Sabtu, 27 Juni 2026
Kyai Mukti
Kamis, 25 Juni 2026
Prasasti Gemekan (Masahar)
Prasasti Masahar ditemukan sekitar 130 cm di bawah permukaan tanah di dekat reruntuhan candi di tengah bidang tanah sawah milik Mukid, seorang warga setempat. Reruntuhan tersebut yang terkubur dalam gundukan tanah dianggap angker oleh penduduk, sehingga dibiarkan selama puluhan tahun.
Prasasti diekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur (BPCB Jatim) pada tanggal 7-12 Februari 2022 dan didanai oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kaloka di Malang. Orang yang ditunjuk untuk mempelajari dan menerjemahkan isi prasasti tersebut adalah Ismail Lutfi, seorang epigraf.
Dalam prasasti ini diceritakan sebuah peristiwa penetapan sebidang tanah sawah tarukan di desa Masahar di wilayah Padang sebagai sebuah tanah sima. Tanah tersebut melekat pada sebuah bangunan suci setempat yang bernama Pangurumbigyan (prāsāda kabhaktyan i pangurumbigyannira i masahar). Penetapan ini dilakukan atas perintah Sri Maharaja Mpu Sindok pada tahun 852 Syaka atau 930 Masehi, tidak lama sesudah pemindahan pusat kekuasaan Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Tanah seluas 3 tampah tersebut dibeli dengan emas senilai 3 kati 5 suwarna oleh Rakai Hanyangan dan putrinya Rakai Parryangan. Di sekeliling tanah sima tersebut dibeli juga bidang tanah dengan emas senilai 1 suwarna 5 masa untuk keperluan saluran air agar tanah sawah tersebut dapat produktif. Para pejabat desa Masahar menerima pembayaran atas penjualan tanah tersebut, pejabat desa-desa disekitarnya hadir juga sebagai saksi, dan mereka semua menghadiri upacara penetapan tanah sima tersebut. Semua hadirin diberikan pasak pasak berupa emas dan/atau kain, serta disajikan berbagai hidangan dan minuman.
Pada sisi kanan dicatatkan sejumlah hidangan yang dimakan dalam upacara penetapan tanah sima tersebut.
Sisi kiri mencatatkan kutukan (sapatha) bagi siapa saja yang mengganggu ketetapan Raja mengenai penetapan tanah sima tersebut.
Prasasti Masahar adalah salah satu dari dua dokumen yang pertama kali menyebutkan Mpu Sindok (Sri Isyana) sebagai maharaja, selain prasasti Linggasuntan (929 M). Prasasti Sangguran, yang bertarikh hanya dua tahun sebelumnya, menyebutkan Mpu Sindok sebagai mapatih dari maharaja Dyah Wawa. Ini menunjukkan saat terjadinya peralihan kekuasaan Medang di antara kedua penguasa tersebut, sekaligus perpindahan pusat pemerintahan dari Bhumi Mataram (Jawa bagian tengah) ke Tamwlang (di Jombang sekarang) di sekitar tahun 853 Syaka atau 929 M.
Rumah Cagar Budaya Maclaine Pont
Bangunan ini dahulu bernama Bangunan A Museum Trowulan, yang sehari-harinya digunakan sebagai rumah tinggal Ir. Henri Maclaine Pont (1884-1971), la seorang arsitek, sekaligus salah satu pendiri Oudheidkundige Vereneging Majapahit (OVM), sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengadakan penelitian kepurbakalaan tinggalan Majapahit dan menjadi cikal-bakal keberadaan Museum Majapahit.
Belurn ada data yang pasti tentang tahun pendirian rumah tersebut. Diperkirakan bangunan ini asalnya adalah milik pabrik gula Mojoagung dan dibangun antara 1890 menempati rumah itu pada 1924, di awal kepindahannya ke Trowulan. 1915. Maclaine Pont sendiri mulai Ketika itu, OVM mulai aktif mengadakan penyelidikan-penyelidikan tentang kepurbakalaan Majapahit. Baru setelah berjalan beberapa lama, rumah itu secara resmi menjadi milik dari Maclaine Pont dan OVM, berikut dengan halamannya. Saat tinggal di Trowulan itu, Maclaine Pont oleh penduduk setempat dipanggil dengan sebutan Tuan Sinir (insinyur) atau Tuan Kereweng karena pekerjaannya yang sering mengumpulkan kereweng atau pecahan tembikar.
Pada tahun 1949 rumah ini pernah menjadi tempat bagi perundingan ncatan senjata antara Indonesia dan Belanda. Trowulan kala itu ada dalam garis status quo/garis Van Mook dan rumah ini menjadi tempat rapat perundingan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda dimediasi oleh Komisi PBB untuk Indonesia yaitu United Nations mission for Indonesia (UNCI) yang terdiri dari delegasi Amerika Serikat, Belgia, dan Australia. Perundingan dilakukan pada tanggal 13 Agustus 1949 dan Indonesia diwakili oleh Kolonel Soengkono yang saat menjabat sebagai Komandan Divisi I Jawa Timur.
Setelah penyerahan kedaulatan pasca Konferensi Meja Bundar (KMB), pengelolaan situs dan benda bersejarah di Trowulan berada di bawah naungan Dinas Purbakala.
Lembaga yang menaungi museum sempat mengalami beberapa kali pergantian nama. Pada tahun 1986, Drs. Tjokro Soedjono selaku Kepala Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kebudayaan Wilayah XI (cikal bakal Balai Pelestarian Kebudayaan) mulai menggunakan dan menempati bangunan ini sebagai kantor.
Sumber : BPKW XI Jawa Timur
Senin, 30 Maret 2026
Kata Likur dalam hitungan Jawa
Subagio Sastrowardoyo
Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Ayahnya seorang pensiunan Wedana Distrik Uteran, Madiun, yang bernama Sutejo dan ibunya bernama Soejati. Subagio menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun. Pendidikan Subagio dilakukan di berbagai tempat, yaitu HIS di Bandung dan Jakarta. Pendidikan HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta. Pada tahun 1958 berhasil menamatkan studinya di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada dan 1963 meraih gelar master of art (M.A.) dari Department of Comparative Literature, Universitas Yale, Amerika Serikat. Subagio pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia B-1 di Yogyakarta (1954—1958). Ia juga pernah mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra, UGM pada tahun 1958—1961. Pada 1966—1971 ia mengajar di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung . Selanjutnya, tahun 1971—1974 mengajar di Salisbury Teacherrs College, Australia Selatan, dan di Universitas Flinders, Australia Selatan tahun 1974—1981. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982—1984) dan sebagai anggota Kelompok Kerja Sosial Budaya Lemhanas dan Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981). Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Tentang kepenyairannya itu, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa sajak-sajak Subagio adalah sajak rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. Itulah paling tidak sebagian dari karakter kepenyairan Subagio Sastrowardoyo. Kreativitas Subagio Sastrowardoyo tidak terbatas sebagai penyair. Oleh karena itu, ia tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961 menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan prosa dan esai-esainya. KARYA: Karya yang telah ditulisnya pun beragam dan banyak, seperti berikut ini. A. Kumpulan puisi 1. Simphoni (1957) 2. Daerah Perbatasan (1970) 3. Keroncong Motinggo (1975) 4. Buku Harian (1979) 5. Hari dan Hara (1982) 6. Simponi Dua (1989) 7. Dan Kematian Makin Dekat (1995) B. Kumpulan esai 1. Bakat Alam dan Intelektualitas (1972) 2. Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor (1976) 3. Sosok Pribadi dalam Sajak (1980) 4. Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983) 5. Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1989) 6. Bunga Rampai Sastra Asean: Sastra Lisan Indonesia (1983) 7. Modern Asean Plays Indonesia (di dalamnya dimuat drama “The Bottomless Well”, “Wow”, “Time Bomb”, dan “Dhemit”) (1992) 8. Anthology of Asean Literatures: Volume III a: The Islamic Period in Indonesian Literature (1994) C. Kumpulan cerpen Tulisan Subagio yang berupa cerpen terkumpul dalam sebuah kumpulan cerpen, yaitu Kedjantanan di Sumbing (1965). Selain itu, ia juga menerima hadiah dan penghargaan atas kreatifitasnya itu. Hadiah dan Penghargaan yang diterima: 1. Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983) untuk karyanya Sastra Hindia Belanda dan Kita 2. Hadiah Pertama dari majalah Kisah (1995) untuk cerpennya “Kedjantanan di Sumbing” 3. Hadiah dari majalah Horison untuk puisinya “Dan Kematian pun Semakin Akrab” yang dimuat dalam majalah itu tahun 1966/1967 4. Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) untuk kumpulan puisinya Daerah Perbatasan 5. Penghargaan South East Asia Write Award (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada tahun 1991 untuk kumpulan puisinya Simponi Dua.
Minggu, 01 Februari 2026
Ziarah Kubur, Nyadran, dan Bulan Ruwah
Rabu, 12 November 2025
Pembahasan soal masa Pergerakan Nasional
1. Jelaskan hubungan antara kebijakan politik etis dengan pergerakan nasional Indonesia!
Jawaban:
Kebijakan Politik Etis atau Etische Politiek adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 sebagai “balas budi” kepada rakyat Indonesia. Isi kebijakan ini mencakup tiga program utama, yaitu:
-
Irigasi (pengairan) – untuk meningkatkan pertanian rakyat.
-
Emigrasi – untuk pemerataan penduduk.
-
Edukasi (pendidikan) – memberikan kesempatan pendidikan bagi pribumi.
Dari ketiga program tersebut, pendidikan memiliki dampak besar terhadap munculnya pergerakan nasional Indonesia. Pendidikan melahirkan kaum terpelajar pribumi (intelektual) yang mulai sadar akan ketidakadilan kolonial dan mulai berjuang untuk kemerdekaan. Jadi, hubungannya adalah:
Politik Etis → membuka akses pendidikan → lahir kaum terpelajar → tumbuh kesadaran nasional → munculnya organisasi pergerakan nasional.
2. Jelaskan peran pers dalam perjuangan pergerakan nasional Indonesia!
Jawaban:
Pers (surat kabar dan majalah) memiliki peran sangat penting dalam perjuangan nasional, yaitu sebagai alat penyebar informasi, pendidikan politik, dan pembangkit semangat nasionalisme.
Beberapa perannya antara lain:
-
Menyebarkan ide-ide kebangsaan dan menumbuhkan kesadaran nasional.
-
Mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat.
-
Menghubungkan organisasi-organisasi pergerakan dan menyatukan rakyat dari berbagai daerah.
-
Menjadi media komunikasi dan propaganda perjuangan.
Contoh surat kabar perjuangan:
-
Medan Prijaji (oleh Tirto Adhi Soerjo)
-
Oetoesan Hindia (oleh Sarekat Islam)
-
De Expres (oleh Douwes Dekker)
-
Hindia Baroe, dan lainnya.
3. Sebutkan organisasi-organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, dan siapa tokohnya!
Jawaban:
Berikut beberapa organisasi penting dalam pergerakan nasional beserta tokohnya:
| No | Organisasi | Tahun Berdiri | Tokoh Utama |
|---|---|---|---|
| 1 | Budi Utomo | 1908 | Dr. Soetomo, Wahidin Soedirohusodo |
| 2 | Sarekat Islam (SI) | 1912 | Haji Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto |
| 3 | Indische Partij | 1912 | Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo |
| 4 | Muhammadiyah | 1912 | K.H. Ahmad Dahlan |
| 5 | Nahdlatul Ulama (NU) | 1926 | K.H. Hasyim Asy’ari |
| 6 | Perhimpunan Indonesia (PI) | 1925 | Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo |
| 7 | Partai Nasional Indonesia (PNI) | 1927 | Ir. Soekarno |
| 8 | Partai Indonesia (Partindo) | 1931 | Sartono |
| 9 | Gerindo | 1937 | A.K. Gani, Mohammad Yamin |
4. Sebutkan faktor internal dan eksternal munculnya pergerakan nasional Indonesia!
Jawaban:
1. Faktor Internal:
-
Penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.
-
Timbulnya kesadaran nasional di kalangan kaum terpelajar.
-
Kenangan akan kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara (Majapahit, Sriwijaya).
-
Munculnya golongan terpelajar pribumi hasil Politik Etis.
-
Peran media massa yang menyebarkan ide-ide kemerdekaan.
2. Faktor Eksternal:
-
Pengaruh Pergerakan Nasional di Asia dan Dunia, seperti kemerdekaan India, Filipina, dan kebangkitan Jepang (Restorasi Meiji).
-
Kemenangan Jepang atas Rusia (1905) yang menunjukkan bangsa Asia bisa menang atas bangsa Eropa.
-
Paham-paham baru seperti nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme dari Eropa.
-
Berkembangnya komunikasi global dan munculnya organisasi internasional.
Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional dari Madiun
RM.Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Ponorogo, 16 Agustus 1882 – 17 Desember 1934),salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, Ketua Sarekat Islam (SI). melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada masa itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimba ilmu, yaitu Sukarno, Muso dan Kartosuwiryo.
RM. Abikoesno Tjokrosoejoso, Ponorogo,15 Juni 1897 – 11 November 1968 adalah salah satu bapak pendiri Republik Indonesia dan penandatangan konstitusi. Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 (dikenal sebagai Piagam Jakarta). Setelah meninggalnya HOS Tjokroaminoto yg merupakan kakaknya, pada 17 Desember 1934, Abikoesno mewarisi jabatan sebagai pemimpin Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presidensial pertama Soekarno dan juga menjadi penasihat Biro Pekerjaan Umum.
Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo (Uteran, Madiun, 28 Agustus 1902 – 18 Mei 1997) adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.Sunario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II (sumpah pemuda)
Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, pahlawan nasional Indonesia, dokter di Keraton Surakarta (Yogyakarta, 21 April 1879 – Widodaren,20 September 1952) adalah:
- Boedi Oetomo
- BPUPKI pada tahun 1945 Pada tanggal 9 Agustus 1945, sehari setelah serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Radjiman bersama dengan tokoh nasionalis Soekarno dan Mohammad Hatta diterbangkan ke Saigon untuk bertemu dengan Marsekal Lapangan Hisaichi Terauchi.Uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.
Dr. Soeradji Tirtonegoro lahir pada 1887 di Desa Uteran, Madiun. tokoh kebangkitan nasional yang menjadi salah satu pendiri Budi Utomo. Dijadikan nama RS. Di Klaten karena jasa nya dalam penanggulangan penyakit pes pada waktu sebelum kemerdekaan.
Ki Hadjar Hardjo Oetomo Lahir di Kota Madiun,1903 dan meninggal 13 April 1952 dimakamkan di Pilangbango Madiun. Budi Oetomo, Syarekat Islam, dan Taman Siswa. Selain bergabung dengan organisasi tersebut, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga mendirikan organisasi pencak silat SH Pemuda Sport Club (SH-PSC) yang kemudian berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Di bidang ekonomi untuk membantu masyarakat lepas dari penindasan 'lintah darat', ia mendirikan perkumpulan Harta Djaja semacam koperasi.
Disarikan dari Wikipedia dan beberapa sumber lainnya
