Selasa, 15 April 2014

Sikap “BAWALAKSANA” Falsafah Luhur Yang Dilupakan


Sikap “BAWALAKSANA” Falsafah Luhur

Prinsip Bawalaksana adalah sebuah filsafat hidup yang telah dijunjung tinggi masyarakat Nusantara terutama di tanah Jawa. Prinsip ini telah dipegang teguh oleh kalangan penguasa, pemimpin dan ulama sebagai  janji yang harus ditepati dan rakyat yang sangat percaya dan menghormati janji tersebut.  Maka dalam masyarakat Jawa terkenal dengan ungkapan Sabdo pandhito ratu tan keno wola-wali. Ungakapan ini tertanam dalam kehidupan masyarakat, dijunjung tinggi dan menjadi sebuah hukum tidak tertulis, atau norma yang harus dipenuhi oleh para penguasa atau raja dan para ulama / tokoh agama.

Prinsip Bawalaksana ini, secara tidak langsung merekat kuat di kehidupan masyarakat nusantara melalui  cerita-cerita dalam dunia pewayangan, atau cerita rakyat lainnya. Banyak contoh cerita nusantara yang menggambarkan prinsip Bawalaksana atau janji  , tetapi pada akhirnya terhukum  oleh janjinya sendiri, karena tidak bisa memenuhi apa yang telah diucapkannya.

1.     Cerita rakyat dari Minangkabau “Malinkundang” akhirnya menjadi batu karena mengingkari janjinya pada Ibunya.
2.      Roro Jonggrang  disabda Bandung Bondowoso karena mengingkari janjinya untuk mau diperistri.
3.    Ken Arok disabda Mpu Gandring, mati dengan kerisnya sendiri  karena mengingkari pembuatan keris sakti.
4.      Majapahit hancur karena mengingkari janji , saat mempersunting putri Pajajaran “Dyah Pitaloka”
dan masih banyak lagi contoh cerita, mereka yang celaka karena mengingkari janjinya sendiri.

Dalam refleksi kehidupan politik Negara Republik Indonesia, sejak kemerdekaan sampai era reformasi, para pemimpin negeri ini banyak yang celaka akibat tidak memenuhi janjinya pada rakyat. Artinya mereka dengan sengaja melanggar prinsip Bawalaksana.

Hal ini bisa kita amati secara umum pada setiap Pemilu, banyak para calon Legislatif mengobral janji, namun pada akhirnya dihukum oleh janjinya tersebut. Banyak Calon DPR yang pada periode pertama sukses mendapatkan kursi, namun pencalonan yang kedua kali  gagal, bahkan sampai menghabis biaya yang luarbiasa. Karena terhukum oleh janjinya pada rakyat.  Ada suatu ungkapan yang cukup populer dalam demokrasi yaitu,” vox populi vox dei” Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.  Saya kira ungkapan ini sejalan dengan prinsip Bawalaksana, jadi siapapun calon penguasa yang menginginkan mendapatkan simpati dari rakyat kuncinya adalah pegang teguh prinsip Bawalaksana, yaitu satu kata satu perbuatan, menepati apa yang telah diucapkan.

Dalam buku "Sabda Pandita Ratu",1990 oleh Sujamto. Di contohkan tokoh-tokoh yang memegang teguh prinsip Bawalaksana, yang diambil dari tokoh-tokoh pewayangan dan sejarah nusantara, yaitu:

Prabu Dasarata Raja Ayodya
1.     Prabu Dasarata, menenuhi janjinya pada Dewi Kekayi agar tahta Kerajaan Ayodya diberikan pada keturunannya yaitu, Raden Barata
2.  Ramawijaya, karena Janji ayahnya, Ramawijaya merelakan tahta Ayodya yang menjadi haknya diberikan pada Raden Barata. Ramawijaya rela dibuang ke hutan Dandaka bersama Dewi Shinta istrinya dan ditemani adiknya Raden Laksmana.
3.  Prabu Santanu, dengan berat hati memenuhi janjinya untuk menyerahkan tahta Hastina untuk keturunan Dewi Durgandini (setyawati), yaitu Raden Citragada dan Wicitrawirya karena kedua pangeran ini meninggal  dalam peperangan kemudian digantikan Resi Wiyasa yang merupakan putra Dewi Durgandini dengan Bambang Palasara untuk melanjutkan tahta Hastinapura.
Resi Bisma
4.     Dewabrata (Resi Bisma), berjanji  wadat hanya untuk meyakinkan pada Dewi Durgandini agar mau di persunting ayahnya, untuk meyakinkan janjinya Dewabrata bersumpah wadat, Hingga trah Hastinapura berpindah pada keturunan Dewi Durgandini yaitu: Citragadda dan Wicitrawirya. 
 
Puntadewa
5.  Puntadewa, terkenal dengan raja berdarah putih karena sikap kesabarannya yang tanpa batas. sebagai seorang yang ‘wani ngalah luhur wekasane’! Piwulang (ajaran) Jawa tersebut artinya bahwa manusia hendaknya berani  mengalah, ketahuilah bahwa tindakan mengalah tersebut akan membawa pada derajat yang luhur (kebaikan tinggi). Dan, patut diingat bahwa mengalah di sini bukan berarti kalah, tetapi mengalah demi kebaikan dan kemaslahatan bersama. Bukankah dengan demikian orang yang mengalah itu pada hakikatnya justru menjadi pihak yang menang?

Dalam kehidupannya, Prabu Puntadewa ini dikenal sebagai penyabar, adil dan bijaksana, pemurah, jujur atau tak pernah berbohong, bahkan tak pernah marah sedikit pun. Karena itulah Raja Ngamarta itu dikenal sebagai seorang satriya yang memiliki ludira seta (darah putih). Apapun yang dimintanya pasti diberikan, termasuk barang yang paling berharga sekali pun, seperti pusaka ‘Jamus Kalimasada’ dan permaisurinya Dewi Drupadi dalam lakon “Indrajala Maling”, misalnya, dikisahkan ada seorang maling bernama Indrajala yang meminta kepada Prabu Puntadewa senjata Ngamarta (Jamus Kalimasada) dan istrinya Dewi Drupadi. Dan, Prabu Puntadewa pun menyerahkan Jamus Kalimasadadan istrinya Dewi Drupadi kepada Indrajala.
Sumber : wawansusetya.blogspot.com

6.   Dewi Kunthi, adalah sosok wanita yang sangat mulia membimbing, putra Pandawa menjadi ksatria-kesatria yang sakti berbudi luhur.
Dewi Kunthi adalah putri Prabu Kunthiboja raja Mandura. 4 bersaudara : 
1. Basudewa yang menurunkan : Krisna dan Baladewa 
2. Dewi Kunthi menurunkan Putadewa, Bima, Arjuna serta mengasuh anak Dewi Madrim sejak bayi     yaitu: Raden Nakula dan Sadewa, 
3. Arya Praburukma
4. Ugrasena menurunkan Setyaki senapati tangguh Pandawa

7.       Resi Wisrawa
Sebuah kisah tragis Resi Wisrawa yang berniat mencarikan istri sang Anak tercinta Raja Lokapala Prabu Danaraja/Danapati, mengikuti sayembara pilih di negeri Alengka melamar Dewi Sukesi putri Prabu Sumali. Dewi Sukesi hanya mau diperistri oleh Resi Wisrawa yang telah membabarkan Sastra Jendra Hayuningrat. Sebuah dilema bagi Resi Wisrawa, yang pada akhirnya memenuhi sumpah Dewi Sukesi  yang hanya mau diperistri oleh siapapun yang mamu medar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, maka lahirlah Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Di akhir cerita Prabu Danaraja bermaksud menghukum Resi Wisrawa yang dianggap merebut Dewi Sukesi, namun karena Prabu Danaraja merasa walaupun bagaimana Resi Wisrawa adalah ayahnya yang harus di hormati, maka Prabu Danaraja menyembah ayahnya dan pulang ke negeri Lokapala, atas kebijaksanaanya Prabu Danaraja di angkat sebagai Asalira Dewa, dengan jejuluk Dewa Wisranawa/Dewa Kuwera sebagai Dewa Harta Kekayaan.

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
Serat : kitab, ajaran Sastrajendra: ilmu tentang raja-raja (keutamaan) Hayuningrat: kedamaian, keselamatan Pangruwating: merubah, mengobati  Diyu: simbol keburukan, angkara

Bambang Sumantri
8.       Patih Suwanda
Bambang Sumantri yang setelah menjadi patih disebut “Patih Suwanda” adalah Patih dari Raja Harjunasasrabahu dari negara Maespati pada era sebelum Sri Rama tokoh dalam kisah Ramayana. Patih Suwanda termasyhur dalam kegagahberaniannya, mampu melaksanakan semua tugas dari Prabu Harjunasasrabahu dengan penuh tanggungjawab dan akhirnya gugur di palagan melawan Dasamuka.

Sebagai kesimpulan sikap luhur "bawalaksana"di dalam kasustraan jawa adalah :

Menepati janji, satu kata satu perbuatan dengan semua konsekuensi yang ada, dijalani dengan rasa syukur, dan ikhlas

Menjalani hidup ini dengan punuh rasa syukur,apapun ketetapan rasa yang Tuhan berikan tetap bersyukur dan ikhlas menjalani.

Menjalani hidup ini dengan berarti, hidup dikatakan berarti apabila dalam menjalani hidup ini bisa memberikan manfaat buat sesama,masyarakat dan bangsa, menjadi pribadi yang kaya hati (amalshaleh/berderma),luas hati (sabar).

Setia berjalan diatas kebaikan budhi pekerti luhur,welas asih sesama  Sebenarnya jalan dan laku keluhuran yang beraneka macam rupa warna serta jalanya tidak berhenti didalam ketiga hal diatas saja,asalkan setiap diri bisa berjalan diatas kebenaran,kebajikan menuju kebenaran sejati yang bersumber dari Tuhan YME ,maka diri sedang berjalan dan meniru laku utama. Semua agama mengajarkan tentang kebajikan dan kebenaran biarlah mereka-mereka menjalani keyakinan yang diyakininya,berfikir berprilaku hidup tentram penuh toleransi,jangan menghakimi kepercayaan agama lain yang pada akhirnya toh juga tidak mau dipaksakan,anda sudah pasti tidak mau ikut ajaran keyakinan dia,dan dia yang pasti tidak mau juga walau dipaksa maupun sukarela untuk mengikuti ajaran keyakinan anda.Maka tiada guna berdebat masalah agama.para pembaca yang budhiman yang dirahmati Tuhan.kembali pada pembahasan topik awal mengenai "Bawalaksana" kenapa dalam kasustraan jawa kata bawalaksana menempati posisi penting dalam laku utama. Utamaning nata. Seyogyanya setiap manusia, terutama pemimpin harus teguh dan setia menjalankan kata bawalaksana, jika tidak memegang dan menjalankan ini, sudah bisa dipastikan dia tidak akan mendapatkan "kepercayaan" di hati rakyatnya,dalam lingkup terkecil pribadi manusia maka dia tidak akan mendapatkan kepercayaan dari sesamanya bahkan rekan dan kawan akrab sekalian, wibawanya jatuh dikarenakan kurang di percaya.Ya benar sekali kata sederhana ini mengandung pengertian yang sangat luas,terjemahan dari arti singkatnya adalah :
"Teguh untuk melaksanakan dan memegang janji atau ucapanya sendiri,berusaha menepati apapun misalkan rintangan yang menghadang dan akan dihadapi dikemudian hari".

Kata bawalaksana juga bisa disejajarkan dengan sikap ucapan dan prilaku yang konsekwen terhadap ucapan yang telah dikeluarkan, Dalam menepati "Sesanti/janji" kata bawalaksana juga bisa disejajarkan dengan kata orang yang teguh dan dapat dipercaya ucapan dan perilakunya,tidak munafik".
Apakah para pejabat dan kepala negara sekarang yang masih berkuasa menjalankan tahta kepemimpinan masih memegang teguh kata-kata "bawalaksana"yang telah diikrarkan ketika pelantikan kenaikan pangkat dibawah sumpah ayat sucinya.?
para pembaca, kata bawalaksana adalah sebuah kata yang juga identik dan bisa menuju pada makna
"Sabda Pandhita Ratu Tan Kena wola wali" 
Sabda : ucapan
Pandhita :Orang linuwih/Kepercayaan
Ratu :Yang memerintah,mengatur,menjalankan tapuk kepemimpinan.
Tan kena :Dihindari,Tidakboleh,larangan.
Wola-wali:Tidak sesuai,ucapan mencla-mencle,Tidak berpendirian,lahir bathin jiwa raga yang tidak bisa sejalan dengan ucapan.tidak konseksen,munafik,ingkar janji.

Sumber :
Nilailuhur.blogspot.com
buku Sabda pandita ratu,1990 oleh Sujamto





TAULADAN BAGI KSATRIA SEJATI

Serat Tripama ( tiga suri tauladan untuk para ksatria ) adalah karya KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) di Surakarta, yang ditulis dalam tembang Dhandanggula sebanyak 7 pada (bait), mengisahkan keteladanan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna dan Suryaputra (Adipati Karna)

Adipati Karna
Raja Ngawangga, Adipati Karna tanpa ragu bertempur memihak Kurawa melawan Pandawa, mengapa ia tanpa ragu memilih posisi yang batil dan melawan Pandawa sebagai pihak yang benar dan merupakan saudaranya sendiri ? apakah tekad membalas budi kepada Prabu Duryudana atau ia bersikap sekedar menjalani takdir tanpa ragu-ragu. Sikap Karna yang demikian itu sebenarnya terdorong oleh etika Bawalaksana juga. Pada saat masih muda dan hanya dikenal sebagai anak Adirata, kusir (sais) Kerajaan Astina, ia sangat tersinggung oleh sikap Arjuna yang tidak mau melayani tantangannya, karena dianggap tidak pantas disejajarkan dengan para kesatria, datanglah Duryudana sebagai Dewa penolong dan mengangkatnya sebagai saudara yang berarti setingkat dengan para kesatria. Pada saat itu pula Karna bersumpah untuk senantiasa membela dan mengabdikan dirinya kepada Duryudana. Ia tetap konsekwen memegang janji ini, meskipun di kemudian hari ia mengetahui bahwa Pandawa adalah adik-adiknya sendiri (anak Dewi Kunthi). Posisi Karna terhadap Kurawa mirip dengan posisi Kumbakarna terhadap Rahwana, juga terikat pada etika Bawalaksana. Oleh karena itu, meskipun diberitahu oleh Kresna bahwa ia adalah anak Dewi Kunthi yang berarti masih saudara seibu dengan Pandawa, Karna tetap teguh berdiri di pihak Kurawa, tanpa ragu-ragu melawan adik-adiknya


Bambang Sumantri
Bambang Sumantri yang setelah menjadi patih disebut “Patih Suwanda” adalah Patih dari Raja Harjunasasrabahu dari negara Maespati pada era sebelum Sri Rama tokoh dalam kisah Ramayana. Patih Suwanda termasyhur dalam kegagahberaniannya, mampu melaksanakan semua tugas dari Prabu Harjunasasrabahu dengan penuh tanggungjawab dan akhirnya gugur di palagan melawan Dasamuka.

Kumbakarna
Kumbakarna adalah adik dari Prabu Dasamuka raja Ngalengkadiraja (Alengka), walaupun berbentuk raksasa tetapi tidak mau membenarkan tindakan kakaknya yang angkara murka dengan menculik Dewi Shinta. Walaupun demikian pada saat kerajaan Ngalengkadiraja diserang oleh musuh, yaitu Sri Rama dan pasukannya, Kumbakarna memenuhi panggilan sifat ksatrianya, mengorbankan jiwa membela tanah air. Kumbakarna gugur membela negara, bukan membela kakaknya. Kumbakarna adalah salah satu pelaku dalam kisah Ramayana.

Sumber : iwanmuljono.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar