Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 26 Mei 2013

Menelusuri situs Ngurawan, Nagara Glang-glang I Bhumi Wurawan, Dolopo Madiun

Inskripsi Prasasti Kudadu

Menelusuri situs Ngurawan dan Sekitarnya, Nagara Glang-Glang I Bhumi Wurawan 

Yoni Situs Ngurawan
Umpak Batu situs Ngurawan
Gerbang Kuno situs Ngurawan Foto th.1980 Buku Sejarah Kab Madiun
Penemuan Bangunan Petirtan Th. 2013






Batu Purbakala ,diletakan di pemandian air hangat di Ds.Lembah ,Dolopo


Kerajaan di nagara Glang-Glang i bhumi Wurawan
(Ringkasan skripsi dari Sdr. Novi BMW, Peneliti, Pamong Budaya, 
Komunitas PASAK, Kompas Madya  )

Krom (1954: 145) menyatakan bahwa Glang-Glang sama dengan Daha atau Kadiri. Namun, Poerbatjaraka (1968: 372) tidak sependapat dengan pendapat Krom di atas. Beliau berpendapat bahwa Glang-Glang tidaklah sama dengan Daha, dalam arti kata yang sesungguhnya dan dalam arti yang terbatas menurut geografis. Hal tersebut merupakan hasil penelitiannya dalam cerita-cerita Panji, dimana terdapat nama Kerajaan Gegelang (Glang-Glang) disamping Kerajaan Daha. Lokasi Gegelang diidentifikasikannya berada di sebelah barat Gunung Wilis. Poerbatjaraka melokasilisasikan Glang-Glang berada di daerah Pagotan, selatan Kota Madiun. Pelokasian Glang-Glang berada di barat Gunung Wilis didukung oleh beberapa sumber data sejarah sebagai berikut:

Serat Centini
Cerita Centini memberikan petunjuk yang jelas tentang lokasi Gegelang, ketika Panji mengabdi kepada Raja Gegelang. Sesudah rombongan Raden Jayengresmi, Jayengraga, Kulawirya dan Nurripin sampai di Memenang, Kediri. Kemudian mereka bermalam di pelabuhan, di tepi Brantas sebelah timur. Pada keesokan harinya, mereka menyeberangi sungai dengan sebuah perahu tambangan dan menuju ke Gunung Klotok, di Gua Selomangleng. Ketika hendak meneruskan perjalanan dari Gua Selomangleng, mereka menanyakan jalan menuju Gegelang. Mereka mendapatkan jawaban, bahwa Gegelang masih jauh. perlu tiga hari lagi perjalanan dari Gua Selomangleng. Menyusuri kaki Gunung Wilis di sebelah utara, kemudian berjalan ke barat mengelilingi gunung (Wilis) (Poerbatjaraka,1968: 373).
Daerah-Daerah di sebelah barat Gunung Wilis adalah daerah Karesidenan Madiun. Oleh karena itu, pelokalisasian Gegelang atau Glang-Glang di Madiun tidaklah bertentangan dengan informasi dalam Serat Centini. Selain itu, dalam cerita Panji Malat disebutkan juga tentang orang-orang Pagutan yang kaget atas kedatangan orang-orang Melayu ke wilayah Gegelang (Poerbatjaraka, 1968: 315). Dari sinilah Poerbatjaraka mengidentifikasi Glang-Glang sama dengan Pagutan, yang sekarang menjadi Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.

Cerita Bujanggamanik
Cerita Bujanggamanik menyebutkan lokasi Gegelang berada di sebelah selatan Medang Kamulan. Untuk mengetahui lebih jauh lokasi Gegelang versi Bujanggamanik, dapat dilihat pada baris 780-789 sebagai berikut:
Ka kéncan jajahan Demak,
Ti wétan na Welahulu.
Ngalalaring ka Pulutan,
Datang ka Medang Kamulan.
Sacu(n)duk ka Rabut Jalu,
Ngalalaring ka Larangan
Sadatang aing ka Jempar,
Meu(n)tasing di Ciwuluyu,
Cu(n)duk ka lurah Gegelang,
Ti kidul Medang Kamulan,
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Ke sebelah kiri wilayah Demak,
Di timurnya Gunung Welahulu.
Aku berjalan lewat Pulutan,
Datang ke Medang Kamulan.
Setibanya ke Rabut Jalu,
Aku berjalan lewat Larangan.
Sesampainya aku ke Jempur,
Kuseberangi sungai Ciwuluyu,
Sampai ke daerah Gegelang,
Sebelah selatan Medang Kamulan,
(Noorduyn & Teeuw, 2009: 297).
Terlihat bahwa jalur yang dilalui Bujanggamanik setelah dari Demak menuju ke arah tenggara. Setelah sampai di daerah Medang Kamulan terus menuju Rabut Jalu, Larangan dan Jempur. Kemudian menyeberangi Ciwuluyu dan akhirnya sampai di daerah Gegelang. Ciwuluyu adalah nama kuno untuk Bengawan Solo. Jadi, lokasi Gegelang berada di seberang selatan Bengawan Solo, wilayah Karesidenan Madiun, sebelah barat Gunung Wilis.

Kajian Toponimi
Poerbatjaraka (1968: 372) telah menafsirkan daerah “Pagutan” dalam cerita Malat sama dengan Gegelang (Glang-Glang). Pagutan memiliki kata dasar ”Pagut”, yang memiliki arti pertemuan (dua ujung), seperti gelang tangan. Sedangkan Gegelang atau Glang-Glang berasal dari kata ”Gelang (gelang tangan)”. Jadi, daerah Pagutan yang sekarang menjadi Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun dapat diidentifikasikan sebagai lokasi nagara Glang-Glang dalam prasasti, atau Gegelang sebagai sebutan dalam karya-karya sastra Jawa (Poerbatjaraka, 1968: 372).
Kajian Toponimi serta penafsiran nama ”Pagutan” dengan Gegelang oleh Poerbatjaraka di atas, masih dapat diterima jika di daerah barat Gunung Wilis tidak ada toponimi lain yang lebih mendekati nama ”Glang-Glang”. Namun, di Kabupaten Madiun bagian selatan terdapat toponimi yang lebih mendekati nama ”Glang-Glang”, yaitu Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo. Di desa ini terdapat Dukuh Gelang yang berbatasan dengan Dukuh Ngrawan, Desa Dolopo, di Kecamatan Dolopo sebelah utaranya. Di sebelah barat Desa Dolopo terdapat Desa Doho. Di Desa Doho terdapat sumber mata air di tengah areal persawahan yang disebut dengan ”Sendang Ganter”. Areal di sekitar sendang itu disebut dengan ”Blok Ganter”
(Doho identik dengan Daha, yaitu ibukota Kerajaan Pañjalu. Sedangkan Ganter dalam Pararaton diceritakan sebagai lokasi pertempuran antara pasukan Tumapel dengan Pañjalu pada tahun 1144 Saka. Akibat perang Ganter tersebut, Kerajaan Tumapel dibawah pimpinan Ranggah Rajasa menguasai Pañjalu dan Sri Krtajaya gugur dalam serangan tersebut).
Toponimi ”nagara Glang-Glang” lebih tepat ditujukan pada Dukuh Gelang ataupun Desa Glonggong di Kecamatan Dolopo. Dari pada menafsirkannya dengan Pagotan. Apalagi di sekitar Desa Glonggong terdapat nama-nama daerah yang berhubungan dengan Kerajaan Glang-Glang serta Raja Jayakatyəŋ. Dukuh Ngrawan merupakan toponimi nama dari bhumi Wurawan. Desa Doho dan Blok Ganter mengingatkan pada peristiwa runtuhnya Kerajaan Pañjalu di bhumi Kadiri.Lokasi Kecamatan Dolopo berada di sebelah selatan Kecamatan Geger. Sedangkan sebelah baratnya berbatasan dengan Kecamatan Kebonsari. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Dagangan, dan sebelah selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo. Daerah Madiun merupakan daerah subur, yang dialiri oleh Sungai Madiun. Jadi, nagara Glang-Glang merupakan daerah peradaban di lembah Sungai Madiun.

Data Arkeologis
Sumber data Arkeologis-epigrafis terdiri dari tiga jenis, yaitu Prasasti (tekstual), Artefaktual dan Fitur (lingkungan).
Sumber Data Prasasti
Prasasti Mula-Malurung (1177 Saka / 1255 M) dengan jelas menyebutkan posisi  nagara Glang-Glang memiliki wilayah yang berbeda dengan nagara Daha. Nagara Glang-Glang berada di wilayah yang bernama “bhumi Wurawan”, sedangkan nagara Daha berada di wilayah yang bernama “bhumi Kadiri”.
Dalam Prasasti Taji (823 Saka/901M) disebutkan nama seorang pejabat, yang disebut “rakryān iŋ burawan”. Atau seorang pejabat ke-rakai-an yang berkuasa di daerah burawan. Nama burawan memiliki kemiripan dengan nama Wurawan.
Prasasti  Pucangan (963 Saka/1041 M) menyebutkan bahwa Raja Airlangga pada tahun 951 Saka /1029 M menyerang Kerajaan Wuratan. Nama Wuratan memiliki kemiripan pula dengan Wurawan. Dalam huruf Jawa Kuna, huruf “tha” dengan huruf “wa/va” memiliki kemiripan bentuk. Hal tersebut dapat dilihat dari table evolusi bentuk huruf “tha” dengan huruf “wa/va” dari abad ke abad sebagai berikut:
Ada kemungkinan telah terjadi salah baca pada nama Wuratan dari yang seharusnya dibaca “Wurawan”. Perlu dilakukan pembacaan ulang terhadap Prasasti Pucangan (963 Saka) untuk mengidentifikasi kebenaran hipotesis tersebut. Jika hipotesis tersebut benar adanya, maka dapat dibayangkan bahwa ekspedisi militer Airlangga menuju ke arah selatan dari daerah kekuasaannya.

Sumber Data Artefaktual
a) Situs Masjid Maqomul Hidayah, Dsn Ngrawan
Situs ini berada di Dukuh Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Di areal masjid Maqomul Hidayah terdapat banyak tinggalan arkeologis masa Hindu-Budha, sebagaimana berikut:
Yoni (Yoni (Sanskerta: योिन; yoni) adalah kata yang mempunyai arti bagian/tempat (kandungan) untuk melahirkan. Kata ini mempunyai banyak arti, di antaranya adalah sumber, asal, sarang, rumah, tempat duduk, kandang, tempat istirahat, tempat penampungan air, dan lain-lain. Dalam buku Kama Sutra dan dalam kaitannya dengan batu candi, yoni berarti pasangan lingga yang merupakan simbol dari alat kelamin wanita. Pasangan lingam-yoni dalam arti ini juga dikenal pada situs sejarah warisan dunia Mohenjo-daro di Pakistan. Di beberapa daerah di Indonesia yoni disebut juga lesung batu karena menyerupai sebuah lesung yang terbuat dari batu).



Lokasi Yoni ini berada di areal makam masjid Maqomul Hidayah Ngrawan, tepatnya di depan pengimaman masjid. Tinggi: 60 cm, panjang Yoni: 90 cm, panjang cerat: 30 cm, diameter lobang Yoni: 18 cm dan kedalaman lubang Yoni 34 cm.

- Umpak
Umpak 1 dan Umpak 2 berada di gerbang masuk areal masjid Maqomul Hidayah dan Madrasah Ibtidaiyah Toriqul Huda, dengan posisi terbalik. Sedangkan Umpak 3 berada di sebelah utara masjid, di pinggir Sungai Ngrawan. Ada satu temuan lagi, yaitu Umpak 4, namun sekarang telah di ukir dan dijadikan kemuncak kubah masjid. Umpak 1 memiliki ketinggian 33 cm, dan lebarnya 70 cm. Umpak 2 memiliki tinggi 30 cm, sedangkan lebarnya 73 cm.
Arca Dewi (Parwati (Sanskerta: पार्वती; Pārvatī) adalah salah satu dewi dalam agama Hindu. Menurut mitologi Hindu, Parwati merupakan puteri dari raja gunung bernama Himawan, dan seorang apsari bernama Mena. Parwati dianggap sebagai pasangan kedua dari Siwa, Dewa pelebur dan penghancur dalam agama Hindu. Parwati juga merupakan ibu dari Ganesha dan Kartikeya (Skanda). Beberapa aliran meyakininya sebagai adik dari Wisnu dan banyak pengikut aliran filsafat Shakta meyakininya sebagai dewi yang utama. Dalam susastra Hindu, Parwati juga dihormati sebagai perwujudan dari Sakti atau Durga. Dalam bahasa Sanskerta, kata Pārvatī berarti "mata air pegunungan". Parwati juga dikenal dengan berbagai nama, antara lain: Umā, Gaurī, Iswarī, Durgā, Ambikā, Girijā, dan lain lain.)

Arca Dewi Parwati ini terletak disebelah Umpak 2. Tinggi arca Dewi ini yang tersisa adalah 110 cm, sedangkan lebarnya 40 cm.


- Ambang Pintu
Batu ini terletak di sebelah utara masjid, berdekatan dengan lokasi Umpak 3. Panjang ini 101 cm, tabal 25 cm

- Panil Relief
Panil relief ini letaknya berdekatan dengan arca dewi dan umpak 2 di gerbang masuk areal masjid dan Madrasah Ibtidaiyah Toriqul Huda Dsn. Ngrawan.

Jobong Sumuran angka th. 1398 M
- Jobong Sumuran
Jobong ini terletak di depan madrasah Toriqul Huda sebagai vas tanaman. Posisinya terbalik, dimana di salah satu sudutnya berukir kronogram angka tahun 1320 Saka (1398 Masehi). Tinggi Jobong 50 cm, diameter bagian puncak (terbalik di bawah) sebesar 70 cm. Sedangkan bagian dasar (terbalik di atas) berdiameter 95 cm. Sebenarnya di areal ini dahulu pernah ada bangunan gerbang kuno, tepatnya di barat masjid, pada areal makam. Namun, gerbang tersebut telah tidak ada lagi, bahkan batu bata kunonya telah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk semen merah. Ada yang masih tersisa, yaitu batu bata kuno yang dijadikan batu nisan pada makam di areal Masjid Toriqul Huda. Selain itu, di bawah masjid dahulu merupakan lokasi dikuburkannya arca-arca dari sekitar Ngrawan. Banyak sekali arca maupun batu bertulis yang dijadikan pondasi masjid Ngrawan ini

B) Situs Daton
Lokasi Situs Daton berada di Dukuh Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Jaraknya sekitar 100 m sebelah timur dari situs Masjid Toriqul Huda Ngrawan. Temuan di situs ini adalah sebagai berikut:

- Puntuk Daton
Puntuk Daton ini merupakan pusat dari kesakralan daerah Dolopo. Situs ini berada di pekarangan kosong milik desa, yang tidak ada seorangpun berani memanfaatkannya. Puntuk Daton berupa gundukan tanah (puntuk), yang ditumbuhi semak belukar. Di sekitar puntuk ditemukan banyak bata kuno dan dua buah umpak berukuran besar.
Menurut Bapak Saiful Huda (30) dahulu sebagian arca dan umpak yang berada di Masjid Toriqul Huda berasal dari Situs Daton. Selain itu, terdapat struktur bata yang banyak ditemukan dalam areal Situs Daton. Namun sayang, kini bata-bata kuno tersebut telah diambil oleh masyarakat untuk dimanfaatkannmenjadi bahan pembangunan rumah. Nama “Daton” sangat mungkin berasal dari istilah “Kedaton” atau “Kadatwan”, yaitu istana, sebagai tempat tinggal raja beserta keluarganya.

- Umpak Daton
Pada Situs Daton ditemukan 4 buah umpak batu, mirip dengan yang berada di Situs Masjid Toriqul Huda Ngrawan. Kedua umpak tersebut terletak berdampingan di sebelah selatan Puntuk Daton dengan posisi terbalik

C) Kumpulan Arca di rumah Bapak Saiful Huda
Rumah Bapak Saiful Huda (30) berada di Dukuh Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Beliau adalah juru pelihara Cagar Budaya yang berada di Kecamatan Dolopo. Di depan rumahnya terdapat arca Nandi yang telah putus kepalanya. Kemudian di samping barat rumah diletakkan kumpulan Benda Cagar Budaya, yang terdiri dari dua buah Jaladwara, sebuah arca Dewi Parwati, dan sebuah miniatur candi. Benda-benda cagar budaya tersebut berasal dari pekarangan, sekitar 200 m di sebelah barat daya masjid Maqomul Hidayah. (Menurut keterangan bapak Saiful Huda (30), dahulu di pekarangan tersebut juga ditemukan struktur bata dan beberapa arca dewa Hindu.
Namun struktur bata tersebut telah digali dan dibongkar untuk dijadikan semen merah serta sebagai bahan bagunan rumah warga. Begitu pula arca-arca dewa Hindu yang ditemukan telah ikut terkubur di bawah masjid Maqomul Hidayah Ngrawan beserta arca-arca dan batu bertulis dari sekitar Situs Daton.

D) Situs Gelang (Dul Boto)
Situs Dul Boto terletak di Dukuh Gelang, Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, kabupaten Madiun. Dul Boto adalah nama yang diberikan oleh masyarakat sekitar Dukuh Gelang untuk menyebut sebuah jalan yang menghubungkan antara Desa Glonggong di timur dengan Desa Doho di baratnya. Dul Boto berasal dari kata Kidul Boto, yang memiliki arti Selatan (batu) Bata.
Menurut informasi dari bapak Saiful Huda (30)151, dahulu di sebelah utara jalan tersebut membujur panjang struktur batu bata kuno seperti tembok. Pada awal tahun sembilan puluhan, struktur bata masih dapat dilihat pada beberapa sudut desa, yang membentuk tembok memanjang dari timur ke barat Dukuh Gelang. Selain itu ditemukan struktur yang sama di Desa Doho, yang memiliki garis lurus dengan tembok di Gelang. Namun sekarang tidak dapat ditemukan lagi satu strukturpun. Hal tersebut karena sebelum jalan diaspal banyak batu bata yang dijual dan dibawa pulang masyarakat setempat untuk dijadikan bahan bangunan rumah mereka.

E) Situs Gedongstono
Situs Gedongstono berada di Dukuh Gedong, Desa Doho, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, tepatnya di areal pemakaman belakang MTsN Dolopo. Situs ini berupa dua buah makam kuno, yang dipercaya sebagai makam Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Ngalam.

F) Situs Umbul Air Panas
Situs Umbul Air Panas merupakan situs yang berada di sebuah sumber  mata air panas. Terletak di Dukuh Umbul, Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Di depan mata air didirikan sebuah cungkup untuk melindungi temuan berupa Benda Cagar Budaya masa Hindu-Budha. Benda Cagar Budaya yang ada di Taman Rekreasi Umbul sekarang tinggal dua buah arca Nandi, sebuah arca dewa, sebuah pecahan Yoni, sebuah miniatur rumah, dan sebuah jaladwara.

G) Sendang Ganter
Sendang Ganter berada di lembah blok Ganter, Dukuh Krajan, Desa Doho, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Sekitar 200 m sebelah selatan sendang. ini terdapat Sendang Petrukan yang lebih kecil ukurannya. Kedua sendang tersebut berada pada sebuah lembah yang lebih rendah dari tanah yang ada di barat dan timurnya. Nama Ganter mengingatkan pada peristiwa runtuhnya kekuasaan Raja Kķtajaya dari Kerajaan Pañjalu karena serangan Kerajaan Tumapel. Pararaton menceritakan pertempuran Ganter sebagaimana berikut:
“…….Samangka ta sanjata ing Tumapel acucuh lawan sanjata
Daha, aprang loring Ganter, apagut sama prawira, anglongi
linongan, katitihan sanjata Daha…………..........
Irika ta sanjata Daha bubar tawon, pungkur wedus, sahut paying,tan
hana pulih manih. Samangka ta siraji Dandang gendis murud saking
paprangan, angungsi maring dewalaya………”

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
“………sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha,
berperang di sebelah utara Ganter, bertemu sama-sama berani, bunuh
membunuh, terdesaklah pasukan Daha………………..
Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti
kekuatan perang telah kalah. Maka tentara Daha bubar seperti lebah,
lari terbirit-birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut
semua payung-payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan
lagi. Maka Raja Dandanggendis mundur dari pertempuran,
mengungsi ke alam dewa……..” (Padmapuspita, 1966: 22-23 dan 64).
Ganter memiliki arti ” taman” (Zoetmulder, 1995: 273). Jadi peristiwa pada tahun 1144 Saka /1222 M yang disebut “aprang loring Ganter” dapat diartikan dengan “bertempur di sebelah utara taman”. Lokasi Ganter yang berada di nagara Daha, sesuai dengan lokasi Sendang Ganter yang berada di wilayah Doho. Namun, bukanlah nagara Daha itu sama dengan Desa Doho ini. Lokasi nagara Daha berada di wilayah Kabupaten Kediri. Sedangkan keberadaan toponimi”nagara Daha” dengan Desa Doho di Madiun, dapat ditafsirkan sebagai upaya pemindahan kosmologi oleh keturunan Raja Kķtajaya dari Kadiri. Hal ini mirip dengan upaya pemindahan kosmologi Hindu, dengan cara memindahkan puncak Gunung Meru dari tanah India ke Pulau Jawa yang diceritakan dalam Kitab Tantupanggelaran.
Lokasi Sendang Ganter berada di utara Dukuh Ngrawan. Jadi, jika diasumsikan keratonnya berada di Dukuh Ngrawan, maka Ganter adalah taman kerajaan yang ada di sebelah utara. Taman (ganter) berupa sumber mata air yang disebut sendang. sesuai dengan cerita Malat yang menyebutkan, bahwa tokoh Panji saat menghamba di Kerajaan Gegelang pada suatu hari pergi menuju Ganter untuk menangkap ikan (Poerbatjaraka, 1968: 337). Tentunya menangkap ikan haruslah berada di daerah berair. Hal ini sesuai dengan keberadaan Sendang Ganter yang berada di utara bekas ibukota Glang-Glang. Bahkan sesungguhnya disetiap ibukota suatu kerajaan memiliki ganter (taman) masing-masing.

H) Sumur Gumuling (Sumur Guling)
Sumur Gumuling atau yang disebut pula Sumur Guling berada di Dukuh Umbul, Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Lokasinya satu dusun dengan Situs Umbul, hanya berjarak sekitar 300 m ke arah timur laut Taman Rekreasi Umbul.  Sesungguhnya sumur ini merupakan arung Yaitu, salah satu jenis instalasi keairan yang terdapat pada masa Jawa Kuna, berbentuk saluran air yang terletak di bawah permukaan tanah (Cahyono & Suprapto, 1999: 14).
Data-data tersebut di atas dapat membantu dalam pemetaan pusat bekas nagara Glang-Glang i bhumi Wurawan Dari temuantemuan tersebut, dapat dikuatkan bahwa nagara Glang-Glang berada di sebelah barat Gunung Wilis, antara Madiun-Ponorogo. Sedangkan bhumi Wurawan merupakan nama tanah (wilayah) yang mencakup daerah lembah Sungai Madiun, atau dataran antara Gunung Lawu-Gunung Wilis.


Kliping Radar Madiun tentang Situs Ngurawan


Situs Ngurawan
Situs Ngurawan
Situs Ngurawan
Situs Ngurawan
Kliping Koran : Radar Madiun


Situs Candi Palur Ds. Palur Kebonsari Madiun

 Blusukan Kompas Madya menuju Punthuk Candi Palur

Batu bata dengan ornamen sama dengan situs Ngurawan
umpak arca ornamen Nagaraja




Desa ini letaknya sebelah barat sekitar + 3 km dari situs Ngurawan, Dolopo. kondisi tidak terawat, letak di tengah persawahan (berupa punthuk) terdapat batu-batu umpak arca yang bermotif kan Nagaraja, batu-batu bata kuno ukuran besar berserakan dan bermotif galur yang identik dengan Batu bata di situs Ngurawan. menurut warga dan salah seorang rekan Kompas Madya Bapak Mamak Sewulan yang pernah menginventaris situs ini pada tahun 1990 an situs ini masih berujud candi.  semoga situs candi  ini mendapat perhatian dari dinas terkait dan masyarakat. terimakasih.

Situs Sumur Gemuling / Ngguling Desa Palur, Kebonsari Madiun


Sumur Gemuling Desa Palur, Kebonsari Madiun

Umpak arca didekat sumur gemuling Ds. Palur Kebonsari 

Sumur Gemuling / Ngguling terletak di punden dusun Gemuling Desa Palur Kecamatan Kebonsari Kab. Madiun. Sumur ini dalamnya berupa arung atau aliran sungai bawah tanah. sumur ini dikeramatkan oleh warga sekitar. situs ini diperkirakan terkait erat dengan situs-situs di sekitarnya, candi Palur, Batu Lesung, dan situs Ngurawan. semoga dilestarikan sebagai cagar budaya di Kabupaten Madiun. terimakasih. salam Budaya. Kompas Madya.

Lingga di Dsn. Sirahnaga, Glonggong dan Lingga Sendang Mbrebes, Mlilir



2 buah Lingga yang dimanfaatkan untuk nisan makam dan punden  Mbah sirahnaga
Lingga besar di Sendang Mbrebes, Mlilir Dolopo
sendang Mbrebes, sumber air yang tidak pernah kering
Arca tak berbentuk di Sendang Mbrebes, Mlilir Dolopo

Sumber : Kompas Madya