. Soekarno |
| 8 | Partai Indonesia (Partindo) | 1931 | Sartono |
| 9 | Gerindo | 1937 | A.K. Gani, Mohammad Yamin |
4. Sebutkan faktor internal dan eksternal munculnya pergerakan nasional Indonesia!
Jawaban:
1. Faktor Internal:
-
Penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.
-
Timbulnya kesadaran nasional di kalangan kaum terpelajar.
-
Kenangan akan kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara (Majapahit, Sriwijaya).
-
Munculnya golongan terpelajar pribumi hasil Politik Etis.
-
Peran media massa yang menyebarkan ide-ide kemerdekaan.
2. Faktor Eksternal:
-
Pengaruh Pergerakan Nasional di Asia dan Dunia, seperti kemerdekaan India, Filipina, dan kebangkitan Jepang (Restorasi Meiji).
-
Kemenangan Jepang atas Rusia (1905) yang menunjukkan bangsa Asia bisa menang atas bangsa Eropa.
-
Paham-paham baru seperti nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme dari Eropa.
-
Berkembangnya komunikasi global dan munculnya organisasi internasional.
Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional dari Madiun
RM.Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Ponorogo, 16 Agustus 1882 – 17 Desember 1934),salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, Ketua Sarekat Islam (SI). melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada masa itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimba ilmu, yaitu Sukarno, Muso dan Kartosuwiryo.
RM. Abikoesno Tjokrosoejoso, Ponorogo,15 Juni 1897 – 11 November 1968 adalah salah satu bapak pendiri Republik Indonesia dan penandatangan konstitusi. Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 (dikenal sebagai Piagam Jakarta). Setelah meninggalnya HOS Tjokroaminoto yg merupakan kakaknya, pada 17 Desember 1934, Abikoesno mewarisi jabatan sebagai pemimpin Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presidensial pertama Soekarno dan juga menjadi penasihat Biro Pekerjaan Umum.
Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo (Uteran, Madiun, 28 Agustus 1902 – 18 Mei 1997) adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.Sunario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II (sumpah pemuda)
Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, pahlawan nasional Indonesia, dokter di Keraton Surakarta (Yogyakarta, 21 April 1879 – Widodaren,20 September 1952) adalah:
- Boedi Oetomo
- BPUPKI pada tahun 1945 Pada tanggal 9 Agustus 1945, sehari setelah serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Radjiman bersama dengan tokoh nasionalis Soekarno dan Mohammad Hatta diterbangkan ke Saigon untuk bertemu dengan Marsekal Lapangan Hisaichi Terauchi.Uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.
Dr. Soeradji Tirtonegoro lahir pada 1887 di Desa Uteran, Madiun. tokoh kebangkitan nasional yang menjadi salah satu pendiri Budi Utomo. Dijadikan nama RS. Di Klaten karena jasa nya dalam penanggulangan penyakit pes pada waktu sebelum kemerdekaan.
Ki Hadjar Hardjo Oetomo Lahir di Kota Madiun,1903 dan meninggal 13 April 1952 dimakamkan di Pilangbango Madiun. Budi Oetomo, Syarekat Islam, dan Taman Siswa. Selain bergabung dengan organisasi tersebut, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga mendirikan organisasi pencak silat SH Pemuda Sport Club (SH-PSC) yang kemudian berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Di bidang ekonomi untuk membantu masyarakat lepas dari penindasan 'lintah darat', ia mendirikan perkumpulan Harta Djaja semacam koperasi.
Disarikan dari Wikipedia dan beberapa sumber lainnya
