Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 25 Februari 2016

Membuka file Sejarah Madiun Raya


Membuka file Sejarah Madiun Raya

1. Era Megalitikum :
Penemuan arca-arca megalitik : arca Polynesia Wungu, tutup kubur batu dgn relief primitive , bak batu/tempayan batu (dagangan, mejayan, saradan), watu dakon / batu hitungan bertani, batu altar (Dagangan, Geger, Saradan)

2. Era Klasik :
  1. Prasasti Taji, angka th. 901 Kab Magetan disebut “rakryān iŋ burawan”. 
  2. Prasasti Kwambang kulwan Sendang kamal Maospati th. 991 M 
  3. Miniatur rumah, tertulis angka tahun 983 M dan 995 M. 
  4. Penemuan kronogram (suryasengkala) / angka tahun : candi sadon 1096 M 
  5. Prasasti Plaosan , Dsn Sale 1099 M 
  6. Prasasti Bungkuk 1114 Masehi dan 1127 Masehi Kurun waktu yang termuat dalam Prasasti Bungkuk termasuk dalam masa pemerintahan Sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwaniwarryawirrya Parakrama Digjayottunggadewa (Kameswara/ Bameswara) dari Kerajaan Kadiri 
  7. Prasasti /watu gilang Tegalsari angka th.1119 M 
  8. Prasasti Mruwak Dagangan th 1186 m Raja Sri jayawarsa sastra prabu 
  9. Prasasti Mbah Krapyak Ds. Ketro, Sawo Ponorogo angka th. 1133 M diteliti th.2013 Raja Bameswara Panjalu 
  10. Prasasti Sirah Kĕting dsn. Sirah Kĕting, Ds. Bandingan, Ponorogo, th.1204 juga menyebut nama Raja Sri jayawarsa sastra prabu. Nama ini juga disebut dalam Prasasti Panumbangan, Doko Blitar angka th. 1120 M 
  11. Watu gilang Dsn Setono Krajan Jenangan angka th.1397 M 
  12. Prasasti Ds. Kedung Panji angka th.1380 M 
  13. Batu Jobong sumuran Ngrawan Dolopo th. 1398 
  14. Prasasti Dsn Ngabar Ds. Ngadirejo Magetan th 1457 Prasasti Batu dari Desa Sine Kecamatan Sine, angka tahun 1459 M 
  15. Prasasti tembaga Waringin Pitu yang diketemukan di Ds. Suradakan (Kab.Trenggalek) dikeluarkan Raja Widjayaparakramawardhana (Dyah Kerta Wijaya) pada 22 Nov1474 M. menyebutkan penguasa di Jagaraga (paduka Bhattara ring Jagaraga) bernama Wijayandudewi 
Catatan : banyak Prasasti yg tidak / belum terbaca di Madiun raya. Diantaranya wilayah Magetan : prasasti watuongko, Ngunut lembeyan, Kutu Sumberejo, Tegalturi Maospati, Ngujung, Bulu Gledeg, Kenteng. Wilayah Madiun : Prasasti Bibrik, Klagenserut, Kuncen Caruban.

Berdasarkan Data Arkeologi, Manuskrip Kuno dan Toponim wilayah Madiun diperkirakan pernah menjadi pusat pemerintahan beberapa kerajaan :

1. Kerajaan Medang yang berpindah dari wilayah Jawa Tengah ke Jawa Timur pada masa Mpu Sindok dan dilanjutkan Raja Darmawangsa Teguh tahun 991 M – 1016 M diperkirakan bertempat di wilayah Madiun dengan ibukota Wotan. sumber : Prasasti Pucangan 1041 M, Prasasti Taji 901 M Prasasti Sendang Kamal 991 M

Era ini terjadi Mahapralaya adalah peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasarkan berita dalam prasasti Pucangan. Tahun terjadinya peristiwa tersebut tidak dapat dibaca dengan jelas sehingga muncul dua versi pendapat. Sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedangkan yang lainnya menyebut tahun 1016 M.

Raja terakhir Medang adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari Dinasti Song mencatat telah beberapa kali Dharmawangsa mengirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu. Pada tahun 1006 M (atau 1016 M) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas. Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.

2. Kerajaan Singasari/Kediri, (kerajaan Glang-glang) Poerbatjaraka (1968: 372) telah menafsirkan Bahwa Glang-glang/Gegelang berada di wilayah selatan Madiun, berbeda dengan NJ. Krom (1954) menafsirkan berada di Kediri. Serat Pararaton disebutkan balatentara Jayakatwang dari Glang-glang mengibarkan panji berwarna merah dan putih saat menyerang Singasari. Lebih tegas lagi diberitakan dalam sebuah prasasti Kudadu yang diterbitkan oleh Raden Wijaya pada tahun 1294 M

Prasasti Kudadu (1216 Saka) Lempeng IV verso:
“….. ring samangkana, hana ta tunggulning çatru layulayu katon wetani haniru, bang lawan putih warnnanya…..” Artinya:
“….. pada saat itu, ada bendera milik musuh berlari-lari (melambai-lambai) terlihat di timurnya Haniru, MERAH dan PUTIH warnanya”

Prasasti Mula-Malurung (1255 M) dengan jelas menyebutkan posisi nagara Glang-Glang memiliki wilayah yang berbeda dengan nagara Daha. Nagara Glang-Glang berada di wilayah yang disebut “bhūmi Wurawan” (Madiun), sedangkan nagara Daha berada di wilayah yang disebut “Bhūmi Kadiri”.Situs Nagara Glang-glang ini berada di Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Di dusun Ngrawan dan sekitarnya terdapat banyak tinggalan arkeologis masa Hindu-Budha, diantaranya sebagai berikut: 12 buah batu umpak, banyak ditemukan struktur batu bata kuno, lingga yoni, arca-arca, fragmen candi, stuktur petirtan, dan toponimi-toponimi yang sangat identik dengan nama-nama Kerajaan pada era Kediri dan Singasari.

Toponimi : Glonggong=glang-glang, Nggelang= Glang-glang, Ngrawan=Ngurawan, Daha=Daha, setono Gedong, Ketawang=Katawang, Sendang Ganter, Punthuk Daton=kedaton/kraton dll.

Situs Pendukung : Situs Punthuk Daton, Situs sekitar M I Thoriqul Huda Tambak Boyo, Kumpulan Arca di Rumah Bapak Saiful Huda, Situs Petirtan, Situs Musola Kuno Waqofan, Situs Sendang Ganter dan Setono Gedong di Doho, Situs Dul Boto, Dsn. Nggelang, Situs Umbul, Situs Sumur Guling, Situs Candi Palur, Situs Sirahnogo, Situs Sumber Brebes dll.

3. Kerajaan Demak- Mataram Islam
Kyai Reksogati 1518 M utusan Demak sebagai penyebar Agama Islam di Purabaya. Adipati Gugur sebagai adipati Gegelang dapat ditaklukan Sunan Kudus 1529 M. Pangeran Timur dilantik sebagai Bupati Purabaya bersamaan dengan Hadiwijoyo (Karebet/Joko Tingkir) sebagai Sultan Pajang tanggal 18 Juli 1568
  • Bupati Pertama Madiun, Pangeran Timur / Panembahan Rangga Jumeno (1568 – 1586 M) Terjadi penyerangan Mataram Th. 1586 dan 1587 terbukti Purabaya mampu memenangi peperangan, dengan prajurit perempuan yang gagah berani Retno Djumilah dibantu 14 kadipaten bawahan diwilayah timur. Baru th 1590 M akhirnya Purabaya takluk dengan tipu muslihat. Retno Djumilah berhasil diboyong Panembahan senopati ke Kerajaan Mataram sebagai permaisuri ke 2.
  • Perang Trunojoyo : 5 Nopember 1678, pasukan Amangkurat II dengan jumlah besar yang terdiri dari Prajurit Makassar, Malaya, Ambon dan juga Jawa singgah di Desa Klagen Gambiran kemudian berkemah di pinggir Kali Madiun di Desa Kajang. Disini pasukan Belanda dibawah Kapten Tack bergabung. Hari berikutnya mereka meneruskan pengejaran terhadap Trunojoyo ke timur, di Desa Tungkur (saradan) Pasukan Trunojoyo mengadakan perlawanan sengit hingga pasukan Mataram terpaksa bermalam di Caruban
  • Perang Suropati : Bupati Madiun Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel wafat karena usia tua, putri sulungnya Raden Ayu Puger menggantikan kedudukan Bupati Madiun, beliau juga membantu mengirim prajurit-prajurit Madiun untuk membantu perjuangan Suropati. Tahun 11 September 1705 suami Bupati Madiun, Pangeran Puger memasuki istana Kartasura, dinobatkan menjadi raja Mataram Kartasura dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwono I, tentunya Raden Ayu Puger mengikuti suaminya bertahta di Kartasura, sebagai penggantinya ditunjuklah saudaranya bernama Pangeran Harya Balitar menjadi Bupati Madiun
4. Era setelah Palihan Nagari Jogjakarta-Surakarta 1755 M
  • Bupati ke 16 Madiun “Rangga Prawirodirjo III” th. 1795-1810 M, melakukan perlawanan pada Belanda dan mampu menggetarkan Gubernur Jendral Daendels, hingga membutuhkan taktik adu domba dengan memanfaatkan kraton Jogjakarta dan saudara beliau Pangeran Dipokusumo untuk menangkap dan menghentikan perlawanan Rangga Prawirodirjo III. (Tokoh ini layak diusulkan sebagai pahlawan Nasional
  • Sentot Alibasyah Prawirodirjo senopati yang ditakuti pasukan Belanda dalam perang Diponegoro th. 1825-1830 adalah putra dari Rangga Prawirodirjo III dengan istri asli Madiun. Wilayah Madiun dengan kekuatan penuh rakyat dan pasukan kadipaten di wilayah madiun turut aktif melawan pasukan Belanda, hingga baru tahun 1830 Belanda resmi menguasai wilayah Madiun dan mulai penguasaan tanah perkebunan tebu, kopi, tembakau dan lainnya.
  • Raden Ario Adipati Brotodiningrat 1885 – 1900 Bupati Madiun ke 23 berani memberi perlawanan pada fitnah residen Belanda JJ Donner karena Bupati dituduh berkomplot hendak menyusun persekutuan jahat dengan mengobarkan Perang Diponegoro jilid ke-2. Sebulan setelah penyelidikan, pencuri tertangkap namun tuan Residen tetap tidak percaya. Brotodiningrat lalu dibuang ke Padang, Sumatera Barat. Nah, yang menarik, dalam membela diri, Bupati Madiun menggunakan jasa pengacara, wartawan, serta mengirim nota protes ke Ratu dan parlemen di Den Haag Belanda. JJ Donner sendiri dipensiunkan karena dianggap telah mencapai titik terendah nervous breakdown. Karya monumental “the Brotodiningrat Affair “ karya Ong hok ham
  • HOS Cokroaminoto 1882- 1934, pendiri Sarikat Islam dan guru Bangsa yang melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno, HOS Cokroaminoto lahir di Bakur Madiun
  • Perjuangan Tentara Pelajar. Agresi Militer Belanda I tahun 1947, setelah Surabaya menjadi sasaran militer Belanda, maka Madiun dijadikan pertahanan dan tempat mengungsi. Tentara Pelajar yang tergabung dalam Mas TRIP dan TGP ikut aktif dalam perlawanan terhadap aksi PKI 1948 hingga gugur Pemuda Mulyadi di depan SMP 2 Madiun, dan perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda II hingga banyak tentara pelajar yang gugur di wilayah Madiun, untuk mengenang perjuangan para pelajar ini dibangun monumen Mastrip dan Monumen TGP di Madiun.
5. Era Kolonial
Pada 1 Januari 1832, Madiun secara resmi dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda dan dibentuklah suatu tatanan pemerintahan yang berstatus karesidenan dengan ibu kota di Desa Kartoharjo (tempat istana Patih Kartoharjo) yang berdekatan dengan istana Kabupaten Madiun di Desa Pangongangan, Tanggal 20 Juni 1918, di bentuk Pemerintah Gementee /Kota Praja Madiun. Banyak peninggalan Bangunan-bangunan gaya Empire, Indische, artdeco dan Tionghwa:

Kawasan pecinan, Rumah Kapitan China, Lingkungan Pendopo Bupati, Asrama Kepangeranan, Kantor Walikota, Bakorwil, Korem 081, Kodim 0803, Denbekang, Satlantas Polresta, Gudang Uyah & kopi, PG di wil Madiun, Bosbow, Rumah Tahanan Militer, Gereja Katolik st. Cornelius, Bioskop Arjuno & Lawu, Perpuskota, Klenteng Tri Dharma, BRI Alun-alun, SMP 2, SMP 6, SMP 13, SMP 5, SMP santo Yusuf, SD Jenggala, SD Kartini, SD Endrakila, SD Guntur, SD Pangongaan, SD 2 Kartoharjo,SD Jl. Nori, Stasiun KA, dll.

Sumber :
  1. Buku Sejarah Kab Madiun 1980
  2. Novi B M, Buku Nagara Glang-glang I Bhumi Ngurawan
  3. Laporan Penelitian Epigrafi wilayah Madiun dan sekitar tahun 1996 oleh Titi Surti Nastiti dan Machi Suhadi
  4. Wikipedia
  5. Blusukan "Kompas Madya"