Minggu, 14 Februari 2021

SEJARAH PASUKAN SUKARELAWAN PEMBELA TANAH AIR (PETA) DI MADIUN



 SEJARAH PASUKAN SUKARELAWAN PEMBELA TANAH AIR (PETA) DI MADIUN 

Oleh Septian Dwita Kharisma 


1. Pendahuluan 

Pembentukan PETA (Pembela Tanah Air) mulanya berawal pada 7 September 1943 dari permohonan Raden Gatot Mangkoepradja disusul oleh permohonan lain yakni tanggal 13 September 1943, permohonan di sampaikan oleh Sepuluh orang alim ulama terkemuka (Sukadri dkk, 1981: 49) diantaranya, K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri (_, 2005: 35). Sehingga dibentuklah PETA pada 3 oktober 1943, PETA dirancang oleh pejabat-pejabat Angkatan darat ke-16 Jepang sebagai pasukan greliya bantuan yang disentralisasikan untuk disebarkan jika terjadi serangan oleh sekutu ke pulau jawa (Anderson, 1988: 40). Di satu sisi PETA dibentuk oleh Pemerintah Pendudukan Jepang untuk menanamkan jiwa patriotisme pemuda Indonesia, menanamkan cinta tanah air, rasa kebangsaan. Pembentukan Angkatan bersenjata ini disambut oleh para pemuda di berbagai daerah sehingga terbentuknya Kesatuan-kesatuan PETA di seluruh Jawa Terutama di Madiun. 


2. Sejarah PETA di Madiun 


A. Masa Pendudukan Jepang

Pembentukan organisasi militer PETA di tingkat Pusat tersebut disambut oleh daerah-daerah, di Karisidenan Madiun terdapat tiga Daidan diantaranya, Deidan Madiun, Pacitan dan Ponorogo (Sukadri dkk, 1981: 50). luangnya syarat masuk ke dalam PETA yang Tidak melihat Golongan sosial, sehingga Priyayi, pegawai pemerintahan dan guru serta rakyat biasa bisa masuk kedalam PETA, Menjadi anggota PETA diminati oleh para Pemuda Madiun penghidupan para anggota PETA cukup terjamin dan diberi Jatah panga setiap harinya jatah makanan terdiri dari 350 Gram beras, 100 Gram Tapioka dan ditambah ikan asin dan lain-lain (Koesdim dan Soekowinoto 1981: 87). 


Dibentuknya badan pembantu Prajurit PETA, membuat kesejahteraan terjamin, badan ini bertugas meminjami, Peminjaman Uang, pemberian makanan, Pakaian, mengurus kiriman uang, membantu belasungkawa dll (Gunawan, 1981: 44) anggota PETA Dai I Daidan Madiun memiliki barrack yang sering disebut Kesatrian PETA (sekarang menjadi Batalyon 501 di Manguharjo) dan Sedangkan PETA Dai II Chiku Sireibu Chiku Sireibu Iwabe Butai bermarkas di Kompleks Boschbow Oro-oro ombo, Kartoharjo Madiun, Dai II Chiku Sireibu Iwabe Butai sendiri adalah Setingkat Divisi yang membawahi seluruh Daidan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Soeharto (Mantan Republik Indonesia ke 2) pernah menjabat sebagai Chudanco bagian Kepala Pendidikan di Dai II Chiku Sireibu Iwabe Butai (Negara, 2015: 76). 


Komandan Daidan PETA Madiun ialah seorang Wedana Caruban bernama Agus Thoyib, salah satu komandan kompi ialah seorang guru olahraga Sekolah Menengah Umum R. Soenadi dan Chudanco dijabat oleh Djokosoejono, Sumantri serta Murman Slamet. PETA Madiun di didik dengan disiplin dan keras ala Militer Jepang seperti baris berbaris, penggunaan senjata api, berlatih perang (Perang-perangan) hingga Greliya. 


Ketika ada informasi Soal persiapan Pembrontakan Daidan Blitar pada 14 Februari 1944, Kanpetai (Polisi Rahasia Pasukan Jepang) Daerah Madiun membatasi aktivitas anggota PETA Daidan Madiun dibatasi, seperti tidak boleh keluar malam, penggunaan senjata api dibatasi, berlatih senjata dengan Senjata tiruan, pembagian amunisi juga dibatasi hingga tak Boleh bergerombol lebih dari 5 orang ( _ , 1981: 290). Dari kebijakan Kanpetai Madiun tersebut para anggota PETA Daidan Madiun tidak bisa membantu PETA Blitar untuk menggelorakan perlawanan pada Pemerintahan Pendudukan Jepang di Daerah Madiun, akhirnya rencana pembrontakan lokal yang rencananya dilakukan serentak itu gagal. 


B. Peran PETA Madiun Pasca Kemerdekaan

Informasi proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 baru terdengar di Madiun pada 18 September 1945, para perwira PETA Daidan Madiun dengan tanggap dan sigap merespon berita Kemerdekaan itu dengan melakukan Pelucutan Senjata di markas Kanpetai (sekarang KOREM 081 di Jalan Pahlawan Kota Madiun) dan Markas pasukan Jepang atau Dai Ni chiku Shireibu (sekarang dikenal sebagi Kompleks Boschbouw) bersama massa rakyat dan pemuda Madiun, penyerbuan dan pelucutan Senjata di Markas Kanpetai itu dilakukan oleh Djokosoedjono seorang eks Chudanco PETA Daidan Madiun dan Bupati Madiun Ronggo Koesnindar membujuk Pasukan Kanpetai untuk menyerah serta menyerahkan senjatanya pada militer, rakyat dan pemuda Madiun. Di daerah Madiun eks Anggota PETA Daidan Madiun memiliki kontribusi yang besar Seperti Murman Slamet menjadi pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR/TNI sekarang) Kab. Madiun, R. Sunadi mendirikan Polisi Tentara (PT atau CPM sekarang) Detasemen Madiun yang bermarkas di Jalan Pahlawan yang sekrang menjadi Matahari mall, Soemantri menjadi Pemimpin BKR Se Karisidenan Madiun dan Agus Toyib Eks Komandan Daidan PETA Madiun, berpindah menjadi anggota Polisi dengan Pangkat Inspektur Polisi I (Yauwerissa, 2013: 46) sehingga menjadi perwira tinggi di kesatuan Polisi Istimewa (BRIMOB) di Madiun. 


DAFTAR PUSTAKA 

1. Anderson, Ben. (1988) “Revoloesi Pemoeda, Pendudukan Jepang dan Perlawanan Di Jawa 1944-1946” Jakarta: Sinar Harapan 

2. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Madiun (2005), Monument-Monument Peristiwa Sejarah Dan Profil Seni Budaya Di Kota Madiun 

3. Gunawan, Putu, Gde, I. (1981) "Madiun shu Pada Masa pendudukan Jepang 1942-1945". Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. (Tulisan tidak diterbitkan) 

4. Sukradi K, Heru. Soewarno, Umiati RA. (1991) “Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Di Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional 

5. Negara, Surya, Mansur, Ahmad (2015) “Api Sejarah 2” Bandung: Surya Dinasti 

6. Pemerintah Kabupaten Madiun Tingkat II Madiun (1980), "Sejarah Kabupaten Madiun" 

7. Yauwerissa, Lorenzo (2013) “Pasukan Polisi Istimewa, Prajurit Istimewa Dalam Perjuangan Kemerdekaan Di Jawa Timur” Yogyakarta: Matapadi Presindo

#sejarahmadiun #sejarahperjuangarakyatmadiun #madiuneksplorer #historiavanmadiun #HVM #madiunpeople #sejarahmadiunraya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar