Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 14 November 2016

Sejarah Perjuangan Mobpel (Mobilisasi Pelajar)


Mobpel (Mobilisasi Pelajar)

Sejarah Perjuangan Mobpel (Mobilisasi Pelajar)

Mobilisasi Pelajar (MOBPEL), sebuah nama dan singkatan yang cukup asing bagi masyarakat pada umumnya , bahkan di kalangan mahasiswa sejarah dan pengamat sejarah. Nama Mobilisasi Pelajar sangat jarang dikenang atau diabadikan, bahkan tidak ada monumen khusus seabagai penanda perjuangannya.  Hingga apa yang dimaksud dengan Mobilisasi Pelajar pun tampaknya masih banyak yang tidak mengetahuinya. Seperti sebuah jalan di wilayah Kota Madiun, dan satu-satunya nama jalan yang menggunakan nama kesatuan pejuang yang cukup asing ini, yaitu Jl. Mobilisasi Pelajar.  Sebuah jalan kecil disamping SMA Negeri 5 Madiun dan SMK Negeri 4 Madiun, tampak disini cukup membuat nama Mobilisasi Pelajar menjadi sumir, dengan kawasan sekolah yang berada disekitarnya.
Mobilisasi Pelajar adalah sebuah kesatuan pelajar  yang ikut berjuang membela Negara di era revolusi fisik pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, basis perjuangan anggota MOBPEL kebanyakan tersebar di K.O.D.M, K.D.M seluruh wilayah territorial masing-masing dan berjuan bersama-sama dengan penduduk setempat membantu Tentara dalam perjuangannya melawan pasukan penjajah Belanda.

Jl. Mobilisasi Pelajar Madiun

Diwilayah Madiun selain terbentuk TRIP (tentara Republik Indonesia Pelajar) yang punya sejarah perjuangan sangat heroik dengan tokoh Mulyadi salah satu anggotanya yang gugur di depan sekolah SMP Pertahanan (red. SMP 2 Madiun) sebuah aksi heroik  “student army”. Selain itu TGP (tentara Genie Pelajar)   yang  lahir di ST (red. SMP 12 Madiun) dengan tokoh heroiknya Mas Bagio Saparno,  2 pelajar pemberani yang gugur karena bom yang digunakan untuk menghadang konvoi Belanda meledak sebelum waktunya.

Mobilisasi Pelajar dibentuk dalam upaya mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari usaha Belanda untuk menguasai kembali wilayah Hindia Belanda. Secara resmi instruksi pembentukan MOBPEL pada 8 Mei 1949 berdasarkan  Perintah Harian Panglima Komando Djawa tentang pembentukan Mobilisasi Pelajar dalam tubuh TNI.

Semangat untuk ikut berjuang mempertahankan Kemerdekaan menggelora di dada para pemuda dan pelajar  Indonesia. Maka dibentuklah Mobilisasi Umum dan Pelajar untuk ikut berjuang melawan Agresi Militer Belanda. Melalui KODM (Komando Onder District Militer) setempat di rekrut dan di latih strategi perang dan menggunakan senjata.

Mobilisasi Pelajar yang awalnya bersifat Bantuan dikarenakan situasi perang yang mendesak hingga dengan pengetahuan dan kemampuan militer seadanya harus ikut bergerilya di garis depan. Pada umumnya dalam 1 regu Mobilisasi Pelajar  hanya dibekali 1 atau 2 senapan dan beberapa pistol dengan peluru yang sangat terbatas dan dalam gerilya dilakukan bersama-sama satuan tentara regular.

Sesuai penelusuran seorang Mahasiswa Universitas Malang Jurusan Sejarah, Sdr. Bagus Ninar Kota Madiun merupakan salah satu pusat dari kesatuan Mobilisasi Pelajar selain itu juga terdapat di Surabaya, Malang dan Jogjakarta dengan jumlah anggota mencapai 1.114 orang pejuang berdasarkan data Kepala Staf “A” AD Tgl. 28 November 1950.

Saat Agresi militer II 1948-1949, Mobilisasi Pelajar diwilayah Madiun merupakan salah satu kesatuan pejuang yang cukup aktif bergerilya menyerang pos-pos pasukan Belanda dan membantu kesatuan lainnya dalam pengintaian-pengintaian, kurir dan logistik.
Markas-markas regu Mobilisasi Pelajar banyak tersebar di hutan-hutan daerah Pegunungan Lereng Lawu diantaranya Plaosan, Panekan, Jogorogo, Paron , Pilang kenceng, Geneng  dan juga bermarkas di kantor-kantor KODM setempat.

Sumber:
Historia Van Madioen, Bagus Ninar 2016