Pecel Madiun dan Sejarahnya
By Septian Dwita Kharisma
Secara umum pecel adalah sebuah makanan khas daerah Mataraman, mataraman adalah wilayah-wilayah yang pernah dikuasai oleh Penembahan Senopati dari Mataram Islam yang dahulu Bekas Wilayah Mataram Kuno (abad 9 M), kerajaan Mataram kuno yang bercorak Hindu tersebut sudah mengenal pecel Hal ini dibuktikan dengan catatan yang berjudul kekawin Ramayana. Selanjutnya suku tengger juga mengenal pecel, konon Masyarakat Tengger adalah keturunan langsung kerajaan Majapahit.
Pecel dalam kebudayaan masyarakat tengger adalah makanan yang digunakan untuk ritual, menurut catatan J.E Jesper mantan Asisten residen Rembang mencatat dalam laporannya yang bernama Tengger en de Tenggereezen (Tengger dan Masyarakat Tengger) dimana dalam catatan itu dikatakan bahwa pecel adalah hidangan yang digunakan untuk ritual kelahiran seorang anak di dalam suku tengger dikenal sebagai pecel brosot, pecel brosot adalah hidangan yang berupa daging ayam yang disuir-suir halus yang disiapkan dengan sambal, santan dan ayam tersebut dipanggang serta dilumuri asam dan garam (J.E Jesper, 1928: 66)
pecel merupakan masakan khas mataraman. Hidangan tradisional, hal tersebut tercantum dalam naskah babad tanah jawi. Babad tanah jawi adalah karya sastra yang dahulu ditulis pada zaman sri susuhunan pakubuwono I, beliau memerintahkan penulisan buku tersebut pada tahun 1700an ( wulandari, 2020:_).
Dalam kitab kuno tersebut dikisahkan sunan kalijaga mengunjungi rumah ki gede pemanahan. Selama diskusi dengan Ki Ageng Pemanahan disebuah batu besar di tepi sungai Gadjah wong disambut Nyi Ageng Pemanahan.
Istri Ki Ageng Pemanahan itu membawa sepiring sayur dengan bahan dasar kacang tanah dan nasi. Sunan kalijaga tidak tahu hidangan seperti itu dan bertanya pada Ki Ageng Pemanahan, dan Ki ageng pemanahan menjawab, masakan yang terbuat dari sayur rebus yang diperas airnya, dinamakan pecel (wulandari, 2020:_)
Pecel di dalam serat centhini adalah makanan yang dihidangkan untuk para tamu yang berkunjung kerumah biasanya para tamu selain diberi hidangan pecel, mereka juga diberi hidangan berupa buah-buahan dan ayam yang biasanya menjadi lauk-pauk serta aneka jenang seperti brem, wajik dan lain sebagainya.
serat centhini tersebut dikatakan ketika Raden Jayengresmi bersama dengan kedua santrinya yang bernama gathak dan gathuk, disebuah berjalan di lereng gunung kelud tepatnya di hutan lodaya, sesampai disebuah surau ia disambut dengan oleh Ki Carita, Ki Carita memerintahkan anak perempuannya Ni Rubiyah menyiapkan hidangan untuk para tamunya, di pagi itu Raden Jayengresmi beserta santrinya.
Mereka diberi hidangan berupa makanan dan minuman hasil bumi Ki Carita, selanjutnya ketika Raden Jayengresmi melakukan perjalanan kembali bersama kedua santrinya. Mereka sampai di dukuh prawatadi wilayah krajan undakan, Raden Jayengresmi disambut dan diberi hidangan, Lombok terong, pare, timun, kacang, ceme, jambu dersana, manggis, kepel, kokosan, rambutan, dhuwet delima, jeruk , salak, pelem santok, pelem sengir, pelem madu, jangan bening, sambel, jangan menir, pecel ayam lalaban cambah kemangi (Wahjudi pantja sunjata dkk, 2014: 26)
Selain menjadi hidangan para tamu, pecel juga bisa dihidangankan untuk sesajen dan acara spiritual masyarakat di masa-masa mataram Islam. Dalam catatan peneliti Belanda, L. Th. MAYER dan J. F. A. C. van MOLL dalam bukunya “De Sëdëkahs En Slamëtans In De Desa“ pecel dihidangkan di ruang tengah yang biasanya digunakan untuk acara manten, dalam ritual tersebut hidangan yang dihidangkan ialah panggang pitik urip, kelapa, beras, minyak kacangm tumpeng, jajan pasar, gedhang ayu, jadah, wajik, pondhoh, inthil, jongkong, uler-uleran, klepon gimbal,cengkaruk, srabi, pecel pitik, jangan menir, sega golong, sega wuduk, ayam lembaran (MAYER & Moll, 1909: 23)
Tradisi spiritual ini dengan hidangan pecel, berjalan hingga era kolonial Belanda biasanya masyarakat desa menghidangkan pecel ketika mereka melakukan kegiatan slamatan
dalam catatan De Sëdëkahs En Slamëtans In De Desa tersebut, Kegiatan Slamatan tersebut dipimpin oleh seorang pemuka agama, ia memimpin sholawat dan doa, kegiatan ini dilakukan setiap selasa kliwon, anggara kasih dan hari raya. Dimana terdapat 7 atau 9 bola-bola nasi yang dipotong sebagian diberi daging. dan hidangan lainnya, terdapat juga pecel ayam hidangan daging ayam yang disiapkan dengan cara khusus disajikan, dan ini lebih merupakan semacam makan malam santai di mana para undangan berpartisipasi, acara ini dipersembahkan untuk para dewa dan roh agar orang atau keluarga ini tidak terkena mara bahaya Namun secara lebih umum, pada hari Jumat atau Selasa kliwon biasanya membakar dupa di tempat-tempat yang disebut suci, di rumah, di dapur, lumpia (lumbung padi), di sumur atau di halaman, di jalan, dll. sebagai persembahan kepada makhluk halus atau menaburkan bunga dll, ini disebut slamëtan kliwonan
Pada abad ke 15 terjadi konflik antara dua kerajaan diantara Mataram Islam yang dipimpin oleh penembahan Senopati dengan Kesultanan Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadi Wijaya, ketika itu Madiun yang masih bernama Purabaya dipimpin oleh Ronggo Jumeno dibawah kekuasaan kerajaan pajang. Pada tahun 1586 setelah kerajaan Pajang Jatuh oleh Mataram Islam, Purabaya yang dipimpin oleh Ranggo Jumeno melawan Mataram Islam.
Perlawanan tersebut selanjutnya dipimpin oleh Retno Jumillah yaitu putri Ronggo Jumeno. Namun perlawanan tersebut gagal dan akhirnya Penembahan senopati memperistri Retno Jumillah, hingga akhirnya oleh Penembahan Senopati. Daerah Purabaya diganti nama menjadi Madiyun atau Madiun pada tahun 1590.
Hegemoni Mataram oleh Penembahan Senopati itulah yang membuat Budaya Madiun mulai menjurus ke budaya Mataram sehingga mempengaruhi seluruh bidang kebudayaan termasuk kuliner yang ada di Madiun, disitulah makanan Pecel mulai dikenal.
Di Madiun, pecel memiliki cita rasa tersendiri. pada era kemerdekaan, makanan pecel Madiun menjadi primadona karena pecel kerap dijadikan santapan para pasukan republik saat era revolusi
pada 1948 ketika terjadi pembrontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, Divisi Siliwangi yang datang ke Madiun untuk menumpas pembrontakan tersebut, Masyarakat sekitar penginapan Divisi Siliwangi di Jalan Kutilang Kota Madiun selalu mengirim Nasi Pecel untuk kebutuhan makanan pasukan (Wawancara dengan pak Saioen 98 tahun pada 09 september 2018)
Hal tersebut membuat makanan pecel dikenal luas oleh masyarakat dan lestari hingga sekarang, menjadi Makanan Rakyat .
*Sumber Bacaan
1.Wahjudi pantja sunjata, dkk . “kuliner Jawa dalam serat centhini” (Departemen pendidikan dan Kebudayaan Balai pelestarian Nilai budaya Yogyakarta, 2014)
2. J.E Jesper, Tengger En De Tenggereezen (Monografieën Van Het Java-Instituut En G. Kolff & Co., 1928),
3. L. Th. MAYER dan J. F. A. C. van MOLL “De Sëdëkahs En Slamëtans In De Desa “ (G. C. T. VAN DORP & Co: 1909)
4. https://eudl.eu/pdf/10.4108/eai.9-10-2019.2291109 di unduh pada 19 november 2021.
*Sumber wawancara
Wawancara dengan pak Saioen 98 tahun pada 09 september 2018
Catatan:
Catatan sejarah ini belumlah sempurna, masih perlu banyak sumber lagi. Sehingga catatan sejarah pecel madiun ini seyogyanya perlu di sempurnakan serta diteliti lebih lanjut dan ini hanya sebuah catatan kecil pastinya ada banyak Refrensi diluar sana soal Sejarah Pecel Madiun -Sekian-.
Dicopy dari FB. Septiyan D Karisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar