Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 15 November 2016

Kisah Pejuang Mobpel dalam Agresi Militer II di wilayah Madiun

Silaturahmi HvM pada pejuang Mobpel Pak Madijo

Kunjungan Historia Van Madioen / Kompasmadya ke ndalem Bapak Madijo, ex. Pejuang Mobpel jl. Utama Karya No 7 Margobawero, Kota Madiun. Sabtu, 12 November 2016, dua hari setelah peringatan hari pahlawan 10 November. 

Bapak Madijo mengawali kisah perjuangannya saat beliau masuk sekolah SMP tahun 1946 di Magetan sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu bagian timur. Beliau masuk SMP Tahun 1946 yang pada saat itu ada sebuah Instruksi dari Wakil kepala Staf  Angkatan Perang TB Simatupang bahwa semua pelajar Tingkat SMP dan SLTA diwajib kan mengikuti pendidikan kemiliteran secara fisik selama 3 bulan oleh Depo Militer. Pada saat itu SMP di kabupaten Magetan hanya satu, yaitu sekolah Ex. HIS Belanda dan baru ada kelas I dan kelas II sebanyak sepuluh kelas.

Saat perebutan Kekuasaan Madiun oleh FDR-PKI / Muso, 18 September 1948. Beliau masih sekolah SMP, menyaksikan sendiri gerobolan-gerobolan PKI menduduki Kota Magetan dengan ciri membawa senjata arit, golok atau pedang dan berpakaian hitam-hitam. Mereka mencari orang-orang yang tidak mau tunduk pada FDR-PKI/Muso, seperti Tokoh PNI, Pamong, Tentara, Polisi dan pemuda-pemuda yang tergabung IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) termasuk Mas Madijo dan Kawan-kawan hingga melarikan diri kearah Sarangan.

Setelah adanya perintah langsung dari Presiden Sukarno untuk merebut kembali Madiun dan sekitar dari PKI Muso, datang bantuan Pasukan Siliwangi dari arah Sarangan, Mas Madijo beserta 10 rekannya yang saat itu melarikan diri ke Sarangan bertemu dan ikut bergabung dengan pasukan Siliwangi.  

Saat Agresi Militer II tahun 1949, Belanda menduduki Madiun dan sekitarnya 26 Desember 1948. Waktu itu Mas Madijo tergabung dalam PGSS ( Pasukan Gerilya Suprapto Sukowati) dan bertugas sebagai Spionase dan Kurir namun juga ikut gerilya sebagai Foretroop. Pusat perjuangan gerilya di Magetan berpusat di 2 sektor yaitu, magetan selatan di Parang, dan Magetan utara di Panekan.

Dalam mejalankan tugas mengantar surat, Mas Madijo biasanya menyamar sebagai bakul Kecap keliling, dengan kode-kode khusus surat disampaikan secara beranting.  Selain tugas kurir, juga menjadi penunjuk medan saat diadakan penyerangan gerilya oleh pejuang pada malam hari, maka biasanya siang harinya Pasukan Belanda selalu membabi buta melakukan penyisiran dan membakar rumah-rumah penduduk di sekitarnya, namun rakyat pada waktu itu sangat mendukung pejuang Republik hingga mereka rela berkorban harta dan bahkan nyawa demi kemerdekaan Republik Indonesia. Bapak Madijo mengenang hal itu merasa sangat sedih, namun bersyukur sampai saat ini masih bisa mengemong anak cucu dan berharap jayanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak kisah-kisah suka duka dalam perjuangan waktu itu, salah satunya hal yang cukup menegangkan dan mengharukan yaitu saat beliau dibujuk ikut Belanda oleh Hong Cun anak Juragan  Permen warga Tionghwa dan sempat diajak ke markas Belanda, dirayu oleh Hong Cun bahwa kalau mau ikut Belanda bisa makan enak dan minum susu yang akhirnya mas Madijo ditahan. Pada saat di dalam markas Belanda tersebut Mas Madijo ketemu juru masak Rumah sakit yang sudah kenal dengan baik sebelumnya. yaitu Yu Sri sang Juru masak ditunjukan jalan keluar berupa jlurung pembuangan air menuju ke sungai, namun Mas Madijo menginginkan sambil keluar harus membawa oleh-oleh peluru dari Belanda. Pada malam itu Yu Sri yang paham tentang seluk beluk markas sengaja memberi semacam obat bius pada para penjaga, hingga leluasa membuka kamar tahanan yang berisi tujuh orang dan gudang peluru. Mas Madijo beserta tujuh tawanan yang dibebaskan membawa tujuh kotak peluru dan senjata lainnya, hingga keesokan harinya Pasukan Belanda marah membabi buta mengejar dan membakar rumah penduduk yang dianggap menyembunyikan atau membantu para pejuang.

Kebetulan Hong Cun ini punya adik Hong kyon seorang  yang pro Republik dan ikut tentara. Oleh mas Madijo, Hong Cun di laporkan ke Pak Lurah Jayadi yang juga seorang anggota mobrig, “Pak Lurah, Hong Cun melu landa!”.  “kowe kok ngerti! , geg kowe engko sing melu landa!” bentak Pak Lurah. “kula belehen saiki mawon yen ngapusi pak Lurah!” Mas Madijo meyakinkan.  Kemudian disepakati untuk menjebak Hong Cun, yaitu diundang ke tempat pak lurah dan diajak mabuk-mabukan. Setelah mabuk, tubuh Hong Cun di gulung dengan tikar pandan dan di pikul dari Tambran ke Sukowinangun dan dibawa ke kuburan Desa Sumber dodol. Pada saat itu dipanggilkan adiknya yang juga pejuang, Hong Kyon untuk mendapatkan penyelesaian, dan ultimatum dari Komandan S. Sukowati “piye Kyon, ngkohmu kaya ngono kuwi, mati urip kari kowe, yen ora gelem mateni, kowe sing tak pateni”. Sebuah keputusan yang sulit, namun demi perjuangan Kemerdekaan republik , Hong kyon membunuh kakaknya sendiri. 

Dikisahkan juga, beliau sempat menyaksikan  saat eksekusi gembong FDR-PKI/Muso di alun-alun Magetan, yaitu Soetjipto seorang Onder district Panekan yang akan di angkat Bupati PKI/Muso, dan Sipong Komandan Laskar FDR-PKI/Muso yang dikenal punya ilmu kebal, hingga harus dicari pengapesannya, yaitu tali kolor.   

Begitulah secuil kisah Mas Madijo, seorang pemuda pemberani dari Desa Kebonagung Magetan, Putra dari bapak Atmoredjo. Yang kemudian hari menikah dengan gadis asal Madiun Siti Sulasmini dan akhirnya meniti karir sebagai guru dan Kepala Sekolah, terakhir beliau menjabat sebagai Kepala SD Negeri Munggut Madiun.