Minggu, 01 Februari 2026

Ziarah Kubur, Nyadran, dan Bulan Ruwah

Ziarah Kubur, Nyadran, dan Bulan Ruwah

Tradisi Islam Nusantara antara Sunnah, Etika Pesantren, dan Polemik Tauhid

Pendahuluan

Setiap memasuki bulan Sya’ban—atau Ruwah dalam penanggalan Jawa—umat Islam di Nusantara secara turun-temurun melakukan ziarah kubur dan nyadran. Mereka mendatangi makam orang tua, leluhur, para wali, dan ulama yang dianggap berjasa dalam dakwah Islam. Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun, lintas generasi, lintas kerajaan, dan lintas pesantren.

Namun di era kontemporer, praktik ini kerap dipersoalkan. Sebagian kalangan menstigmatisasi ziarah kubur dan nyadran sebagai perbuatan syirik, bid’ah, bahkan “penyembahan kubur”. Polemik ini bukan sekadar soal praktik ibadah, tetapi menyentuh cara membaca sejarah, metodologi keilmuan Islam, dan relasi antara agama dan budaya.

Tulisan ini memadukan tiga sudut pandang sekaligus:
 (1) kajian fiqh dan hadis Ahlus Sunnah, (2) etika pesantren dan ulama Nusantara, serta (3) warisan pemikiran Jawa-Islam dalam serat-serat klasik.

Ziarah Kubur dalam Islam Normatif

Secara tegas, ziarah kubur memiliki dasar kuat dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ pada awalnya melarang ziarah kubur demi menjaga kemurnian tauhid generasi awal. Namun setelah akidah umat menguat, larangan itu dicabut:

“Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi ijma’ ulama. Keempat madzhab Sunni—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—sepakat bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah atau mustahab, selama dilakukan dengan adab dan akidah yang lurus.
Yang dikritik oleh para ulama bukan ziarahnya, melainkan kemungkinan penyimpangan: meminta kepada mayit, meyakini kubur sebagai sumber kekuatan mandiri, atau ritual berlebihan yang menyalahi tauhid. Dengan kata lain, Islam membedakan secara jelas antara ziarah sebagai ibadah etis dan penyimpangan akidah.

Nyadran sebagai Etika Sosial-Religius

Dalam konteks Nusantara, ziarah kubur berkembang menjadi tradisi nyadran. Secara praktik, nyadran mencakup:
ziarah dan doa untuk mayit,
membersihkan makam,
sedekah makanan,
silaturahmi sosial.
Jika dibaca dengan kacamata fiqh, seluruh unsur ini berada dalam wilayah amal yang dibolehkan, bahkan dianjurkan. Doa untuk mayit adalah sunnah. Sedekah bernilai ibadah. Silaturahmi memperkuat ukhuwah. Maka nyadran sejatinya adalah ekspresi kolektif dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Di lingkungan pesantren, tradisi ini dipahami sebagai latihan adab: merendahkan ego, mengingat kematian, dan menautkan diri pada sanad spiritual para ulama. Karena itu, pesantren tidak menjadikan makam sebagai objek pemujaan, melainkan sebagai wasilah pendidikan batin.

Bulan Ruwah: Simbol dan Spirit

Penamaan Ruwah berasal dari kata “ruh”, menandai fase refleksi tentang hidup dan mati. Dalam Islam, Sya’ban dikenal sebagai bulan persiapan Ramadhan, bulan penguatan batin dan taubat. Ziarah kubur di bulan ini bukan kebetulan, melainkan sinkronisasi simbolik antara ajaran Islam dan kosmologi lokal.
Tradisi ini tidak menambah akidah baru, tetapi memberi bahasa budaya bagi nilai universal Islam: eling marang pati (ingat mati), resik batin, dan siap menyongsong ibadah Ramadhan.

Perspektif Serat Jawa-Islam

Serat-serat klasik Jawa-Islam memberi lapisan pemahaman yang lebih dalam. Dalam Serat Wedhatama, khususnya pupuh Sinom dan Pangkur, manusia diajak menata diri melalui kesadaran etis, bukan spekulasi metafisik. Kematian dihadirkan sebagai cermin, bukan objek ketakutan atau pemujaan.
Dalam suluk-suluk seperti Suluk Wujil dan Suluk Malang Sumirang, makam dan kematian berfungsi simbolik: penanda kefanaan ego dan pintu kesadaran akan Gusti. Ini bukan manunggaling ontologis yang menyamakan hamba dan Tuhan, melainkan manunggaling etis—keselarasan laku manusia dengan kehendak Ilahi.
Ziarah kubur, dalam kerangka ini, adalah laku batin: melatih rendah hati, menundukkan rasa, dan menyadari keterbatasan diri.

Menjawab Stigma Syirik secara Akademik
Stigma “penyembah kubur” muncul dari pembacaan tauhid yang sangat literal dan ahistoris. Ia sering gagal membedakan antara:
wasilah dan ibadah,
penghormatan dan pemujaan,
simbol budaya dan keyakinan teologis.

Dalam ushul fiqh, menghukumi tradisi mayoritas dengan contoh penyimpangan minoritas adalah kekeliruan metodologis. Kritik teologis seharusnya bersifat spesifik, bukan generalisasi.

Penutup
Ziarah kubur dan nyadran di bulan Ruwah bukanlah praktik menyimpang dari Islam, melainkan ekspresi historis Ahlus Sunnah di Nusantara. Ia berdiri di atas sunnah Nabi, dirawat oleh pesantren, dan diperdalam oleh kebijaksanaan Jawa-Islam.
Selama doa ditujukan kepada Allah, makam dipahami sebagai pengingat, dan tradisi dijalankan dengan adab, maka ziarah kubur bukan ancaman tauhid, melainkan pendidikan kesadaran hidup.
Di titik inilah Islam Nusantara menunjukkan wajahnya: tidak reaktif, tidak kehilangan tauhid, dan tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Oleh : Gus Mamak Sewulan

Minggu, 04 Januari 2026

Kata Likur dalam hitungan Jawa


2026
- rong ewu nemlikur (Jawa Baru)

Bahasa Jawa Kuno ada 2 variasi : 
- rwang iwu rwang puluh enem
- rwang iwu nem likur

ASAL-USUL KATA "LIKUR"

Dalam bahasa Jawa Baru, penyebutan bilangan sesudah 20 [ rong puluh ] adalah dipakai kata "likur".  

Misal angka2 seperti  21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29 adalah: sĕlikur, rolikur, tĕlu likur, patlikur, nĕm likur, pitu likur, wolu likur, sångå likur.  [ kecuali 25 = selawé ].

Ini sebenarnya agak bergeser dari pola zaman Jawa pertengahan, dimana saat itu polanya ada dua, yaitu masih sama dengan pola Melayu :  memakai "puluh + angka satuan"  

Jadi misal 26
Melayu : Dua puluh + enam
Jawa  : Rwa + ng + puluh + enem (Rong puluh enem)

Saat itu pemakaian likur juga sudah dipakai. 
Jadi ada dualisme.

Bukti ?
Dalam naskah Calon Arang (pupuh 133: 2) terdapat kata "pitu likur", sedangkan dalam Kidung Rangga Lawe (pupuh 6: 27) terdapat kata "rong puluh pitu". Jadi saat itu ada dua penyebutan. 

Bukti lain misalnya naskah yang lebih tua, yaitu berbahasa Jawa Kuno juga ada yang menyebut 27 dengan istilah "pitu likur" yaitu dalam naskah Brahmāṇḍapuraṇa (bab 174: 14). 

Adapun dalam rontal Ādiparwa terdapat kata "rwang puluh papat" untuk menyebut bilangan 24 dan bukan "pat likur".

Bahasa Jawa, Malayu, Sunda, Madura, Bali, Tagalog, dsb adalah keturunan bahasa Proto Malayo-Polynesia. Jejak di Melayu yang kemungkinan juga memakai kata likur dahulu, terlihat dalam penyebutan "Malam Tujuh Likur". Jadi ada suatu masa dimana dulu likur dan puluh dipakai dua2nya. 

Dalam kamus Proto Malayo-Polynesia terdapat kata "likud" yang bermakna "kembali". 

Kata likud inilah yang kemudian berubah menjadi likur dalam bahasa Jawa karena pertukaran bunyi d & r.
* padi = pari
* pĕdih = pĕrih
* datu = ratu
* badak = warak
* udang = urang
Maka ....
* likud = likur

Maksudnya "kembali ke jari tangan" untuk menghitung setelah sebelumnya habis dipakai menghitung angka 1 sd 20 sesuai jumlah jari tangan dan kaki manusia. Nah setelah masuk angka 21 kembali ke setelan awal yaitu memakai tangan kanan.

Kita bayangkan begini, kita menghitung pakai jari tangan dan kaki ya..

1-5 : pakai jari tangan kanan
6-10 : pakai jari tangan kiri
11-15 : pakai jari kaki kanan
16-20 : pakai jari kaki kiri

Nah begitu sampai
21-25 : "kembali pakai jari tangan kanan" atau "likur".

Ini untuk pemakaian angka sehari2 yang biasanya tidak terlalu besar.

Saat Jawa Baru, penyebutan puluh untuk 21 - 29 bergeser ke likur. Sebaliknya Melayu justru meninggalkan likur, dan memakai puluh seperti saat ini.

Tentang likur : linggih kursi ya boleh saja buat filosofi, tapi jangan serius2 banget karena semua harus cek ke naskah lama dan kamus Austronesia.

Rujukan tulisan mas Heri Purwanto

Rabu, 12 November 2025

Pembahasan soal masa Pergerakan Nasional

 1. Jelaskan hubungan antara kebijakan politik etis dengan pergerakan nasional Indonesia!

Jawaban:
Kebijakan Politik Etis atau Etische Politiek adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 sebagai “balas budi” kepada rakyat Indonesia. Isi kebijakan ini mencakup tiga program utama, yaitu:

  1. Irigasi (pengairan) – untuk meningkatkan pertanian rakyat.

  2. Emigrasi – untuk pemerataan penduduk.

  3. Edukasi (pendidikan) – memberikan kesempatan pendidikan bagi pribumi.

Dari ketiga program tersebut, pendidikan memiliki dampak besar terhadap munculnya pergerakan nasional Indonesia. Pendidikan melahirkan kaum terpelajar pribumi (intelektual) yang mulai sadar akan ketidakadilan kolonial dan mulai berjuang untuk kemerdekaan. Jadi, hubungannya adalah:

Politik Etis → membuka akses pendidikan → lahir kaum terpelajar → tumbuh kesadaran nasional → munculnya organisasi pergerakan nasional.

2. Jelaskan peran pers dalam perjuangan pergerakan nasional Indonesia!

Jawaban:
Pers (surat kabar dan majalah) memiliki peran sangat penting dalam perjuangan nasional, yaitu sebagai alat penyebar informasi, pendidikan politik, dan pembangkit semangat nasionalisme.
Beberapa perannya antara lain:

  • Menyebarkan ide-ide kebangsaan dan menumbuhkan kesadaran nasional.

  • Mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat.

  • Menghubungkan organisasi-organisasi pergerakan dan menyatukan rakyat dari berbagai daerah.

  • Menjadi media komunikasi dan propaganda perjuangan.

Contoh surat kabar perjuangan:

  • Medan Prijaji (oleh Tirto Adhi Soerjo)

  • Oetoesan Hindia (oleh Sarekat Islam)

  • De Expres (oleh Douwes Dekker)

  • Hindia Baroe, dan lainnya.

3. Sebutkan organisasi-organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, dan siapa tokohnya!

Jawaban:
Berikut beberapa organisasi penting dalam pergerakan nasional beserta tokohnya:

NoOrganisasiTahun BerdiriTokoh Utama
1Budi Utomo1908Dr. Soetomo, Wahidin Soedirohusodo
2Sarekat Islam (SI)1912Haji Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto
3Indische Partij1912Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo
4Muhammadiyah1912K.H. Ahmad Dahlan
5Nahdlatul Ulama (NU)1926K.H. Hasyim Asy’ari
6Perhimpunan Indonesia (PI)1925Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo
7Partai Nasional Indonesia (PNI)1927Ir. Soekarno
8Partai Indonesia (Partindo)1931Sartono
9Gerindo1937A.K. Gani, Mohammad Yamin

 

4. Sebutkan faktor internal dan eksternal munculnya pergerakan nasional Indonesia!

Jawaban:

1. Faktor Internal:

  • Penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.

  • Timbulnya kesadaran nasional di kalangan kaum terpelajar.

  • Kenangan akan kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara (Majapahit, Sriwijaya).

  • Munculnya golongan terpelajar pribumi hasil Politik Etis.

  • Peran media massa yang menyebarkan ide-ide kemerdekaan.

2. Faktor Eksternal:

  • Pengaruh Pergerakan Nasional di Asia dan Dunia, seperti kemerdekaan India, Filipina, dan kebangkitan Jepang (Restorasi Meiji).

  • Kemenangan Jepang atas Rusia (1905) yang menunjukkan bangsa Asia bisa menang atas bangsa Eropa.

  • Paham-paham baru seperti nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme dari Eropa.

  • Berkembangnya komunikasi global dan munculnya organisasi internasional.

Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional dari Madiun

Tokoh Pergerakan Nasional dari Madiun


RM.Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Ponorogo, 16 Agustus 1882 – 17 Desember 1934),salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, Ketua Sarekat Islam (SI). melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada masa itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimba ilmu, yaitu Sukarno, Muso dan Kartosuwiryo.


RM. Abikoesno Tjokrosoejoso, Ponorogo,15 Juni 1897 – 11 November 1968 adalah salah satu bapak pendiri Republik Indonesia dan penandatangan konstitusi. Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 (dikenal sebagai Piagam Jakarta). Setelah meninggalnya HOS Tjokroaminoto yg merupakan kakaknya, pada 17 Desember 1934, Abikoesno mewarisi jabatan sebagai pemimpin Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presidensial pertama Soekarno dan juga menjadi penasihat Biro Pekerjaan Umum.


Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo (Uteran, Madiun, 28 Agustus 1902 – 18 Mei 1997) adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.Sunario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II (sumpah pemuda)


Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, pahlawan nasional Indonesia, dokter di Keraton Surakarta (Yogyakarta, 21 April 1879 – Widodaren,20 September 1952) adalah:

- Boedi Oetomo

- BPUPKI pada tahun 1945 Pada tanggal 9 Agustus 1945, sehari setelah serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Radjiman bersama dengan tokoh nasionalis Soekarno dan Mohammad Hatta diterbangkan ke Saigon untuk bertemu dengan Marsekal Lapangan Hisaichi Terauchi.Uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.



Dr. Soeradji Tirtonegoro lahir pada 1887 di Desa Uteran, Madiun. tokoh kebangkitan nasional yang menjadi salah satu pendiri Budi Utomo. Dijadikan nama RS. Di Klaten karena jasa nya dalam penanggulangan penyakit pes pada waktu sebelum kemerdekaan.


Ki Hadjar Hardjo Oetomo Lahir di Kota Madiun,1903 dan meninggal 13 April 1952 dimakamkan di Pilangbango Madiun. Budi Oetomo, Syarekat Islam, dan Taman Siswa. Selain bergabung dengan organisasi tersebut, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga mendirikan organisasi pencak silat SH Pemuda Sport Club (SH-PSC) yang kemudian berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Di bidang ekonomi untuk membantu masyarakat lepas dari penindasan 'lintah darat', ia mendirikan perkumpulan Harta Djaja semacam koperasi.


Disarikan dari Wikipedia dan beberapa sumber lainnya





Kamis, 06 November 2025

sesorah / Tanggap Wacana

Sesorah/Tanggap Wacana
1.Pangerten 
Sesorah yaiku micara gagasan utawa panemu sarana lisan ana ngarepe wong akeh. Sesorah ana ing Bahasa Indonesia jenenge pidato. Sesorah iku katindhaake ana ing acara formal.Sesorah katindakake wong jawa.utamane menawa ana upacara adat.Upacara adat kang butuhake acara sesorah yaiku :

a.Upacara mantenan jangkep.
b.Sunatan ( Supitan )
c.upacara nyadran, selamatan lan sapanunggalane.

2.Jenis Pidhato/Sesorah
a.miturut gunan, sesorah kabagi dadi pirang-pirang jinis, yaiku : sabdatama(sesorah tunggal),pambagyaharja(mahargya rawuhe tamu),tanggap wacana(sesorah kang kudu antuk tanggapan)
b.miturut ancase pidato
1.atur pambagya : sesorah kangge nampi rawuhipun para tamu,wonten ing acara menapa kemawon,umpaminipun:ing pahargyan (pesta),sukuran, lsp
2.pawarta utawi informasi
Informasi saget arupi palapuran utawi nyariosaken satunggale bab dhateng pamiarsa, pramila bab ingkang kawedharaken kedah gamblang/cetha.
Tuladha:sesorah ing rapat,promosi barang,lan sakpanunggalane.
3.atur panglipur/hiburan ( ancasipun supados ingkang mirengaken remen penggalihipun)
Tuladha:ing layatan, atut saking pambela sungkawa.
4.Pangajak
Ancasipun supados ingkang mirengake pitados.kapilut manahipun saengga purun nindakaken menapa ingkang dipunwedharaken.
Tuladha: Panyuluhan Kesehatan

3.Perangane Sesorah
Supados anggenipun sesorah saget runtut,prayogane mangerteni rantamane sesorah.rantamane sesorah yaiku :
A.Uluk Salam(kulanuwun, sugeng ndalu lan sanese )
B.Purwaka( puji syukur kagem gusti lan panuwun kagem para tamu)
C.Isi / wigatining atur ( ngandarake ancasing acara kang dipuntindakaken)
D.Pangarep - arep ( panyuwun utawi pangajeng - ajeng saking tiyang kang kagungan kersa dhateng para tamu )
E.Panutup(isi atur panuwun )

4.Cengkorongane Sesorah
Urutane Cengkorongan
a.salam pembuka ( ngucapake uluk salam)
b.purwaka(isine ucapan syukur)
c.isi/wigatining atur( bab apa wae kang badhe diaturaken )
d.pangarep - arep ( isine bab lang diauwunake marang para tamune umpamane donga lan pitutur.


Tuladha
Bab : Atur Pambagya “Supit”

Assalamualaikum wr wb
Sugeng Dalu para rawuh…

Dumateng Para Bapak Ibu, ingkang kula hormati. Ugi para rawuh sedaya Kakung saha putri ingkang Kula tresnani.

Kaping setunggal, mangga Kula panjenengan Kula derekaken sareng muji syukur dumateng ngersanipun Gusti ingkang murbeng dumadi Ingkang sampun maringi  rahmat lan kanikmatan dumateng kula lan panjenengan sedaya.

Kaping kalihipun Sholawat saha salam kunjuk dumateng Nabi agung Nabi Muhammad SAW.

Kaping tiganipun kula nyuwun agunging pangaksami amargi sampun wantun, matur wonten ngajeng panjenengan Sedaya.

Para rawuh ingkang Kula hormati, minangka sesulih saking Bapak ugi ibu, Kula ngaturaken Sugeng  rawuh wonten ing Gubuk kula menika, Kula nyuwun duka ingkang Ageng, mbok bilih wonten suguh utawi gupuh ingkang kirang mranani penggalih. 

Para rawuh ingkang Kula hormati, ancasipun panjenengan Sedaya dipun aturi rawuh wonten dalem mriki nggih menika , nyuwun pangestunipun ugi nyekseni anggenipun Adik Kula Nami : Surya Saputra ingkang sampun ngancik dewasa, nglampahi wajibing lare jaler, inggih menika Selam utawi Supit. Alhamdulillah, anggenipun Supit sampun paripurna, Mugi enggal pulih sarta angsal barokahipun Gusti ingkang murbeng dumadi. 

Para rawuh ingkang kula hormati, 
Cekap semanten, Kula matur, sak lajengipun, para rawuh dipun aturi, dahar kembul, sak wontenipun. Kawulo sumanggaaken, nuwun. 
Wassalamu'alaikum wr. WB. 

Rabu, 29 Oktober 2025

Tepa Selira

Tepa Selira: Etika Sosial Jawa Kang Ngrumat Harmon

🌺 Pambuka

Pepatah sepuh ngendika: “Tepa selira luwih becik tinimbang sak wulune emas.”
Tegese, wong sing bisa ngrasakake wong liya luwih aji tinimbang bandha. Ing filsafat Jawa, tepa selira dudu mung sopan santun, nanging prinsip sosial, politik, lan spiritual kang dadi pondasi harmoni bebrayan. Wong Jawa yakin, tanpa tepa selira, urip mung bakal dadi rebutan kepentingan pribadi sing ngrusak kerukunan.

🌿 1. Definisi lan Filosofi Tepa Selira

Tepa = tata, ukuran.

Selira = aku, awak pribadi.

Tepa Selira = ngukur awake dhewe nganggo ukuran wong liya.

Filsafat dasar: “Aja nglakoni marang liyan sing kowe ora kepengin dilakoni marang awakmu.”

Ing Serat Wulangreh (PB IV) ana pepeling:
“… aja dumeh, aja kumawani, tepa-tepa ngukur dhiri, ngukur liyan, supaya rukun lan rahayu.”
Iki nuduhaké yèn tepa selira minangka inti etika sosial Jawa: ngendhalèkaké ego kanggo njaga harmoni.

🧭 2. Akar Historis lan Budaya

Ing struktur masyarakat Jawa tradisional, harmoni dadi nilai utama. Konflik dihindari, lan penyelesaiannya luwih milih jalan alus tinimbang konfrontasi langsung.

Tepa selira dadi mekanisme sosial tanpa tulisan, nanging luwih kuwat tinimbang hukum formal, amarga diatur dening rasa isin, sungkan, lan ewuh-pakewuh.

Ing jaman keraton, pranatan iki katon cetha ing basa krama lan tata krama kraton, sing banjur mlebu menyang masyarakat desa.

⚖️ 3. Peran Tepa Selira ing Tatanan Sosial

a. Bahasa lan Unggah-ungguh

Basa Jawa nduwèni tingkat: ngoko, madya, krama, krama inggil.

Nggunakake basa sing pas dadi bentuk tepa selira: ngajeni wong tuwa, nganggep kanca, utawa nyungkemi pangkat wong liya.

Yen wong nganggo basa ora trep, dianggep ora tepa selira, lan bisa ngrusak hubungan sosial.

b. Gotong Royong lan Sambatan

Nalika ana wong gawe omah utawa hajatan, kabeh tetangga melu.

Sing ora melu bakal dianggep ora tepa selira: mung mikir awake dhewe, ora mikir bebrayan.

c. Slametan lan Ritual Sosial

Slametan dadi pranata integrasi sosial.

Kabeh warga diundang, supaya ora ana sing rumangsa “ditinggal”. Iki salah siji praktik tepa selira paling konkret.

d. Etika Bebrayan

Wong Jawa luwih milih ngendhaleni rasa nesu tinimbang nuduhaké konflik.

Basa alus, guyonan sindiran, utawa meneng dadi strategi tepa selira supaya ora ngrusak kerukunan.

🌸 4. Dimensi Psikologis

Tepa selira nglairaké sungkan, isin, lan ewuh-pakewuh.

Iki ora mung sifat negatif, nanging cara Jawa ngontrol ego pribadi supaya ora ngrusak harmoni.

Wong sing ora nduwé tepa selira asring dianggep “ora njawani”, tegese ora nduwé rasa pantes minangka wong Jawa sejati.

🕯️ 5. Dimensi Spiritual

Ing kawruh Kejawèn, tepa selira iku tirakat batin: ngempet karep lan ego demi keseimbangan jagad cilik (manungsa) lan jagad gedhé (alam & Gusti).

Wong sing nglarani wong liya, sejatiné ngregedhi atiné dhewe lan bakal adoh saka pepadhangé Gusti.

Pepeling Serat Centhini: “Wong urip kudu bisa ngrasakake sedhih lan bungahé liyan, amarga kabeh dumadi saka sumber kang siji.”

Tegese: tepa selira nyambung karo konsep manunggaling kawula Gusti – harmoni sosial minangka bagian saka harmoni kosmis.

📚 6. Riset Antropologis

Clifford Geertz (1960): Tepa Selira minangka “kontrol sosial non-formal” sing njaga masyarakat Jawa supaya tetep rukun.

Hildred Geertz (1961): Ing kulawarga Jawa, hubungan antar generasi dikontrol nganggo tepa selira, liwat basa, tata krama, lan rasa sungkan.

Koentjaraningrat (1985): Tepa Selira dadi inti etika Jawa, sing digandhengaké karo konsep rukun lan nrima. Iki sing nggawe wong Jawa luwih milih kompromi tinimbang konfrontasi.

🌞 Pungkasan

Tepa Selira iku inti etika sosial Jawa, sing maknané:

Nglatih rasa: ngerti lan ngrasakake wong liya.

Nglatih batin: ngendhalékaké karep pribadi.

Ngikat sosial: njaga harmoni lan gotong royong.

Ngajeni spiritual: selaras karo Gusti lan jagad.

“Wong Jawa sejati iku dudu sing paling banter swarane, nanging sing paling alus rasane. Wong sing bisa tepa selira, uripe bakal tentrem, bebrayane bakal rukun, lan jiwane bakal nyawiji karo pepadhang.”

#ilmurasa #ilmujawa #ilmuleluhur

Sabtu, 25 Oktober 2025

Makna Simbolik Pada Lagu Dolanan “Nyata kowe Wasis”


Makna Simbolik Pada Lagu Dolanan “Nyata kowe Wasis”

NYATA KOWE WASIS
Nyata kowe wasis sis
Bedheken sing gelis lis lis lis
Cangkriman telu iki
Jangkring sungut slawe batangane apa
Manuk endhase telu batangane apa
Bapak demang mang mang
Klambi abang bang bang bang
Disusuk mantuk-mantuk

Makna Lagu Dolanan “Nyata Kowe Wasis”
Analisis Simbolik Pada Lagu Dolanan “Nyata kowe Wasis”
            Lagu dolanan “Nyata Kowe Wasis” termasuk cangkriman atau permainan logika jawa dan ada pula yang menyebutya teka-teki jawa. Cangkriman sering disebut sebuah pertanyaan tradisional yang yang membutuhkan pemikiran supaya bisa menebak teka-teki tersebut. Cangkriman sendiri biasanya digunakan untuk percakapan dan mengisi kekosongan waktu, ada juga digunakan para pelawak dalam pentas dan dagelan.
            Cangkriman sendiri ada beberapa macam, diantaranya ada cangkriman asosiatif ( hubungan asosiasi antar dua benda atau lebih), cangkriman barbau erotis cangkriman yang humor tetapi vulgar), cangkriman humor (riddle joke), cangkriman tembang (riddle poetry), cangkriman pemendekan kata/ cangkriman wancahan ( gabungan 2 kata atau lebih yang sengaja dipendekan), cangkriman pertanyaan cerdik ( menampilkan pertanyaan yang cerdik dan kritis),  cangkiman permainan kata (punning), cangkriman ploblematik cangkriman yang mengandung masalah).
            Lagu dolanan “Nyata Kowe Wasis” termasuk cangkriman tembang atau riddle poetry, karena pada lagu dolanan diatas merupakan teka-teki atau berupa pertanyaan dalam sebuah lagu yang dinyanyikan untuk mengisi waktu kosong, seperti yang terdapat pada lirik lagu ini jika di alihbahasaka dalam bahasa indonesia “nyata kowe wasis sis”// jika kamu cerdik// “bedheken sing gelis lis lis lis”// terkalah atau tebaklah dengan cepat//  “cangkriman telu iki”// tiga teka-teki ini// “jangkrik sungut slawe batangane apa”// jangkrik bersungut dua puluh lima apa terkaanya// “manuk endhase telu batangane apa”// kepalanya tiga terkaanya apa// “bapak demang mang mang klambi abang bang bang bang disusuk manthuk-manthuk”//bapak demang berbaju merah jika disunduk akan mengangguk-angguk//. 
            Riddle poetry diatas menggambarkan sebuah teka-teki pertanyaan yang menggunakan tembang, bisa saja tembang pocung dan bisa juga menggunakan lagu dolanan anak-anak.
      Pada lagu ini di simbulkan bahwa “Jangkrik sungut slawe” ( jangkrik bersungut benang ) adalah sekoci mesin jahit yang mengikat benang dari bawah stitch, atau gulungan benang dalam bambu benang bahkan pada alat tenun tradisional.  “Manuk dhase telu”  Burung atau ayam yang kepalanya bersembunyi pada bulu sayap. Telu dari kata “tel-dibuntellu- wulu” . “Pak demang klambi abang” adalah bunga pisang  atau “jentut”. Jika ditusuk pasti pohon pisang itu bergoyang-goyang.

Kesimpulan Analisis
            Lagu dolanan “Nyata Kowe Wasis” merupakan cangkriman yang tergolong tembang dolanan yang liriknya bebas tidak terikat guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (sajak akhir) dan biasanya dinyanyikan dengan cara bermain lalu melontarkan teka-teki jawa seperti yang tertulis di dalam lirik lagu diatas.
            Selain sebagai lagu pengisi watku kosong, cangkriman juga mempunyai manfaat atau pendidikan pada anak-anak kecil, biasanya menggunakan lafal dan bahasa yang umum ( menyesuaikan pada foklor anak) dan kata-kata di dalam teka-teki jawa tersebut. Manfaat lain dalam segi intelegensi anak akan merasa terpancing meski respon dari anak-anak lama dalam menjawab cangkriman,karena anak akan terpancing untuk berfikir dan bertanya. Dan setelah mereka tahu, akan membentuk hubungan antar teman sebayanya dengan alami karena lagu dolanan itu membuat mereka menjadi akrab tanpa membedakan jenis kelamin dan golongan keluarga miskin maupun kaya.
 Biasanya setiap daerah mempunyai lagu dan jenis dolanan yang berbeda tetapi istimewanya dalam hal ini tanpa proses ijin dari pemilik lagu setiap daerah itu dengan sendirinya akan ikut mengalami perubahan dan perkembangan meskipun ada ciri khas dari lagu setiap daerah. Kapethik saka: ancasing Gesang.blogspot.com

Senin, 20 Oktober 2025

Dasanama

Dasanama

Dasanama adalah persamaan istilah suatu kata dalam bahasa Jawa yang memiliki makna sama atau hampir serupa.

Janaka    : Arjuna, Premadi, Margana, Pamadya, Dananjya, Mintaraga, Ciptahening, Prabu Kariti, Kendhitatnala, Palguna, Kombang Ali-Ali, lamprong, Endra Putra, Endra Tanaya, Wijanarka.

Werkudara    :Bima, Bratasena, Wijasena, Bayu Suta, Bayu Putra, Arya Panenggak, Jagal Bilawa.

Puntadewa    :Yudhistira, Wijakangka, Gunatali, Krama, Ajata Satru. 

Kresna    :Nayarana, Padmanaba, Wresniwira, Ari Murti, Wisnu Murti, Wasu Dewa Putra, Narasinga.

Anoman    :Anjani Putra, Kapiwara, Rewandapingul, Wanara Seta, Senggana, Rama Handayapati.

Duryudana    :Kurupati, Suyudana, Dastradmaja, Gendari Suta, Jakapitana, Tri Panangsah, Pambangun Kuru, Kurendra Pati. 

Semar    :Ismaya, Badranaya, Nayantaka, Sukma Sejati, Sukma Ekalaya.

Bathara Guru    :Girinata, Sang Hyang Jagad Nata, Pukulan Pramesthi, Ciwa Maha Dewa.

Kuning    : Jenar, kaporanta, pita

Lanang     : Jaler, jalu, priya, purusa, kakung

Langit    : Boma, bomantara, akasa, antariksa, wiyat, wiyati, cakrawala, gagana, widik-widik, byoma, antarariya

Lintang    : Kartika, sasa, sudama, tranggana, wintang

Macan    :Mong, sardula, singa

Mangan    :Boga, bukti, dhahar, madhang, nadhah, nedha

Manuk    :Kaga, kukila, paksi, peksi

Manungsa    :Jalma, jana, janma, manus, nara, wong

Mata    :Aksi, eksi, mripat, pandulu, netra, soca

Mayit    :Bangke, jisim, kunarpa, kuwanda, wangke, sawa

Buta    :Asura, danuja, diyu, ditya, denawa, yaksa, kelana, raseksa, wil

Dalan    :Marga, sopana, ênu, lêbuh, lurung, yana, hawan

Dewa    :Absara, dewata, bathara, jawata, amara, rêsi-gana, hyang, widadara, nasa, sura

Gajah    :Asti, dirada, èsthi, dwipangga, liman, dipa, diradha

Gawe    :Makarya, ambangun, karya, kardi, karti, yasa

Geni    :Agni, api, dahana, brama, pawaka, siking, guna, puyika, latu, puya

Getih    :Ludira, rah, rudhira

Gunung    :Aldaka, ancala, ardi, bukita, giri, meru, parwata, prabata, redi, wukir

Ibu    :Biyang, biyung, indhung, puyengan, rena, wibi

Ireng    :Cemeng, langking, kresna, jlitheng

Abang    :Abrit, mbranang, dadu, jingga, merah, rekta

Alas    :Wana, bana, tarataban, girang, lirang, utan, baga, wulusan, wêlahan, wanawasa, wanadri, jênggala, kênana

Anak    :Suta, putra, sunu, yoga, siwi, wêka, tanaya, atmaja, siwaya, ja, patut, banu

Angin    :Riwut, bajra, sindhung, anila, bayu, aliwawar, tata, barat, samirana, wirayang

Ati    :Driya, galuh, kalbu, nala, panggalih, prana, tyas,

Awak    :Angga, badan, raga.

Banyu    :Her, warih, ranu, sindu, tirta, we, jala.

Bapak    :Rama, sudarma, sudarmi, yasadarma, yayah

Bledheg    :gludhug, grah, guntur, gumita, pater, thathit Bajra, erawati, gelap,

Bumi    :Bawana, buwana, bantala, basundra, jagad, kisma, mandhala, pratiwi, pratala.

Iwak    :Mina, jita, matswa, oti, wiyangga, mira, maswa

Jaran    :Swa, aswa, turangga, wajik, undhakan, kalangkya

Jeneng    :Bisikan, parab, juluk, têngran, sêbut, wêwangi, asma, sambat, têngêran

Kali    :Bangawan, lepen, loh,narmada 

Kanca    :Kanthi, rowang, rewang, graya, pasaya

Kayu    :Kadi, kadya, lir, mimba, pendeh, pindha, yayah

Kebo    :Maesa, misa, mundhing

Kembang    :Kusuma, padma, puspita, sekar

 Kethek    :Juris, kapi, munyuk, palwaka, pragosa, rewanda, wanara, wre

Kraton    :Dhatulaya, kadhaton, kadhatun, pura, puri

Mati    :seda Antaka, ngemasi, lalis, lampus, layon, lena, mancal donya, murud, padhem, palastra, pralaya, pralena

Misuwur    :Kajanapriya, kajuwara, kalok-kaloka, kasub, kawarti, kasusra, kawentar, kondhang, kongas, kontap

Omah    :Graha, griya, panti, wisma, yasa

Panah    :Astra, bana, jemparing, naraca, sara, warastra

Pandhita    :Ajar, dwija, dwijawara, maharsi, mahayeksi, muni, resi, suyati, wiku, wipra,

Perang    :Bandayuda, jurit, laga, pupuh, rana, yuda

Pinter    :Guna, lebda, limpad, nimpuna, putus, wasis, widagda, widura, wignya

Putih    :Dwala, pingul, seta

Ratu    :Aji, buminata, bumipati, dhatu, katong, naradipa, naradipati, narpa, narpati, narendra, nareswara, nata, pamasa, parameswara, raja, sri, sribupati

Rembulan    :Badra, basanta, candra, lek, sasadara, sasangka, sasi, sitoresmi, sitengsu, wulan

Rambut    :Rikma, weni, keswa, roma, sinom, jatha, rema

Segara    :Ernawa, jalanidhi, jaladri, laut, samodra, tasik, udaya

Sedhih    :Duhkita, kingkin, margiyuh, rimang, rudah, rudatin, rudatos, rudita, sungkawa, susah, tikbra, turida, wigena

Senapati    :Bretyapati, hulubalang, narawara, senapatya

Sirah    :Kumba, murda, mustaka, ulu, utamangga

Selamet    : Basuki, raharja, rahayu, swasta, sugeng, yuwana, widada 

Srengenge    :Arka, aruna, bagaskara, bagspati, baskara, dewangkara, pradangga, raditya, radite, rawi, surya,

Ula    :Naga, sarpa, sawer, taksaka

Wadon    :Dayinta, dyah, gini, juwita, kusuma, putri, retna, rini, wanita, wanodya, widawati

Weruh    :Anon, myat, priksa, udani, uning, uninga, upiksa, wikan, wrin



Selasa, 07 Oktober 2025

Asking for Opinion and Giving Opinion - Analitycal Exposition



Asking for Opinion and Giving Opinion

Asking for Opinion in an Informal Situation

  • What do you think about …? (Apa pendapatmu tentang…?)
  • What’s your opinion about…? (Apa pendapatmu tentang…?)
  • How do you feel about…? (Bagaimana perasaanmu tentang …?)
  • Any comments? (Ada komentar?)
  • How about…? (Bagaimana tentang…?)
  • I need your opinion about … (Aku butuh pendapat kamu tentang …)
  • In your honest opinion…? (Menurut pendapat jujur kamu …?)

Formal Situation

Would you give me your opinion on banning fast food in school?
Do you have any idea about banning fast food in school?
What is your view on banning fast food in school?
What do you think about banning smartphone in school?
 

Giving Opinion
  • I personally believe that ….
  • According to me, ….
  • In my opinion, ….
  • I think that ….
  • I totally agree / disagree that….
Look at the picture below, and give your opinion!




Practice , Giving opinion


1. I need your opinion about the weathers to day.

2. In your honest opinion, Are we have some contribution in global warming

3. what is your comment about The bad impact of using single plastic for life?


Gives Opinion and the Arguments based on the issues below!

1. Using single bottle plastic as daily drinking water2. Using plastic as food wrapping
3. illegal logging cause overflood
4. how if Rubbish is not managed properly
5. pollution is caused by factory building in urban area /downtown
6. using fossil energy in excessively is very dangerous
7. Styrofoam is harmful to the environment
8. Modern buildings can increase effect global warming
9. fast food is harmful for our health


Idea / Issue :
...............................................................................................................................................................
...............................................................................................................................................................


Arguments :
...............................................................................................................................................................
...............................................................................................................................................................


conclusion/reiteration
...............................................................................................................................................................
...............................................................................................................................................................





Analytical Exposition Text


Exposition text adalah sebuah teks yang menyajikan satu sudut pandang tentang sebuah isu. 

Sedangkan analytical exposition text adalah sebuah teks yang berisikan pendapat penulis

tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Baik itu suatu benda, tempat, ataupun kejadian,

tanpa mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu.



Dari pengertian di atas, kita bisa tahu kalau analytical exposition text berisi pemikiran penulis tentang hal-hal yang terjadi di sekitarnya, baik benda, kejadian, ataupun tempat. Teks ini termasuk dalam argumentative text karena menunjukkan suatu pendapat (argumen) terhadap sesuatu. 

The Purpose of Analytical Exposition 

Analytical exposition text yakni untuk meyakinkan pembaca bahwa topik yang dihadirkan adalah topik yang penting untuk dibahas. Kamu perlu ingat, kalau analytical exposition text tidak “berusaha” untuk mengubah sudut pandang pembacanya. Jadi, teks ini murni hanya berisi pendapat penulis.



1. Penulisan analytical exposition text menggunakan simple present tense.

2. Menggunakan kata-kata yang mengekspresikan pikiran atau perasaan penulis, contohnya: experience, feel, know, realize, sense, think, dll.

3. Menggunakan connective words yaitu kata penghubung. Penggunaan connective words bertujuan untuk menghubungkan antar ide, baik itu frasa, klausa, kalimat, maupun paragraf.

·       Connective words ini banyak fungsinya. 3 fungsi dari kata hubung yang paling sering dipakai dalam analytical exposition text adalah:

·       Adding information, yaitu menambahkan informasi. Contohnya seperti and, moreover, beside that, in addition, dan also.

·       Contrasting information, yaitu mengkontraskan sesuatu. Contohnya seperti but, however, dan even though.

·       Causality, yaitu menunjukkan sebab-akibat. Contohnya seperti because, therefore, thus, so, consequently, despite, due to, for that reason, dll.

 Example : 


Assessment for Learning :

Arranges an Analytical Exposition, based on the some idea below:

1. Using single bottle plastic as daily drinking water
2. Using plastic as food wrapping
3. illegal logging cause overflood
4. how if Rubbish is not managed properly
5. pollution is caused by factory building in urban area /downtown
6. using fossil energy in excessively is very dangerous
7. Styrofoam is harmful to the environment
8. Modern buildings can increase effect global warming
9. fast food is harmful for our health






Senin, 29 September 2025

Hortatory Exposition Text

 Pengertian Hortatory Exposition Text 

Hortatory exposition text adalah teks eksposisi yang bertujuan meyakinkan pembaca untuk melakukan tindakan tertentu atau mengubah pandangan mereka tentang suatu masalah. Teks ini biasa disebut juga dengan persuasive exposition.

Karena bersifat persuasif, hortatory exposition text seringkali didukung oleh alasan moral atau nilai-nilai tertentu agar pembaca setuju dengan pandangan atau pendapat penulis, kemudian dapat mengambil langkah-langkah konkret sesuai dengan apa yang disarankan. 

Contoh topik yang cocok untuk hortatory exposition text adalah kampanye sosial seperti pentingnya menjaga lingkungan, mengurangi global warming, peduli kebersihan dan kesehatan dan lain-lain

Hortatory Exposition Text

Structure

Hortatory exposition text memiliki 3 struktur, yaitu:

1. Introduction / Thesis

As usual, struktur sebuah teks biasanya akan dimulai dengan introduction atau thesis. Dalam hortatory exposition text, pada bagian ini penulis bisa memperkenalkan topik atau masalah yang akan dibahas serta menyajikan pendapat atau pandangan yang akan dijelaskan lebih lanjut dalam teks.

Pendahuluan ini bertujuan untuk memperkenalkan pembaca kepada isu yang akan dibahas dan membuat mereka tertarik untuk membaca lebih lanjut.

2. Argument

Struktur kedua dari hortatory exposition text yaitu arguments atau alasan yang mendukung pendapat / pandangan sang penulis terkait dengan topik yang dibahas. Argumen-argumen ini umumnya akan didukung oleh fakta, data, atau bukti yang relevan untuk memperkuat persuasinya. 

Supaya lebih meyakinkan, penulis juga bisa menggunakan analogi, perbandingan, atau contoh konkret untuk memperjelas pendapat yang sudah dikemukakan di awal.

3. Recommendation

Terakhir, penulis bisa menutup teks dengan memberikan recommendation, yakni berupa saran atau ajakan kepada pembaca tentang tindakan yang harus diambil atau pandangan yang harus diadopsi berdasarkan pada argumen yang telah disajikan sebelumnya. 

Rekomendasi ini dapat berupa ajakan untuk bertindak, mengubah perilaku, atau mengadopsi pandangan tertentu terkait dengan topik yang dibahas.