2026
- rong ewu nemlikur (Jawa Baru)
Bahasa Jawa Kuno ada 2 variasi :
- rwang iwu rwang puluh enem
- rwang iwu nem likur
ASAL-USUL KATA "LIKUR"
Dalam bahasa Jawa Baru, penyebutan bilangan sesudah 20 [ rong puluh ] adalah dipakai kata "likur".
Misal angka2 seperti 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29 adalah: sĕlikur, rolikur, tĕlu likur, patlikur, nĕm likur, pitu likur, wolu likur, sångå likur. [ kecuali 25 = selawé ].
Ini sebenarnya agak bergeser dari pola zaman Jawa pertengahan, dimana saat itu polanya ada dua, yaitu masih sama dengan pola Melayu : memakai "puluh + angka satuan"
Jadi misal 26
Melayu : Dua puluh + enam
Jawa : Rwa + ng + puluh + enem (Rong puluh enem)
Saat itu pemakaian likur juga sudah dipakai.
Jadi ada dualisme.
Bukti ?
Dalam naskah Calon Arang (pupuh 133: 2) terdapat kata "pitu likur", sedangkan dalam Kidung Rangga Lawe (pupuh 6: 27) terdapat kata "rong puluh pitu". Jadi saat itu ada dua penyebutan.
Bukti lain misalnya naskah yang lebih tua, yaitu berbahasa Jawa Kuno juga ada yang menyebut 27 dengan istilah "pitu likur" yaitu dalam naskah Brahmāṇḍapuraṇa (bab 174: 14).
Adapun dalam rontal Ādiparwa terdapat kata "rwang puluh papat" untuk menyebut bilangan 24 dan bukan "pat likur".
Bahasa Jawa, Malayu, Sunda, Madura, Bali, Tagalog, dsb adalah keturunan bahasa Proto Malayo-Polynesia. Jejak di Melayu yang kemungkinan juga memakai kata likur dahulu, terlihat dalam penyebutan "Malam Tujuh Likur". Jadi ada suatu masa dimana dulu likur dan puluh dipakai dua2nya.
Dalam kamus Proto Malayo-Polynesia terdapat kata "likud" yang bermakna "kembali".
Kata likud inilah yang kemudian berubah menjadi likur dalam bahasa Jawa karena pertukaran bunyi d & r.
* padi = pari
* pĕdih = pĕrih
* datu = ratu
* badak = warak
* udang = urang
Maka ....
* likud = likur
Maksudnya "kembali ke jari tangan" untuk menghitung setelah sebelumnya habis dipakai menghitung angka 1 sd 20 sesuai jumlah jari tangan dan kaki manusia. Nah setelah masuk angka 21 kembali ke setelan awal yaitu memakai tangan kanan.
Kita bayangkan begini, kita menghitung pakai jari tangan dan kaki ya..
1-5 : pakai jari tangan kanan
6-10 : pakai jari tangan kiri
11-15 : pakai jari kaki kanan
16-20 : pakai jari kaki kiri
Nah begitu sampai
21-25 : "kembali pakai jari tangan kanan" atau "likur".
Ini untuk pemakaian angka sehari2 yang biasanya tidak terlalu besar.
Saat Jawa Baru, penyebutan puluh untuk 21 - 29 bergeser ke likur. Sebaliknya Melayu justru meninggalkan likur, dan memakai puluh seperti saat ini.
Tentang likur : linggih kursi ya boleh saja buat filosofi, tapi jangan serius2 banget karena semua harus cek ke naskah lama dan kamus Austronesia.
Rujukan tulisan mas Heri Purwanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar