Sabtu, 27 Juni 2026

Kyai Mukti

456 KM Ngontel: Kyai Mukti Tembus Hutan Baluran Demi Hadir Di Muktamar NU 1934

KH. Abdul Mukti adalah ulama kharismatik, pejuang kemerdekaan, dan penggerak utama Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Nama beliau sangat melegenda dengan sejarah Banyuwangi karena aksi heroiknya mengendarai sepeda ontel dari Jarak Desaa Beran, Kecamatan Ngawi dengan Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi jika dilihat di Google Maps, jaraknya tak kurang dari 456 kilometer.

Jarak yang demikian jauh itu, ditempuh oleh Kiai Abdul Mukti dengan mengendarai sepeda ontel alias sepeda kayuh demi menghadiri Muktamar ke-9 NU pada April 1934 M. silam.

Bersepeda pada zaman itu, bukanlah hal yang menyenangkan sebagaimana hobi orang gowes dewasa ini. Selain kenyamanan bersepeda sangat terbatas, keamanan pun sangat rawan.

Jika misalnya Kiai Mukti harus melewati Pantura atau jalur Deandles, ia harus melewati hutan Baluran sebelum mencapai Banyuwangi. Sedangkan jika menempuh perjalanan lewat Jember, mau tak mau harus menembuh Gunung Gumitir. Dua pilihan yang tak mudah. Dua jalur yang masih banyak binatang buas dan rampok pada masa itu.

Kesaksian yang diungkapkan oleh KH. Muchit Muzadi dalam biografinya Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit itu, menggambarkan bagaimana kecintaan Kiai Mukti pada Nahdlatul Ulama, organisasi yang didirikan oleh gurunya, KH. Hasyim Asy’ari.

Kiai Mukti sebenarnya berasal dari Jetis, Ponorogo. Ia lahir pada 12 Desember 1908 dari pasangan Asfai dan Markamah. Orang tuanya tersebut hanyalah petani kecil. Meski berasal dari keluarga sederhana, Mukti yang merupakan anak terakhir dari empat bersaudara itu memiliki semangat belajar yang tinggi.

Sejak berusia delapan tahun, Mukti memulai petualangan intelektualnya ke sejumlah pesantren. Sebagaimana diungkapkan oleh Hengki Puastono dalam skripsinya di UIN Sunan Ampel yang berjudul KH. Abdul Mukti dan Pengembangan Islam di Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi itu, pesantren yang pertama kali dituju adalah Pesantren Banjarsari, Minggiran, Kediri. Lalu, ia melanjutkan ke Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu masih diasuh pendirinya, KH. Hasyim Asy’ari. Di sinilah kelak, kecintaan Mukti kepada NU mulai bersemi.

Setelah dari Jombang, Mukti muda menimba ilmu di Pesantren Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo. Juga pernah di Pesantren Mangunsari dan Pesantren Langitan di Tuban. Sebelum kembali ke kampung halamannya, Mukti juga sempat ngalap barokah di Pesantren Kasingan, Rembang.

Kedalaman ilmu dan keluruhan akhlak dari Mukti muda, memantik kepercayaan masyarakat Jetis. Pada usia yang masih relatif muda, 20 tahun, Mukti telah dipercaya untuk mengajar di Madrasah yang ada di kampung halamannya. Tak lama kemudian ia diambil menantu oleh KH. Imam Iskandar asal Dusun Ngendut, Desa Pucanganom, Kec Kebonsari, kab Madiun.

Tak seberapa lama dari pernikahannya tersebut, tepatnya pada 1930, ia pindah ke Desa Beran, Ngawi. Kepindahannya tersebut atas ajakan dari Kiai Thohir. Nama terakhir tersebut adalah seorang yang memiliki perhatian yang tinggi terhadap agama serta banyak mewakafkan kekayaannya demi syiar Islam. Kiai Mukti diberikan fasilitas guna mengajarkan Islam kepada penduduk Beran dan sekitarnya.

Seiring waktu, Kiai Mukti tak sekadar menjadi guru ngaji biasa. Ketokohannya mulai muncul. Lebih-lebih ketika beliau aktif di Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah satu tokoh yang merintis NU di Kabupaten Ngawi.

Pada 1936, beliau disebutkan menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Ngawi sebagaimana tertulis di skripsi tersebut di atas. Kiprah keorganisasian K.H Abdul Mukti tidak terbatas pada menghidupkan roda NU di wilayah Ngawi saja, namun merambat ke dunia pemerintahan daerah Ngawi, hingga mengantarkannya menjadi (plt) Bupati Ngawi era GESTAPU.

Waba’du, kegigihan dan kecintaan, ayah mertua dari K.H Hasan Abdulloh Sahal (Pengasuh Gontor) ini kepada NU, tak luntur sepanjang hayat. Hingga ajal menjemput K.H Mukti pada 14  Februari 1976 dengan meninggalkan banyak monumen perjuangan. Seperti halnya madrasah dan masjid.
Selamat Harlah NU ke-103. Lahul Fatihah… 

By: Kisah Kramat Wali Wali Allah 
Sumber: Manuskrip manaqib KH. Abdul Mukti didasarkan pada buku Berjuang Sampai Akhir, Serta Riwayat lisan dari keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor

Kamis, 25 Juni 2026

Prasasti Gemekan (Masahar)

Prasasti Masahar ditemukan sekitar 130 cm di bawah permukaan tanah di dekat reruntuhan candi di tengah bidang tanah sawah milik Mukid, seorang warga setempat. Reruntuhan tersebut yang terkubur dalam gundukan tanah dianggap angker oleh penduduk, sehingga dibiarkan selama puluhan tahun.

Prasasti diekskavasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur (BPCB Jatim) pada tanggal 7-12 Februari 2022 dan didanai oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kaloka di Malang. Orang yang ditunjuk untuk mempelajari dan menerjemahkan isi prasasti tersebut adalah Ismail Lutfi, seorang epigraf.

Dalam prasasti ini diceritakan sebuah peristiwa penetapan sebidang tanah sawah tarukan di desa Masahar di wilayah Padang sebagai sebuah tanah sima. Tanah tersebut melekat pada sebuah bangunan suci setempat yang bernama Pangurumbigyan (prāsāda kabhaktyan i pangurumbigyannira i masahar). Penetapan ini dilakukan atas perintah Sri Maharaja Mpu Sindok pada tahun 852 Syaka atau 930 Masehi, tidak lama sesudah pemindahan pusat kekuasaan Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Tanah seluas 3 tampah tersebut dibeli dengan emas senilai 3 kati 5 suwarna oleh Rakai Hanyangan dan putrinya Rakai Parryangan. Di sekeliling tanah sima tersebut dibeli juga bidang tanah dengan emas senilai 1 suwarna 5 masa untuk keperluan saluran air agar tanah sawah tersebut dapat produktif. Para pejabat desa Masahar menerima pembayaran atas penjualan tanah tersebut, pejabat desa-desa disekitarnya hadir juga sebagai saksi, dan mereka semua menghadiri upacara penetapan tanah sima tersebut. Semua hadirin diberikan pasak pasak berupa emas dan/atau kain, serta disajikan berbagai hidangan dan minuman.

Pada sisi kanan dicatatkan sejumlah hidangan yang dimakan dalam upacara penetapan tanah sima tersebut.

Sisi kiri mencatatkan kutukan (sapatha) bagi siapa saja yang mengganggu ketetapan Raja mengenai penetapan tanah sima tersebut.

Prasasti Masahar adalah salah satu dari dua dokumen yang pertama kali menyebutkan Mpu Sindok (Sri Isyana) sebagai maharaja, selain prasasti Linggasuntan (929 M). Prasasti Sangguran, yang bertarikh hanya dua tahun sebelumnya, menyebutkan Mpu Sindok sebagai mapatih dari maharaja Dyah Wawa. Ini menunjukkan saat terjadinya peralihan kekuasaan Medang di antara kedua penguasa tersebut, sekaligus perpindahan pusat pemerintahan dari Bhumi Mataram (Jawa bagian tengah) ke Tamwlang (di Jombang sekarang) di sekitar tahun 853 Syaka atau 929 M.


Rumah Cagar Budaya Maclaine Pont

Bangunan ini dahulu bernama Bangunan A Museum Trowulan, yang sehari-harinya digunakan sebagai rumah tinggal Ir. Henri Maclaine Pont (1884-1971), la seorang arsitek, sekaligus salah satu pendiri Oudheidkundige Vereneging Majapahit (OVM), sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengadakan penelitian kepurbakalaan tinggalan Majapahit dan menjadi cikal-bakal keberadaan Museum Majapahit.

Belurn ada data yang pasti tentang tahun pendirian rumah tersebut. Diperkirakan bangunan ini asalnya adalah milik pabrik gula Mojoagung dan dibangun antara 1890 menempati rumah itu pada 1924, di awal kepindahannya ke Trowulan. 1915. Maclaine Pont sendiri mulai Ketika itu, OVM mulai aktif mengadakan penyelidikan-penyelidikan tentang kepurbakalaan Majapahit. Baru setelah berjalan beberapa lama, rumah itu secara resmi menjadi milik dari Maclaine Pont dan OVM, berikut dengan halamannya. Saat tinggal di Trowulan itu, Maclaine Pont oleh penduduk setempat dipanggil dengan sebutan Tuan Sinir (insinyur) atau Tuan Kereweng karena pekerjaannya yang sering mengumpulkan kereweng atau pecahan tembikar.

Pada tahun 1949 rumah ini pernah menjadi tempat bagi perundingan ncatan senjata antara Indonesia dan Belanda. Trowulan kala itu ada dalam garis status quo/garis Van Mook dan rumah ini menjadi tempat rapat perundingan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda dimediasi oleh Komisi PBB untuk Indonesia yaitu United Nations mission for Indonesia (UNCI) yang terdiri dari delegasi Amerika Serikat, Belgia, dan Australia. Perundingan dilakukan pada tanggal 13 Agustus 1949 dan Indonesia diwakili oleh Kolonel Soengkono yang saat menjabat sebagai Komandan Divisi I Jawa Timur.

Setelah penyerahan kedaulatan pasca Konferensi Meja Bundar (KMB), pengelolaan situs dan benda bersejarah di Trowulan berada di bawah naungan Dinas Purbakala.

Lembaga yang menaungi museum sempat mengalami beberapa kali pergantian nama. Pada tahun 1986, Drs. Tjokro Soedjono selaku Kepala Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kebudayaan Wilayah XI (cikal bakal Balai Pelestarian Kebudayaan) mulai menggunakan dan menempati bangunan ini sebagai kantor.

Sumber : BPKW XI Jawa Timur


Senin, 30 Maret 2026

Kata Likur dalam hitungan Jawa


2026
- rong ewu nemlikur (Jawa Baru)

Bahasa Jawa Kuno ada 2 variasi : 
- rwang iwu rwang puluh enem
- rwang iwu nem likur

ASAL-USUL KATA "LIKUR"

Dalam bahasa Jawa Baru, penyebutan bilangan sesudah 20 [ rong puluh ] adalah dipakai kata "likur".  

Misal angka2 seperti  21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29 adalah: sĕlikur, rolikur, tĕlu likur, patlikur, nĕm likur, pitu likur, wolu likur, sångå likur.  [ kecuali 25 = selawé ].

Ini sebenarnya agak bergeser dari pola zaman Jawa pertengahan, dimana saat itu polanya ada dua, yaitu masih sama dengan pola Melayu :  memakai "puluh + angka satuan"  

Jadi misal 26
Melayu : Dua puluh + enam
Jawa  : Rwa + ng + puluh + enem (Rong puluh enem)

Saat itu pemakaian likur juga sudah dipakai. 
Jadi ada dualisme.

Bukti ?
Dalam naskah Calon Arang (pupuh 133: 2) terdapat kata "pitu likur", sedangkan dalam Kidung Rangga Lawe (pupuh 6: 27) terdapat kata "rong puluh pitu". Jadi saat itu ada dua penyebutan. 

Bukti lain misalnya naskah yang lebih tua, yaitu berbahasa Jawa Kuno juga ada yang menyebut 27 dengan istilah "pitu likur" yaitu dalam naskah Brahmāṇḍapuraṇa (bab 174: 14). 

Adapun dalam rontal Ādiparwa terdapat kata "rwang puluh papat" untuk menyebut bilangan 24 dan bukan "pat likur".

Bahasa Jawa, Malayu, Sunda, Madura, Bali, Tagalog, dsb adalah keturunan bahasa Proto Malayo-Polynesia. Jejak di Melayu yang kemungkinan juga memakai kata likur dahulu, terlihat dalam penyebutan "Malam Tujuh Likur". Jadi ada suatu masa dimana dulu likur dan puluh dipakai dua2nya. 

Dalam kamus Proto Malayo-Polynesia terdapat kata "likud" yang bermakna "kembali". 

Kata likud inilah yang kemudian berubah menjadi likur dalam bahasa Jawa karena pertukaran bunyi d & r.
* padi = pari
* pĕdih = pĕrih
* datu = ratu
* badak = warak
* udang = urang
Maka ....
* likud = likur

Maksudnya "kembali ke jari tangan" untuk menghitung setelah sebelumnya habis dipakai menghitung angka 1 sd 20 sesuai jumlah jari tangan dan kaki manusia. Nah setelah masuk angka 21 kembali ke setelan awal yaitu memakai tangan kanan.

Kita bayangkan begini, kita menghitung pakai jari tangan dan kaki ya..

1-5 : pakai jari tangan kanan
6-10 : pakai jari tangan kiri
11-15 : pakai jari kaki kanan
16-20 : pakai jari kaki kiri

Nah begitu sampai
21-25 : "kembali pakai jari tangan kanan" atau "likur".

Ini untuk pemakaian angka sehari2 yang biasanya tidak terlalu besar.

Saat Jawa Baru, penyebutan puluh untuk 21 - 29 bergeser ke likur. Sebaliknya Melayu justru meninggalkan likur, dan memakai puluh seperti saat ini.

Tentang likur : linggih kursi ya boleh saja buat filosofi, tapi jangan serius2 banget karena semua harus cek ke naskah lama dan kamus Austronesia.

Rujukan tulisan mas Heri Purwanto

Subagio Sastrowardoyo


Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Ayahnya seorang pensiunan Wedana Distrik Uteran, Madiun, yang bernama Sutejo dan ibunya bernama Soejati. Subagio menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun. Pendidikan Subagio dilakukan di berbagai tempat, yaitu HIS di Bandung dan Jakarta. Pendidikan HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta. Pada tahun 1958 berhasil menamatkan studinya di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada dan 1963 meraih gelar master of art (M.A.) dari Department of Comparative Literature, Universitas Yale, Amerika Serikat. Subagio pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia B-1 di Yogyakarta (1954—1958). Ia juga pernah mengajar di almamaternya, Fakultas Sastra, UGM pada tahun 1958—1961. Pada 1966—1971 ia mengajar di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung . Selanjutnya, tahun 1971—1974 mengajar di Salisbury Teacherrs College, Australia Selatan, dan di Universitas Flinders, Australia Selatan tahun 1974—1981. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982—1984) dan sebagai anggota Kelompok Kerja Sosial Budaya Lemhanas dan Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981). Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Tentang kepenyairannya itu, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa sajak-sajak Subagio adalah sajak rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. Itulah paling tidak sebagian dari karakter kepenyairan Subagio Sastrowardoyo. Kreativitas Subagio Sastrowardoyo tidak terbatas sebagai penyair. Oleh karena itu, ia tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961 menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan prosa dan esai-esainya. KARYA: Karya yang telah ditulisnya pun beragam dan banyak, seperti berikut ini. A. Kumpulan puisi 1. Simphoni (1957) 2. Daerah Perbatasan (1970) 3. Keroncong Motinggo (1975) 4. Buku Harian (1979) 5. Hari dan Hara (1982) 6. Simponi Dua (1989) 7. Dan Kematian Makin Dekat (1995) B. Kumpulan esai 1. Bakat Alam dan Intelektualitas (1972) 2. Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor (1976) 3. Sosok Pribadi dalam Sajak (1980) 4. Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983) 5. Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1989) 6. Bunga Rampai Sastra Asean: Sastra Lisan Indonesia (1983) 7. Modern Asean Plays Indonesia (di dalamnya dimuat drama “The Bottomless Well”, “Wow”, “Time Bomb”, dan “Dhemit”) (1992) 8. Anthology of Asean Literatures: Volume III a: The Islamic Period in Indonesian Literature (1994) C. Kumpulan cerpen Tulisan Subagio yang berupa cerpen terkumpul dalam sebuah kumpulan cerpen, yaitu Kedjantanan di Sumbing (1965). Selain itu, ia juga menerima hadiah dan penghargaan atas kreatifitasnya itu. Hadiah dan Penghargaan yang diterima: 1. Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983) untuk karyanya Sastra Hindia Belanda dan Kita 2. Hadiah Pertama dari majalah Kisah (1995) untuk cerpennya “Kedjantanan di Sumbing” 3. Hadiah dari majalah Horison untuk puisinya “Dan Kematian pun Semakin Akrab” yang dimuat dalam majalah itu tahun 1966/1967 4. Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) untuk kumpulan puisinya Daerah Perbatasan 5. Penghargaan South East Asia Write Award (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada tahun 1991 untuk kumpulan puisinya Simponi Dua.


Minggu, 01 Februari 2026

Ziarah Kubur, Nyadran, dan Bulan Ruwah

Ziarah Kubur, Nyadran, dan Bulan Ruwah

Tradisi Islam Nusantara antara Sunnah, Etika Pesantren, dan Polemik Tauhid

Pendahuluan

Setiap memasuki bulan Sya’ban—atau Ruwah dalam penanggalan Jawa—umat Islam di Nusantara secara turun-temurun melakukan ziarah kubur dan nyadran. Mereka mendatangi makam orang tua, leluhur, para wali, dan ulama yang dianggap berjasa dalam dakwah Islam. Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun, lintas generasi, lintas kerajaan, dan lintas pesantren.

Namun di era kontemporer, praktik ini kerap dipersoalkan. Sebagian kalangan menstigmatisasi ziarah kubur dan nyadran sebagai perbuatan syirik, bid’ah, bahkan “penyembahan kubur”. Polemik ini bukan sekadar soal praktik ibadah, tetapi menyentuh cara membaca sejarah, metodologi keilmuan Islam, dan relasi antara agama dan budaya.

Tulisan ini memadukan tiga sudut pandang sekaligus:
 (1) kajian fiqh dan hadis Ahlus Sunnah, (2) etika pesantren dan ulama Nusantara, serta (3) warisan pemikiran Jawa-Islam dalam serat-serat klasik.

Ziarah Kubur dalam Islam Normatif

Secara tegas, ziarah kubur memiliki dasar kuat dalam Islam. Nabi Muhammad ﷺ pada awalnya melarang ziarah kubur demi menjaga kemurnian tauhid generasi awal. Namun setelah akidah umat menguat, larangan itu dicabut:

“Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi ijma’ ulama. Keempat madzhab Sunni—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—sepakat bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah atau mustahab, selama dilakukan dengan adab dan akidah yang lurus.
Yang dikritik oleh para ulama bukan ziarahnya, melainkan kemungkinan penyimpangan: meminta kepada mayit, meyakini kubur sebagai sumber kekuatan mandiri, atau ritual berlebihan yang menyalahi tauhid. Dengan kata lain, Islam membedakan secara jelas antara ziarah sebagai ibadah etis dan penyimpangan akidah.

Nyadran sebagai Etika Sosial-Religius

Dalam konteks Nusantara, ziarah kubur berkembang menjadi tradisi nyadran. Secara praktik, nyadran mencakup:
ziarah dan doa untuk mayit,
membersihkan makam,
sedekah makanan,
silaturahmi sosial.
Jika dibaca dengan kacamata fiqh, seluruh unsur ini berada dalam wilayah amal yang dibolehkan, bahkan dianjurkan. Doa untuk mayit adalah sunnah. Sedekah bernilai ibadah. Silaturahmi memperkuat ukhuwah. Maka nyadran sejatinya adalah ekspresi kolektif dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Di lingkungan pesantren, tradisi ini dipahami sebagai latihan adab: merendahkan ego, mengingat kematian, dan menautkan diri pada sanad spiritual para ulama. Karena itu, pesantren tidak menjadikan makam sebagai objek pemujaan, melainkan sebagai wasilah pendidikan batin.

Bulan Ruwah: Simbol dan Spirit

Penamaan Ruwah berasal dari kata “ruh”, menandai fase refleksi tentang hidup dan mati. Dalam Islam, Sya’ban dikenal sebagai bulan persiapan Ramadhan, bulan penguatan batin dan taubat. Ziarah kubur di bulan ini bukan kebetulan, melainkan sinkronisasi simbolik antara ajaran Islam dan kosmologi lokal.
Tradisi ini tidak menambah akidah baru, tetapi memberi bahasa budaya bagi nilai universal Islam: eling marang pati (ingat mati), resik batin, dan siap menyongsong ibadah Ramadhan.

Perspektif Serat Jawa-Islam

Serat-serat klasik Jawa-Islam memberi lapisan pemahaman yang lebih dalam. Dalam Serat Wedhatama, khususnya pupuh Sinom dan Pangkur, manusia diajak menata diri melalui kesadaran etis, bukan spekulasi metafisik. Kematian dihadirkan sebagai cermin, bukan objek ketakutan atau pemujaan.
Dalam suluk-suluk seperti Suluk Wujil dan Suluk Malang Sumirang, makam dan kematian berfungsi simbolik: penanda kefanaan ego dan pintu kesadaran akan Gusti. Ini bukan manunggaling ontologis yang menyamakan hamba dan Tuhan, melainkan manunggaling etis—keselarasan laku manusia dengan kehendak Ilahi.
Ziarah kubur, dalam kerangka ini, adalah laku batin: melatih rendah hati, menundukkan rasa, dan menyadari keterbatasan diri.

Menjawab Stigma Syirik secara Akademik
Stigma “penyembah kubur” muncul dari pembacaan tauhid yang sangat literal dan ahistoris. Ia sering gagal membedakan antara:
wasilah dan ibadah,
penghormatan dan pemujaan,
simbol budaya dan keyakinan teologis.

Dalam ushul fiqh, menghukumi tradisi mayoritas dengan contoh penyimpangan minoritas adalah kekeliruan metodologis. Kritik teologis seharusnya bersifat spesifik, bukan generalisasi.

Penutup
Ziarah kubur dan nyadran di bulan Ruwah bukanlah praktik menyimpang dari Islam, melainkan ekspresi historis Ahlus Sunnah di Nusantara. Ia berdiri di atas sunnah Nabi, dirawat oleh pesantren, dan diperdalam oleh kebijaksanaan Jawa-Islam.
Selama doa ditujukan kepada Allah, makam dipahami sebagai pengingat, dan tradisi dijalankan dengan adab, maka ziarah kubur bukan ancaman tauhid, melainkan pendidikan kesadaran hidup.
Di titik inilah Islam Nusantara menunjukkan wajahnya: tidak reaktif, tidak kehilangan tauhid, dan tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Oleh : Gus Mamak Sewulan

Rabu, 12 November 2025

Pembahasan soal masa Pergerakan Nasional

 1. Jelaskan hubungan antara kebijakan politik etis dengan pergerakan nasional Indonesia!

Jawaban:
Kebijakan Politik Etis atau Etische Politiek adalah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 sebagai “balas budi” kepada rakyat Indonesia. Isi kebijakan ini mencakup tiga program utama, yaitu:

  1. Irigasi (pengairan) – untuk meningkatkan pertanian rakyat.

  2. Emigrasi – untuk pemerataan penduduk.

  3. Edukasi (pendidikan) – memberikan kesempatan pendidikan bagi pribumi.

Dari ketiga program tersebut, pendidikan memiliki dampak besar terhadap munculnya pergerakan nasional Indonesia. Pendidikan melahirkan kaum terpelajar pribumi (intelektual) yang mulai sadar akan ketidakadilan kolonial dan mulai berjuang untuk kemerdekaan. Jadi, hubungannya adalah:

Politik Etis → membuka akses pendidikan → lahir kaum terpelajar → tumbuh kesadaran nasional → munculnya organisasi pergerakan nasional.

2. Jelaskan peran pers dalam perjuangan pergerakan nasional Indonesia!

Jawaban:
Pers (surat kabar dan majalah) memiliki peran sangat penting dalam perjuangan nasional, yaitu sebagai alat penyebar informasi, pendidikan politik, dan pembangkit semangat nasionalisme.
Beberapa perannya antara lain:

  • Menyebarkan ide-ide kebangsaan dan menumbuhkan kesadaran nasional.

  • Mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat.

  • Menghubungkan organisasi-organisasi pergerakan dan menyatukan rakyat dari berbagai daerah.

  • Menjadi media komunikasi dan propaganda perjuangan.

Contoh surat kabar perjuangan:

  • Medan Prijaji (oleh Tirto Adhi Soerjo)

  • Oetoesan Hindia (oleh Sarekat Islam)

  • De Expres (oleh Douwes Dekker)

  • Hindia Baroe, dan lainnya.

3. Sebutkan organisasi-organisasi Pergerakan Nasional Indonesia, dan siapa tokohnya!

Jawaban:
Berikut beberapa organisasi penting dalam pergerakan nasional beserta tokohnya:

NoOrganisasiTahun BerdiriTokoh Utama
1Budi Utomo1908Dr. Soetomo, Wahidin Soedirohusodo
2Sarekat Islam (SI)1912Haji Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto
3Indische Partij1912Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo
4Muhammadiyah1912K.H. Ahmad Dahlan
5Nahdlatul Ulama (NU)1926K.H. Hasyim Asy’ari
6Perhimpunan Indonesia (PI)1925Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo
7Partai Nasional Indonesia (PNI)1927Ir. Soekarno
8Partai Indonesia (Partindo)1931Sartono
9Gerindo1937A.K. Gani, Mohammad Yamin

 

4. Sebutkan faktor internal dan eksternal munculnya pergerakan nasional Indonesia!

Jawaban:

1. Faktor Internal:

  • Penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda.

  • Timbulnya kesadaran nasional di kalangan kaum terpelajar.

  • Kenangan akan kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara (Majapahit, Sriwijaya).

  • Munculnya golongan terpelajar pribumi hasil Politik Etis.

  • Peran media massa yang menyebarkan ide-ide kemerdekaan.

2. Faktor Eksternal:

  • Pengaruh Pergerakan Nasional di Asia dan Dunia, seperti kemerdekaan India, Filipina, dan kebangkitan Jepang (Restorasi Meiji).

  • Kemenangan Jepang atas Rusia (1905) yang menunjukkan bangsa Asia bisa menang atas bangsa Eropa.

  • Paham-paham baru seperti nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme dari Eropa.

  • Berkembangnya komunikasi global dan munculnya organisasi internasional.

Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional dari Madiun

Tokoh Pergerakan Nasional dari Madiun


RM.Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Ponorogo, 16 Agustus 1882 – 17 Desember 1934),salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, Ketua Sarekat Islam (SI). melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada masa itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimba ilmu, yaitu Sukarno, Muso dan Kartosuwiryo.


RM. Abikoesno Tjokrosoejoso, Ponorogo,15 Juni 1897 – 11 November 1968 adalah salah satu bapak pendiri Republik Indonesia dan penandatangan konstitusi. Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 (dikenal sebagai Piagam Jakarta). Setelah meninggalnya HOS Tjokroaminoto yg merupakan kakaknya, pada 17 Desember 1934, Abikoesno mewarisi jabatan sebagai pemimpin Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presidensial pertama Soekarno dan juga menjadi penasihat Biro Pekerjaan Umum.


Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo (Uteran, Madiun, 28 Agustus 1902 – 18 Mei 1997) adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.Sunario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II (sumpah pemuda)


Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, pahlawan nasional Indonesia, dokter di Keraton Surakarta (Yogyakarta, 21 April 1879 – Widodaren,20 September 1952) adalah:

- Boedi Oetomo

- BPUPKI pada tahun 1945 Pada tanggal 9 Agustus 1945, sehari setelah serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Radjiman bersama dengan tokoh nasionalis Soekarno dan Mohammad Hatta diterbangkan ke Saigon untuk bertemu dengan Marsekal Lapangan Hisaichi Terauchi.Uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.



Dr. Soeradji Tirtonegoro lahir pada 1887 di Desa Uteran, Madiun. tokoh kebangkitan nasional yang menjadi salah satu pendiri Budi Utomo. Dijadikan nama RS. Di Klaten karena jasa nya dalam penanggulangan penyakit pes pada waktu sebelum kemerdekaan.


Ki Hadjar Hardjo Oetomo Lahir di Kota Madiun,1903 dan meninggal 13 April 1952 dimakamkan di Pilangbango Madiun. Budi Oetomo, Syarekat Islam, dan Taman Siswa. Selain bergabung dengan organisasi tersebut, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga mendirikan organisasi pencak silat SH Pemuda Sport Club (SH-PSC) yang kemudian berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Di bidang ekonomi untuk membantu masyarakat lepas dari penindasan 'lintah darat', ia mendirikan perkumpulan Harta Djaja semacam koperasi.


Disarikan dari Wikipedia dan beberapa sumber lainnya





Kamis, 06 November 2025

sesorah / Tanggap Wacana

Sesorah/Tanggap Wacana
1.Pangerten 
Sesorah yaiku micara gagasan utawa panemu sarana lisan ana ngarepe wong akeh. Sesorah ana ing Bahasa Indonesia jenenge pidato. Sesorah iku katindhaake ana ing acara formal.Sesorah katindakake wong jawa.utamane menawa ana upacara adat.Upacara adat kang butuhake acara sesorah yaiku :

a.Upacara mantenan jangkep.
b.Sunatan ( Supitan )
c.upacara nyadran, selamatan lan sapanunggalane.

2.Jenis Pidhato/Sesorah
a.miturut gunan, sesorah kabagi dadi pirang-pirang jinis, yaiku : sabdatama(sesorah tunggal),pambagyaharja(mahargya rawuhe tamu),tanggap wacana(sesorah kang kudu antuk tanggapan)
b.miturut ancase pidato
1.atur pambagya : sesorah kangge nampi rawuhipun para tamu,wonten ing acara menapa kemawon,umpaminipun:ing pahargyan (pesta),sukuran, lsp
2.pawarta utawi informasi
Informasi saget arupi palapuran utawi nyariosaken satunggale bab dhateng pamiarsa, pramila bab ingkang kawedharaken kedah gamblang/cetha.
Tuladha:sesorah ing rapat,promosi barang,lan sakpanunggalane.
3.atur panglipur/hiburan ( ancasipun supados ingkang mirengaken remen penggalihipun)
Tuladha:ing layatan, atut saking pambela sungkawa.
4.Pangajak
Ancasipun supados ingkang mirengake pitados.kapilut manahipun saengga purun nindakaken menapa ingkang dipunwedharaken.
Tuladha: Panyuluhan Kesehatan

3.Perangane Sesorah
Supados anggenipun sesorah saget runtut,prayogane mangerteni rantamane sesorah.rantamane sesorah yaiku :
A.Uluk Salam(kulanuwun, sugeng ndalu lan sanese )
B.Purwaka( puji syukur kagem gusti lan panuwun kagem para tamu)
C.Isi / wigatining atur ( ngandarake ancasing acara kang dipuntindakaken)
D.Pangarep - arep ( panyuwun utawi pangajeng - ajeng saking tiyang kang kagungan kersa dhateng para tamu )
E.Panutup(isi atur panuwun )

4.Cengkorongane Sesorah
Urutane Cengkorongan
a.salam pembuka ( ngucapake uluk salam)
b.purwaka(isine ucapan syukur)
c.isi/wigatining atur( bab apa wae kang badhe diaturaken )
d.pangarep - arep ( isine bab lang diauwunake marang para tamune umpamane donga lan pitutur.


Tuladha
Bab : Atur Pambagya “Supit”

Assalamualaikum wr wb
Sugeng Dalu para rawuh…

Dumateng Para Bapak Ibu, ingkang kula hormati. Ugi para rawuh sedaya Kakung saha putri ingkang Kula tresnani.

Kaping setunggal, mangga Kula panjenengan Kula derekaken sareng muji syukur dumateng ngersanipun Gusti ingkang murbeng dumadi Ingkang sampun maringi  rahmat lan kanikmatan dumateng kula lan panjenengan sedaya.

Kaping kalihipun Sholawat saha salam kunjuk dumateng Nabi agung Nabi Muhammad SAW.

Kaping tiganipun kula nyuwun agunging pangaksami amargi sampun wantun, matur wonten ngajeng panjenengan Sedaya.

Para rawuh ingkang Kula hormati, minangka sesulih saking Bapak ugi ibu, Kula ngaturaken Sugeng  rawuh wonten ing Gubuk kula menika, Kula nyuwun duka ingkang Ageng, mbok bilih wonten suguh utawi gupuh ingkang kirang mranani penggalih. 

Para rawuh ingkang Kula hormati, ancasipun panjenengan Sedaya dipun aturi rawuh wonten dalem mriki nggih menika , nyuwun pangestunipun ugi nyekseni anggenipun Adik Kula Nami : Surya Saputra ingkang sampun ngancik dewasa, nglampahi wajibing lare jaler, inggih menika Selam utawi Supit. Alhamdulillah, anggenipun Supit sampun paripurna, Mugi enggal pulih sarta angsal barokahipun Gusti ingkang murbeng dumadi. 

Para rawuh ingkang kula hormati, 
Cekap semanten, Kula matur, sak lajengipun, para rawuh dipun aturi, dahar kembul, sak wontenipun. Kawulo sumanggaaken, nuwun. 
Wassalamu'alaikum wr. WB. 

Rabu, 29 Oktober 2025

Tepa Selira

Tepa Selira: Etika Sosial Jawa Kang Ngrumat Harmon

🌺 Pambuka

Pepatah sepuh ngendika: “Tepa selira luwih becik tinimbang sak wulune emas.”
Tegese, wong sing bisa ngrasakake wong liya luwih aji tinimbang bandha. Ing filsafat Jawa, tepa selira dudu mung sopan santun, nanging prinsip sosial, politik, lan spiritual kang dadi pondasi harmoni bebrayan. Wong Jawa yakin, tanpa tepa selira, urip mung bakal dadi rebutan kepentingan pribadi sing ngrusak kerukunan.

🌿 1. Definisi lan Filosofi Tepa Selira

Tepa = tata, ukuran.

Selira = aku, awak pribadi.

Tepa Selira = ngukur awake dhewe nganggo ukuran wong liya.

Filsafat dasar: “Aja nglakoni marang liyan sing kowe ora kepengin dilakoni marang awakmu.”

Ing Serat Wulangreh (PB IV) ana pepeling:
“… aja dumeh, aja kumawani, tepa-tepa ngukur dhiri, ngukur liyan, supaya rukun lan rahayu.”
Iki nuduhaké yèn tepa selira minangka inti etika sosial Jawa: ngendhalèkaké ego kanggo njaga harmoni.

🧭 2. Akar Historis lan Budaya

Ing struktur masyarakat Jawa tradisional, harmoni dadi nilai utama. Konflik dihindari, lan penyelesaiannya luwih milih jalan alus tinimbang konfrontasi langsung.

Tepa selira dadi mekanisme sosial tanpa tulisan, nanging luwih kuwat tinimbang hukum formal, amarga diatur dening rasa isin, sungkan, lan ewuh-pakewuh.

Ing jaman keraton, pranatan iki katon cetha ing basa krama lan tata krama kraton, sing banjur mlebu menyang masyarakat desa.

⚖️ 3. Peran Tepa Selira ing Tatanan Sosial

a. Bahasa lan Unggah-ungguh

Basa Jawa nduwèni tingkat: ngoko, madya, krama, krama inggil.

Nggunakake basa sing pas dadi bentuk tepa selira: ngajeni wong tuwa, nganggep kanca, utawa nyungkemi pangkat wong liya.

Yen wong nganggo basa ora trep, dianggep ora tepa selira, lan bisa ngrusak hubungan sosial.

b. Gotong Royong lan Sambatan

Nalika ana wong gawe omah utawa hajatan, kabeh tetangga melu.

Sing ora melu bakal dianggep ora tepa selira: mung mikir awake dhewe, ora mikir bebrayan.

c. Slametan lan Ritual Sosial

Slametan dadi pranata integrasi sosial.

Kabeh warga diundang, supaya ora ana sing rumangsa “ditinggal”. Iki salah siji praktik tepa selira paling konkret.

d. Etika Bebrayan

Wong Jawa luwih milih ngendhaleni rasa nesu tinimbang nuduhaké konflik.

Basa alus, guyonan sindiran, utawa meneng dadi strategi tepa selira supaya ora ngrusak kerukunan.

🌸 4. Dimensi Psikologis

Tepa selira nglairaké sungkan, isin, lan ewuh-pakewuh.

Iki ora mung sifat negatif, nanging cara Jawa ngontrol ego pribadi supaya ora ngrusak harmoni.

Wong sing ora nduwé tepa selira asring dianggep “ora njawani”, tegese ora nduwé rasa pantes minangka wong Jawa sejati.

🕯️ 5. Dimensi Spiritual

Ing kawruh Kejawèn, tepa selira iku tirakat batin: ngempet karep lan ego demi keseimbangan jagad cilik (manungsa) lan jagad gedhé (alam & Gusti).

Wong sing nglarani wong liya, sejatiné ngregedhi atiné dhewe lan bakal adoh saka pepadhangé Gusti.

Pepeling Serat Centhini: “Wong urip kudu bisa ngrasakake sedhih lan bungahé liyan, amarga kabeh dumadi saka sumber kang siji.”

Tegese: tepa selira nyambung karo konsep manunggaling kawula Gusti – harmoni sosial minangka bagian saka harmoni kosmis.

📚 6. Riset Antropologis

Clifford Geertz (1960): Tepa Selira minangka “kontrol sosial non-formal” sing njaga masyarakat Jawa supaya tetep rukun.

Hildred Geertz (1961): Ing kulawarga Jawa, hubungan antar generasi dikontrol nganggo tepa selira, liwat basa, tata krama, lan rasa sungkan.

Koentjaraningrat (1985): Tepa Selira dadi inti etika Jawa, sing digandhengaké karo konsep rukun lan nrima. Iki sing nggawe wong Jawa luwih milih kompromi tinimbang konfrontasi.

🌞 Pungkasan

Tepa Selira iku inti etika sosial Jawa, sing maknané:

Nglatih rasa: ngerti lan ngrasakake wong liya.

Nglatih batin: ngendhalékaké karep pribadi.

Ngikat sosial: njaga harmoni lan gotong royong.

Ngajeni spiritual: selaras karo Gusti lan jagad.

“Wong Jawa sejati iku dudu sing paling banter swarane, nanging sing paling alus rasane. Wong sing bisa tepa selira, uripe bakal tentrem, bebrayane bakal rukun, lan jiwane bakal nyawiji karo pepadhang.”

#ilmurasa #ilmujawa #ilmuleluhur