Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 14 November 2016

Sejarah Perjuangan Mobpel (Mobilisasi Pelajar)

MOBPEL (Mobilisasi Pelajar)

Sejarah Perjuangan Mobpel (Mobilisasi Pelajar)

Mobilisasi Pelajar (MOBPEL), sebuah nama dan singkatan yang cukup asing bagi masyarakat pada umumnya , bahkan di kalangan mahasiswa sejarah dan pengamat sejarah. Nama Mobilisasi Pelajar sangat jarang dikenang atau diabadikan, bahkan tidak ada monumen khusus seabagai penanda perjuangannya.  Hingga apa yang dimaksud dengan Mobilisasi Pelajar pun tampaknya masih banyak yang tidak mengetahuinya. Seperti sebuah jalan di wilayah Kota Madiun, dan satu-satunya nama jalan yang menggunakan nama kesatuan pejuang yang cukup asing ini, yaitu Jl. Mobilisasi Pelajar.  Sebuah jalan kecil disamping SMA Negeri 5 Madiun dan SMK Negeri 4 Madiun, tampak disini cukup membuat nama Mobilisasi Pelajar menjadi sumir, dengan kawasan sekolah yang berada disekitarnya.
Mobilisasi Pelajar adalah sebuah kesatuan pelajar  yang ikut berjuang membela Negara di era revolusi fisik pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, basis perjuangan anggota MOBPEL kebanyakan tersebar di K.O.D.M, K.D.M seluruh wilayah territorial masing-masing dan berjuan bersama-sama dengan penduduk setempat membantu Tentara dalam perjuangannya melawan pasukan penjajah Belanda.

Jl. Mobilisasi Pelajar Madiun

Diwilayah Madiun selain terbentuk TRIP (tentara Republik Indonesia Pelajar) yang punya sejarah perjuangan sangat heroik dengan tokoh Mulyadi salah satu anggotanya yang gugur di depan sekolah SMP Pertahanan (red. SMP 2 Madiun) sebuah aksi heroik  “student army”. Selain itu TGP (tentara Genie Pelajar)   yang  lahir di ST (red. SMP 12 Madiun) dengan tokoh heroiknya Mas Bagio Saparno,  2 pelajar pemberani yang gugur karena bom yang digunakan untuk menghadang konvoi Belanda meledak sebelum waktunya.

Mobilisasi Pelajar dibentuk dalam upaya mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari usaha Belanda untuk menguasai kembali wilayah Hindia Belanda. Secara resmi instruksi pembentukan MOBPEL pada 8 Mei 1949 berdasarkan  Perintah Harian Panglima Komando Djawa tentang pembentukan Mobilisasi Pelajar dalam tubuh TNI.

Semangat untuk ikut berjuang mempertahankan Kemerdekaan menggelora di dada para pemuda dan pelajar  Indonesia. Maka dibentuklah Mobilisasi Umum dan Pelajar untuk ikut berjuang melawan Agresi Militer Belanda. Melalui KODM (Komando Onder District Militer) setempat di rekrut dan di latih strategi perang dan menggunakan senjata.

Mobilisasi Pelajar yang awalnya bersifat Bantuan dikarenakan situasi perang yang mendesak hingga dengan pengetahuan dan kemampuan militer seadanya harus ikut bergerilya di garis depan. Pada umumnya dalam 1 regu Mobilisasi Pelajar  hanya dibekali 1 atau 2 senapan dan beberapa pistol dengan peluru yang sangat terbatas dan dalam gerilya dilakukan bersama-sama satuan tentara regular.

Sesuai penelusuran seorang Mahasiswa Universitas Malang Jurusan Sejarah, Sdr. Bagus Ninar Kota Madiun merupakan salah satu pusat dari kesatuan Mobilisasi Pelajar selain itu juga terdapat di Surabaya, Malang dan Jogjakarta dengan jumlah anggota mencapai 1.114 orang pejuang berdasarkan data Kepala Staf “A” AD Tgl. 28 November 1950.

Saat Agresi militer II 1948-1949, Mobilisasi Pelajar diwilayah Madiun merupakan salah satu kesatuan pejuang yang cukup aktif bergerilya menyerang pos-pos pasukan Belanda dan membantu kesatuan lainnya dalam pengintaian-pengintaian, kurir dan logistik.
Markas-markas regu Mobilisasi Pelajar banyak tersebar di hutan-hutan daerah Pegunungan Lereng Lawu diantaranya Plaosan, Panekan, Jogorogo, Paron , Pilang kenceng, Geneng  dan juga bermarkas di kantor-kantor KODM setempat.

Sumber:
Historia Van Madioen, Bagus Ninar 2016




Perjuangan Para Pelajar dalam Kesatuan MOBPEL 
Sub Territorial Militer (S.T.M) Madiun.


Judul artikel ini saya kutip dari sepotong kalimat Sambutan Ketua Umum Paguyuban Keluarga Besar Ex. Mobilisasi Pelajar , yaitu Drs. H. Widarto pada reuni IX tanggal 15-16 Juni 2002 di Malang.
Setelah beberapa lama, merasa penasaran dengan kisah dan keberadaan pejuang Mobilisasi Pelajar akhirnya berkat seorang kawan yang sedang menelusuri perjuangan Mobpel dengan berusaha mendatangi dan mewawancarai secara langsung  para pejuang Ex. Mobpel di wilayah Madiun dan sekitarnya, kami mendapatkan buku kenang-kenangan reuni paguyuban keluarga besar ex Mobpel.
Hingga Keberadaan pejuang Mobpel yang sementara itu kami anggap tenggelam di balik kemunduran nasionalisme dan ketidak pedulian generasi muda akan pentingnya sejarah perjuangan bangsa maka hal ini sedikit menggugah kami untuk mengingatkan kembali akan semangat dan pengorbanan para pelajar-pelajar yang gagah berani membela bangsa dan tanah air.
Dalam buku ini dikisahkan sejarah perjuangan para pemuda, pelajar dan masyarakat Madiun dalam menghadapi berbagai musuh dan tantangan yang diawali peristiwa Madiun Affair.


Jatuhnya Madiun ke Tangan Pemberontak F.D.R / P.K.I MUSO

Dimulai 18 September 1948 terjadi “coup d`etat (perampasan Kekuasaan) oleh PKI/Muso dengan menyerang dan menduduki markas dan bagian-bagiab pertahanan Jawa Timur pada pukul 03.00 oleh kesatuan Brigad  29/Pesindo. Kesatuan-kesatuan dari brigade 29 dibawah pimpinan Kol. Dahlan antara lain, Batalyon Musyofa di Kota Madiun, Batalyon Mursid di Saradan, Batalyon Panjang Joko Priyono di Ponorogo, Batalyon Abdul Rahman dari Kediri dan Batalyon Maladi Yusuf beroperasi di Ponorogo dan Sumoroto. Letkol Marhadi dan seluruh  stafnya di tahan. Komandan CPM dan lainnya dibunuh. Hanya seorang staf pertahanan Jawa Timur yang selamat, yaitu Kepala Seksi 3 Letkol Kartidjo.



Pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Sumarsono (pimpinan Pusat Pesindo), Kol. Dahlan, Kol Djoko Sujono dari Brigade 29 dengan cepat menguasai Madiun. Mereka berhasil menguasai Markas Besar Pertahanan Jawa Timur, Sub Territorium Komando Madiun, Depot Batalyon CPM dan srama Polisi Negara Kota Madiun.  Pemberontakan kemudian menjalar ke Purwodadi, Grobogan, Blora, Cepu dan Kota-kota lainnya.


Pada Keesokan harinya 19 September 1948 pukul 10.00 pagi, diumumkan melalui radio, bahwa pemerintah daerah Madiun telah dipegang oleh rakyat dan berlaku pemerintahan Front Nasional dan diumumkan pejabat-pejabat baru, seperti Walikota, Bupati, Residen, dan Gubernur Militer. Gubernur Militer dipegang Sumarsono dan Komandan Militer Kota Madiun di angkat Djoko Suyono.


Jatuhnya Kota/Kabupaten Magetan Ke Tangan PKI Muso

Dua atau tiga hari sebelum FDR-PKI Muso menyerbu Magetan, Sebagian besar kekuatan Pasukan DEPO PPKP-V yang dikomandani Kapt. Soebirin berada di Sarangan karena ada Pendidikan Militer Akademi.
Tanggal 19 September 1948 sekitar pukul 01.30 dini hari , massa  FDR-PKI Muso menyerbu komplek Kabupaten Magetan, mereka berpakaian hitam-hitam ikat kepala merah membawa berbagai senjata. Dan mendirikan pemerintahan komunis dengan mengangkat Soetjipto ex. Camat Panekan sebagai Bupati Pemerintahan Komunis FDR-PKI/Muso. Dalam menghadapi pasukan pemerintah R.I Pasukan merah CTN Brigade 29 Pimpinan Kol. Dahlan yang bermarkas di Kediri (gabungan laskar minyak dan Pesindo) segenap anggota Pesindo Magetan Pengurus IPPI (ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) Pro PKI/Muso Cabang Magetan, Massa FDR-PKI/Muso semua dipersenjatai dan dikirim ke Ngerong Plaosan guna disiagakan menghadapi Pasukan R.I


Penumpasan Pemberontakan PKI/Muso

Sidang Kabinet segera mengambil keputusan untuk menumpas pemberontakan di Madiun dan menugaskan Panglima Sudirman. Keesokan harinya tanggal 19 September 1948 Presiden Soekarno pidato, antara lain berbunyi : “Kemarin pagi PKI/Muso telah mengadakan coup d`etat mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan disana satu Pemerintahan Sovyet dibawah pimpinan Muso. Perampasan kekuasaan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintah Republik Indonesia….dst”


Pasukan TNI yang dikerahkan untuk menumpas Pemberontakan tersebut antara lain, Batalyon Kian Santang pimpinan Mayor Sambas dari Brigade 2 Divisi Siliwangi. Sedangkan dari arah barat, yaitu dari Surakarta masuk ke Sarangan guna menumpas PKI/Muso di Magetan yaitu Batalyon Umar Wirahadi Kusuma dan Batalyon Lukas (putra Magetan kelahiran Tambran), Juga Divisi Siliwangi.


Pada tanggal 30 September 1948 Pasukan TNI berhasil menguasai kembali Kota Madiun serta daerah sekitarnya.  Dalam rangka penumpasan PKI/Muso ini diangkat Kol. Gatot Subroto sebagai Gubernur Militer yang berkedudukan di Surakarta.  Kurang dari 2 minggu pemberontakan PKI/Muso bisa dihancurkan, namun juga banyak korban dari masyarakat Madiun, salah satunya Mas Mulyadi anggota TRIP hingga ada peringatan di Makam Pahlawan Madiun yang berbunyi “Mulyadi Minta Ganti”. Di Magetan banyak tokoh masyarakat jadi kurban PKI/Muso diantaranya Pak Soehoed ayahanda Letnan TNI-AD Kharis Soehoed, Guru-guru SMPN, Ulama/Kyai,Pejabat sipil dan TNI/Polri bahkan sebagian besar anggota Polri termasuk Kepala Polisi Kab. Magetan Insp. Polisi Klas I R. Ismuadi dibunuh PKI. Di Ngawi Kepala Polisi Kab. Ngawi Insp. Polisi Klas I Barnadib bersama seorang putranya di Bunuh PKI/Muso do mobilnya diatas jembatan masuk Kota Ngawi, dan banyak lagi kisah-kisah pebunuhan biadab PKI/Muso.


Sewaktu TNI masuk Kota Madiun, Muso dkk sudah melarikan diri dan sempat merusak kantor telpon Madiundengan menggunakan Trekbom. Di Magetan gembong-gembong FDR-PKI/Muso yng tertangkap kemudian dieksekusi diaas podium di alun-alun Magetan ada 2 orang, yaitu Soetjipto Bupati PKI dan Sipong Komandan lascar FDR-PKI/Muso (eks. PETA)


Agresi Militer Belanda II

Disaat baru menyelesaikan pemberontakan PKI/Muso Madiun, Tanggal 18 Desember 1948 pukul 23.00 malam Belanda melalui Dr. Beel selaku wakil tinggi Kerajaan Belanda menyatakan tidak terikat lagi dengan perjanjian Renville, maka berarti pecahlah perang kolonial II atau Agresi Militer Belanda II.


Dengan pemboman besar-besaran lapangan Maguwo dan diikuti penerjunan pasukan Belanda pada pukul 03.00 dini hari. Maka 19 Desember 1948 Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda. Presiden Soekarno, Moh. Hatta dan beberapa menteri  ditawan dan diasingkan ke Prapat kemudian dipindah ke Pulau Bangka. Namun sebelum itu telah dibentuk pemerintahan darurat yang berkedudukan di Bukit Tinggi  oleh Menteri Kemakmuran Mr. Safrudin Prawiranegara untuk bisa mengendalikan Pemerintahan RI agar bisa berhubungan dengan KTN (komisi Tiga Negara, Yaitu Australia, Amerika Serikat dan Belgia)

Isi Perjanjian Renvile :
TNI harus ditarik dari daerah kantong , daerah kekuasaan Belanda.
Daerah-daerah RI yang telah diduduki Belanda di adakan Plebisit.
Penentuan garis Demarkasi , yaitu garis batas menurut garis Van Mook.


Sebelumnya Semua Kesatuan Pelajar secara organisatoris dikumpulkan dalam kesatuan Reserve Umum “W” (KRU “W”) dan menjelang Agresi Militer II KRU “W” ini dibentuk menjadi Brigade 17/TNI
  • TRIP Jawa Timur menjadi Detasemen I dibawah pimpinan Mayor Isman
  • TP Solo menjadi Detasemen II dibawah pimpinan Mayor Acmadi
  • TP Jogjakarta menjadi Detasemen III dibawah pimpinan Kapten Martono
  • TP Jawa Barat menjadi Detasemen V di bawah pimpinan Kapten Solichin
  • Batalyon TGP menjadi Detasemen V di bawah pimpinan Kapten Hartawan
  • Pasukan Mobrig M.B.T menjadi Detasemen Staf di bawah pimpinan Lettu. F.B.A Oetoro
  • Corps Mahasiswa (CM) menjadi kompi “M” dan beberapa orang anggotanya ditempatkan sebagai anggota staf Brigade yang kepala stafnya adalah Mayor Soekendro
Saat Belanda meyerbu Jogjakarta, masing-masing detasemen tersebut diatas beroperasi secara taktis dibawah Divisi dimana mereka berada, sedangkan staf Brigade XVII langsung berada di bawah Markas Besar Komando Djawa (M.B.K.D) yang dipimpin oleh Kolonel A.H. Nasution.

Sebelu pecah Agresi Militer Belanda II  ada sekitar 7 karesidenan yang belum diduduki  pasukan Belanda, yaitu  Karesidenan Kediri, Madiun, Surakarta, Jogjakarta, Kedu, Banyumas/ Purwokerto dan Bojonegoro. Diluar itu semua daerah telah di duduki Belanda, bahkan telah dibentuk Negara-negara Boneka seperti :
  • Dewan Federal Borneo, tanggal 9 Desember 1947
  • Negara Madura, 23 Januari 1948 dengan pimpinan : Cakraningrat Wangsa Kusuma
  • Negara Jawa Barat, tanggal 16 Februari 1948
  • Negara Pasundan, Tanggal 26 Februari 1948
  • Negara Sumatera Timur, Tanggal 24 Maret 1948
  • Negara Jawa Timur Tanggal 16 November 1948
  • Negara Indonesia Timur
  • Negara Republik Maluku Selatan, Pimpinan Dr. Soumokil.
  • Negara Papua.
Negara-negara itu semua merupakan Negara bagian dari Bentuk Negara Federal

Madiun Jatuh Ke tangan Belanda

Sesudah Jogjakarta sebagai Ibukota RI jatuh, maka sepekan kemudian Madiun diserang dari Udara dan darat. Serangan terjadi pada tanggal 25 Desember 1948 menjelang petang hari, 6 pesawat tempur Mustang  memutahkan granat ke sasaran darat, stasiun Kereta Api, hotel Merdeka dan beberapa tempat lainnya, namun serangan itu tidak mengenai sasaran. Serangan darat dilancarkan menggunakan beberapa kendaraan lapis Baja oleh Marinier Brigade dari Cepu yang memecah menjadi dua jurusan Yakni Ngawi - Maospati dan Ngawi – Saradan. Serangan ini juga dibantu oleh Kolone dari Brigade V (Kolonel De Vries) dari Solo dengan jurusan Tawangmangu – Magetan. Semua pasukan bertemu di Kota Madiun pada tanggal 26 Desember 1948.

Dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II di wilayah Madiun hanya dipertahankan oleh 1 Batalyon, Yakni Batalyon 40 / Yudho dibawah pimpinan Mayor Sukowati. Batalyon ini terbentuk sesudah Rera dan berasal dari Resimen Madiun, selain Batalyon 40 terdapat pula Batalyon M.B.B (Mobiele Brigade Besar) dari Polisi dengan pimpinan Komisaris Polisi Yasin.

Mengingat wilayah pertahanan yang cukup luas maka Dan Yon “Yudho” Mayor Suprapto Sukowati mencari pemecahan dengan mendayagunakan seoptimal mungkin potensi daerah dengan salah satu cara ialah membentuk Pasukan Gerilya “SS” (singkatan dari Suprapto sukowati) yang mendapat bantuan rakyat sepenuhnya. Pasukan Gerilya “SS” ini terdiri dari pangkalan-pangkalan yang membawai pos-pos. di Madiun selatan terdapat Pasukan Gerilya “SS” pangkalan VII yang bermarkas di Desa Ngongko (kebonsari) dengan Komandan Sumartono seorang siswa Akademi Militer Jogjakarta. Pasukan Gerilya “SS” semakin banyak anggotanya dan tersebar di wilayah Karesidenan Madiun, termasuk yang ada di Magetan sector Utara, yaitu di daerah Kecamatan Panekan, dibawah pimpinan Letnan Soewandi ( terakhir menjabat Danyon 502/ Raider).

Terbentuknya Mobilisasi Pelajar (Mobpel)

Diluar Brigade XVII / TNI masih ada pula kesatuan-kesatuan pelajar pejuang yang menjadi bagian dari Divisi atau Brigade TNI lain, seperti Laskar Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Blitar pimpinan Soewito / Soetomo. Kemudian Persatuan Pelajar Pejuang (PPP) Nganjuk / Mobilisasi Pelajar KDM Nganjuk Pimpinan Soenardi.
Para pejuang Nganjuk tersebut ikut berberilya didaerah Nganjuk selatan dan Timur. Juga ikut gerakan-gerakan TNI dalam melakukan serangan umum terhadap kedudukan pasukan Belanda di Kota Nganjuk dari 4 Jurusan pada tanggal 1 Maret 1949. Misalnya seperti Kompi Sturn Apieilung pimpinan Kapten Muktijo dan Kapten Mashuri, dibawah  Brigade Letkol Slamet Rijadi.
Pasukan Pelajar IMAM di Banyumas/Purwokerto di bawah Divisi V Pimpinan Kolonel Gatot Subroto. Pasukan “T” dibawah Brigade Ronggolawe dan Pasukan-pasukan Pelajar lainnya

Disamping kesatuan tempur, M.B.K.D juga membentuk sebuah Korps yang bernama Mobilisasi Pelajar (MOBPEL). Mobpel dibawah pimpinan orang-orang CM (Corps Mahasiswa) seperti Kapten Koentoadji, Lettu Usep Ranuwijaya dan Lettu Soetomo Adisasmito. MOBPEL bertugas mengerahkan tenaga rakyat dalam Hankamrata.

Dasar Hukum dibentuknya Mobilisasi Pelajar (MOBPEL)
  • UUD 1945 Bab XII Pertahanan Negara
  • Perintah Kilat No.1/PB/D/48 tanggal 19 Desember 1948 dari Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia
  • Maklumat Markas Besar Komando Djawa No. 2 / MBKD
  • Surat Keputusan Kepala Staf ANgkatan Perang Republik Indonesia No. 1/U/GSAP/1949 tanggal 1 Februari 1949 tertanda Kolonel T.B. Simatupang.  Berisi  petunjuk pelaksanaan Mobilisasi Pelajar dari SMP. SMA dan Mahasiswa dari Perguruan Tinggi yang belum tergabung dalam Brigade XVII/TNI. Isinya memberi pedoman/ketentuan meliputi 3 hal :
  • Untuk menambah kepastian dan mengisi kekosongan dalam bermacam-macam lapangan dalam pemerintahan militer
  • Mengerahkan tenaga-tenaga pelajar dengan diorganisir dan ditempatkan dibawah Komando Pemerintah Militer 
  • Sebagai langkah pertama kearah Mobilisasi Umum
Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang RI No.1/U/GSAP/1949 tanggal 1 Februari 1949 kemudian diperkuat dan disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah RI No.9 tahun 1949 tanggal 28 September 1949 tentang kewajiban berbakti bagi pelajar di Jogjakarta dan ditandatangani oleh :
  • Presiden Republik Indonesia : Soekarno
  • Menteri PP & K : Sarmidi Mangunsarkoro
Diumumkan pada tanggal 29 September 1949 oleh sekretaris Negara : Ag Pringgodigdo


Susunan Organisasi Staf Mobilisasi Pelajar

MOBPEL Tingkat Pusat
Komandan Ops MOBPEL               : Kapten Koentoadji (Mayj.  Pur. Prof Ir. H. Koentoadji)
Kepala Staf                                       : Lettu Moeljono
Dibantu Anggota                              : Lettu Soejanto ( Marsekal Madya Purn. Soerjanto)

Di tingkat Sub Territorium Militer Madiun (S.T.M Madiun)
Perwira MOBPEL                  : Letda Soenoko Hadisoebroto
Staf MOBPEL                        : Letda R. Tranggono

Susunan diatas untuk periode Juni 1949 – Januari 1950. Dan mulai tanggal 1 Februari 1950, perwira MOBPEL STM Madiun dijabat oleh Letda R. Tranggono menggantika Letda Soenoko yang alih tugas ke Jakarta dan dibantu oleh :  
Kepala Staf MOBPEL S.T.M Madiun           : Letda Christianto Prajitno
Bagian Administrasi                                       : Letda Soegiarto BS
Bagian Organisasi                                          : Letda Syamsu`ud Sadjad
Bagian Supply                                                : Letda Soedamo Siswohadimartono
Bagian Urusan Pelajar                                    : Letda Tohir Gunawan
Pembantu Bagian Adm.                                  : Sersan May. Setyo Pramono
Kegiatan selanjutnya membentuk MOBPEL di seluruh Karesidenan Madiun. Pada 8 Mei 1949 di dukuh Recobanteng Desa Wonorejo , Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, bersamaan diadakan rapat MOBPEL. Pasukan Belanda menyerang wilayah utara Gunung Lawu, yang sebelumnya sudah diketahui Belanda keberadaan Markas-markas Pejuang MOBPEL  , K.D.M Ngawi dan Batalyon Yudho Pimpinan Mayor Suprapto Sukowati. Dengan serangan itu jalan-jalan strategis Ngawi-Paron-Jogorogo-Ngrambe –Wlikukun dapat dikuasai Belanda. Sehingga Markas MOBPEL S.T.M Madiun, K.D.M Ngawi dan Batalyon Yudho harus meninggalkan daerah kaki Gunung Lawu pindah ke Pegunungan Kendheng berbatasan dengan wilayah MOBPEL S.T.M Bojonegoro, tepatnya Dukuh Jubleg dan Pule Desa Kenongorejo kecamatan Karangjati Kabupaten Ngawi.

Tanggal 25 Desember 1949 Staf MOBPEL S.T.M Madiun menyelenggarakan konperensi yang di hadiri Pembantu-pembantu Perwira MOBPEL dari K.D.M Pacitan, K.D.M Ponorogo, K.D.M Magetan, K.D.M Ngawi / K.M.K Madiun beserta staf. Hadir juga Bapak Soediro Residen Madiun dan Komandan S.T.M Madiun.
Yang membahas tatacara pengembalian anggota MOBPEL ke sekolah atau ke sekolah lanjutan, mengusahakan asrama pelajar pejuang yang berasal dari luar Madiun, menyelesaikan surat tanda Mobilisasi dan Demobilisasi serta daftar anggota seluruh Demobilisian yang akan dimintakan penghargaan pada Pemerintah RIS.  Hingga terbit surat Penetapan tanggal 9 Januari 1950 ditanda tangani oleh Kapten Mudijono Perwira Staf MOBPEL Gubernur Militer Djawa Timur.

Terbentuknya Staf Mobilisasi Pelajar K.D.M Ngawi dan S.T.M Madiun

Di Dusun Reco Banteng, Desa Wonorejo dekat dengan peninggalan purbakala Candi Recobanteng, atas prakarsa Sdr. Soenoko Hadisoebroto diadakan pertemuan, diiringi suara dentuman peluru pasukan Belnda yang mengadakan operasi pengejaran di wilayah Geneng dan Paron. Berkumpul Sdr. Soenoko, Sdr Soedamo Siswohadimartono, Sdri Indiati, Sdr. R Tranggono, Sdr. Tohir Gunawan dan beberapa Pelajar Pejuang.

Pada saat itu 8 Mei 1949, pertemuan membicarakan perintah Harian Panglima Komando Djawa tentang pembentukan Mobilisasi Pelajar dalam tubuh TNI. Dalam pertemuan yang sangat bersejarah itu terbentuk Staf Mobilisasi Pelajar K.D.M Ngawi dengan pimpinan Soenoko Hadisoebroto. Pada bulan beikutnya , yaitu Juni 1949 segenap anggota Staf Mobilisasi Pelajar K.D.M Ngawi menghadap komandan dan Kepala Staf Sub Teritorium Militer Madiun, Letkol. Marijadi dan Mayor Guritno guna membicarakan Staf mobilisasi S.T.M Madiun.
Pada saat itu Staf Komando S.T.M Madiun berada di wilayah G. Kendeng, yaitu Dukuh Jubleg diperbatasan antara Karesidenan Madiun dengan Karesidenan Bojonegoro.  Mengingat situasi dan kondisi pada waktu itu, Pimpinan S.T.M Madiun memutuskan bahwa semua jajaran staf MOBPEL K.D.M Ngawi ditetapkan sebagai Staf MOBPEL STMMadiun dengan susunan personil sebagai berikut :
  • Perwira Mobilisasi Pelajar                 : Soenoko Hadisoebroto alias Bambang Soemitro
  • Kepala Staf MOBPEL                        : R. Tranggono
  • Anggota-anggota staf MOBPEL        : Crhistanto Prajitno, Soegiarto BS, Soedamo Siswohadimartono, Tohir Gunawan, dan Soetio Pramono.
Dengan demikian terbentuklah Staf Mobilisasi Pelajar S.T.M Madiun.  Kegiatannya diantaranya :
Sdr. Soenoko Hadisoebroto keliling keseluruh Karesidenan Madiun untuk membentuk staf Mobilisasi Pelajar K.D.M-K.D.M sewilayah S.T.M Madiun
Sdr. R. Tranggono menghadap ke staf MOBPEL Markas Besar Komando Djawa (M.B.K.D) Sdr. Koentoadji, guna melaporkan dan mendapatkan penetapan dari M.B.K.D dan setelah itu melaporkan hal yang sama kepada Staf Gubernur Militer Djawa Timur (G.M.D.T) yang diterima oleh Sekretaris G.M.D.T, Kapten Mutakat Hurip, pada saat yang sam R. Tranggono di angkat oleh M.B.K.D sebagai Perwira Wartawan.

Setelah gencatan senjata tanggal 10 Agustus 1949, maka staf Pemerintah Militer Madiun, pindah markas dan kantornya di Kecamatan Kwadungan mulai September 1949. Demikian juga Staf MOBPEL S.T.M Madiun mengikuti pindah ke Desa Toya deka Kantor Kecamatan Kwadungan. Sedangkan kantor pusat S.T.M Madiun bertempat di Desa Budug, sebelah barat Desa Kajang. Bulan September dan Oktober 1949 Perwira MOBPEL Sdr. Soenoko Hadosoebroto dan Sdr. Soedamo Siswohadimartono keliling ke Markas K.D.M Madiun, Ponorogo, Pacitan dan Magetan untuk membentuk staf MOBPEL K.D.M-K.D.M yang akan melakukan registrasi Pelajar Pejuang yang telah berbakti sejak bulan Januari 1949, baik di K.D.M dan K.O.D.M maupundi Pasukan Tentara Mobil Batalyon Yudho ataupun di pemerintahan sipil.

Pada pertengahan bulan November 1949, Tentara Belanda meninggalkan Kota Madiun menuju Surabaya. Kemudian seluruh staf Pemerintah Militer S.T.M Madiun, K.D.M Madiun, K.M.K Madiun kembali ke kota Madiun. Kantor STM Madiun menempati markas yang sekarang ditempati Resimen 081 Madiun dan Rumah Dinas Residen Madiun. Seluruh staf MOBPEL S.T.M Madiun, kantor dan tempat tidurnya di Markas S.T.M Madiun itu sampai saat diadakan Demobilisasi 1 Juli 1950, yang meninggalkan S.T.M/P.S.T Madiun terakhir adalah Sdr. Soedamo Siswohadimartono

Dirangkum dari : Buku Kenang-kenangan Reuni IX Paguyuban Keluarga Besar Ex-Mobilisasi Pelajar Pejuang Kemerdekaan RI tanggal 15-16 Juni 2002 di Malang Jatim

Pengalaman Seorang Pelajar Pejuang Dalam Perang Gerilya

Sejak kota Madiun diserang pasukan Belanda, banyak penduduk Kota yang mengungsi ke tempat yang dianggap aman. Maka saat itu terpanggilah hati nurani saya untuk ikut berjuang. Kemudian bergabung dalam R.I.S.T (Republik Indonesian Student Troop) karena terpaksa berpisah dengan teman-teman tersebut, maka saya bergabung dengan kesatuan TNI yang bertugas di territorial, yaitu KDM Magetan. KDM Magetan ada 2 sektor yaitu sector utara dan selatan, dan saya bergabung di sektor utara, yakni KODM Panekan dibawah pimpinan Sersan Loso. Saya sendiri dri unsure Pelajar Pejuang.

Perlu diketahui cikal bakal TNI antara lain berasal dari : Ex. KNIL, Ex.PETA, Ex. HEIHO, Ex. BKR/TKR, Ex. Laskar Hisbulah/Sabililah, Ex. BPRI, Ex. Laskar Rakyat, Ex. TRP, TGP, TP dan MOBPEL dll.

Dahulu kita berjuang benar-benar TANPA PAMRIH, TANPA DIBAYAR, TANPA MENGHITUNG-HITUNG  BALAS JASA. Saat bergerilya kita lapar di beri makan penduduk, kehujanan di tamping berteduh penduduk, saat diserang kita di beritahu penduduk. Peranan pak lurah,carik, kamituwo, jogoboyo sangat besar.  Tugas-tugas territorial yang pernah saya lakukan di daerah kecamatan (onder district) Panekan antara lain:
  • Memberi penerangan bersama Sdr. Achmad Soewasis kepada rakyat di desa-desa sampai desa-desa di Kecamatan Kendal Ngawi yang intinya memberitahu bahwa Belanda dengan segalaa cara ingin menjajah kembali negeri ini, oleh karena itu rakyat diminta meningkatkan kewaspadaan dan bersatu-padu menghadapinya.
  • Memperketat penjagaan di gardu-gardu diseluruh desa di wilayah Panekan
  • Mengatur dan menetapkan tempat-tempat penyimpanan bahan makanan terutama beras/gabah di desa-desa yang ditunjuk dengan mendapat persetujuan camat dan kepala desa. Penyimpana bahan makan tersebut dipersiapkan guna menjamin makan kepaada pasukan mobil kita bila sewaktu-waktu datang kewilayah kita.
  • Sesekali melakukan serangan malam terhadap kedudukan pasukan Belanda di kota Magetan seperti di gudang kapuk yang bersifat gangguan-gangguan.
  • Mengambil seorang mata-mata dari dalam kota Magetan untuk dibawa keluar kota dengan cara menyamar menggotong jenazah pada malam hari sehingga terhindar dari kecurigaan Belanda
  • Mengawasi dan menjaga sekelompok  orang keturunan Cina, baik laki-laki maupun perempuan beserta anank-anak mereka yang dicurigai kuat akan membantu Belanda untuk dibawa ke luar kota dan ditempatkan di Desa Bedagung Kecamatan Panekan. Mengenai penawanan terhadap sekelompok orang keturunan Cina dari kota Magetan tersebut menimbulkan pertentangan antara Kompi Bandono dengan kesatuan yang dibawah pimpinan Anwar Santoso. Namun akhirnya setelah diadakan perundingan di rumah Kepala Desa Widorokandang dapat dicapai kesepakatan antara kedua belah pihak , yang memutuskan agar segera mengembalikan sekelompok orang keturunan China itu ketempat semula di Kota Magetan.
  • Lettu Edy Subroto pernah menawan seorang wanita muda yang cantik yang diduga kuat menjadi mata-mata Belanda setelah kedapatan di pahannya ada tanda khusus
  • Dan lain-lain, pengalaman bergerilya setahun lebih tak dapat di sebutkan satu-persatu.             
Markas kita tidak menetap disuatu tempat, melainkan berpindah-pindah guna menghindari serangan mendadak oleh Pasukan Belanda. Sewaktu kota Magetan diduduki Belanda, Residen Ardiwinangun beserta kepala-kepala Dinas/Jawatan Sipil mengungsi diDesa Sumberdodol Kecamatan Panekan. Namun ketika Sumberdodol diserang Pasukan Belanda, baik dari darat maupun udara maka tertangkaplah Residen dan pejabat-pejabat yang lain dari tempat persembunyiannya untuk di bawa ke Madiun. Serangan-serangan pasukan Belanda ke kota Magetan dan sekitarnya menyebabkan sebagian penduduk kota banyak yang mengungsi sampai ke garis batas G. Lawu. Pernah pada suatu pagi buta, kedudukan markas kita di Desa Wonokerto yang berbatasan dengan Desa Widorokandang, yang memang tidak terlalu jauh dari kota Magetan, diserang secara mendadak  oleh Pasukan Belanda menyebabkan kita lari tunggang langgang sambil membuang mesin tulis, map-map arsip dan peralatan kantor lainnya ke kebun penduduk. Saya sendiri dapat lolos dari penangkapan psukan Belanda yang hanya berjarak kurang lebih 5 m dan tempat dimana saya tiarap diantara tanaman singkong, hal itu semata-mata perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Berkat informasi dan indikasi dari anak-anak kecil berlarian di pagi buta, maka selamat dan loloslah kita dari sergapan Pasukan Belanda. Sekali lagi berkat ketajaman mata dan telinga penduduk membuat kita sering diselamatkan. Banyak pasukan kita yang terdesak dan berada di kaki G. Lawu, membuat saya sempat pesimis atas kemenangan perjuangan kita melawan pasukan Belanda. Tetapi setelah saya dan teman-teman membca Surat Edaran dari pemerintah Militer di Jawayang ditanda tangani oleh Kol. A.H. Nasution yang antara lain isinya menyatakan bahwa Pasukan Belanda takkan mungkin dapat menguasai kedudukan kita yang tersebar di kantong-kantong gerilya di seluruh P. Jawa bahkan diseluruh Indonesia.  Disebutkan sebagai contoh bahwa satu karesidenan terdiri atas beberapa kabupaten dansatu kabupaten terdiri dari beberapa kecamatan dan satu kecamatan terdiri dari beberapa desa dan satu desa terdiri dari beberapa dukuh. Setelah membaca surat edaran tersebut maka timbulah kembali semangat percaya diri yang lebih kuat daripada sebelumnya. Perang gerilya kita memang seolah-olah perang kucing-kucingan yang kadang-kadang kita harus menyerang dan kadang-kadang kita harus menghindar dari musuh . ketika kitamemergoki satu regu pasukan Belanda masuk kampong, maka kita biarkan mereka berlalu dengan aman. Bahkan saya dengan mata kepala sendiri melihat salah seorang dari mereka sempat menukar sebungkus cigarette dengan selirang pisang pada pedagang ditepi jalan setapak di Widorokandang. Mereka Nampak dari wajahnya kelihatan masih muda-muda. Mungkinkah Belanda sudah kekurangan tenaga personil militernya yang siap untuk diterjunkan kemedan perang gerilya di Indonesia?
Seregu pasukan Belanda tersebut yang berjalan di galengan tengah sawah tidak kita apa-apakan, mengingat resiko yang kita hadapi bila kita serang habis mereka, maka kampong seisinya pasti akan dihabisi pula oleh pasukan Belanda dikemudian hari. Pasukan Belanda yang aktif melakukan operasi ke daerah kantong-kantong gerilya di wilayah magetan baik sektor selatan maupun sektor utara.
Kebanyakan terdiri dari orang-orang Belanda sendiri dan orang-orang Ambon.  Karena itu pastilah Belanda merasa punya hutang budi pada orang suku Ambon. Pasukan Belanda disamping menghadapi begitu luasnya pertempuran, juga harus mengeluarkan biaya operasi militer yang sangat besar. Apalagi jika peperangan berlangsung lama, maka negeri Belanda yang kecil dan sebagai penjajah yang miskin dan kikir itu pasti segera mengalami collaps.
Ternyata pemikiran itu benar dan akhirnya Belanda mengadakan perjanjian damai dengan pemerintah kita dengan mengakui dan menyerahkan kedaulatan bekas jajahannya, yaitu Nederland indie kepada pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Penyerahan kedaulatan tersebut memang sudah menjadi ketentuan dalam salah satu isi Perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Indonesia dan Belanda.

Dirangkum dari : Buku kenang-kenangan reuni paguyuban keluarga besar ex Mobpel 2002