Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 23 Juli 2010

Gerakan Saminisme di Madiun


Gerakan Sosial Politik dan Revolusioner
terhadap Kolonial Belanda di Madiun

Sekitar tahun 1870, di Jawa mulai timbul banyak pergerakan-pergerakan sosial yang berlatar belakang protes terhadap ketidak adilan pemerintah kolonial Belanda dan pengaruh-pengaruh asing lainnya, gerakan sosial tersebut diantaranya dikembangkannya ramalan Jayabaya bahwa akan hadirnya Ratu Adil di tanah Jawa yang akan merubah tanah Nusantara menuju zaman keemasan yang adil, makmur, dan sejahtera. Kemudian kepercayaan masyarakat Jawa tersebut diperkuat dengan lahirnya tokoh besar Raden Ngabehi Ranggawarsito pada tahun 1802, seorang Pujangga besar Kraton Kasunanan Surakarta, beliau menciptakan banyak karya sastra yang sangat terkenal hingga kini, salah satunya karya sastra yang berisi ramalan tentang datangnya Zaman Keemasan Tanah Nusantara dan bahkan beliau mampu meramal kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan tepat dalam sebuah bait tembang Sinom :

Sangkalane maksih nunggal jamanipun
Neng sajroning madya akir
Wiku Sapta ngesthi Ratu
Adil parimarmeng dasih
Ing kono kersaning Manon

Terjemahannya sebagai berikut :
Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.
Akan ada keadilan antara sesama manusia.
Itu sudah menjadi kehendak Tuhan

Akibat gerakan sosial seperti diatas, mampu meningkatkan mental rakyat Jawa, mereka percaya akan hadirnya kemerdekaan di tanah Nusantara. Akibatnya banyak bentuk-bentuk pergerakan melawan penjajah baik dalam bentuk protes sosial politik maupun gerakan yang bersifat revolusioner.

Pergerakan sosial politik yang berlangsung lama di Madiun adalah gerakan Samin yang sebelumnya sudah berlangsung di daerah Blora, Pati, Bojonegoro dan sekitarnya mulai tahun 1907. Gerakan ini memang bagian dari Gerakan Samin yang berpusat di Blora yaitu di Desa Bapangan Kulon sekitar 45 km dari Kota Blora, pencetusnya adalah Kyai Samin atau Kyai Samin Surosentiko yang kemudian ditangkap Belanda dan di buang ke Sumatera Barat kemudian meninggal di penjara tahun 1914. Namun gerakan ini tidaklah mati begitu saja, oleh Kyai Engkrek dari Desa Klopoduwur, 10 km dari Kota Blora gerakan ini di kembangkan kembali dan akhirnya sampai meluas ke wilayah Madiun.

Di Daerah Madiun pusat gerakan Samin berada di Desa Ngegong, Kota Madiun, sekitar 3 km dari pusat Kota, di bawah pimpinan Kertotayem atau Kertotaruno. Beliau adalah seorang penjual arak jowo ”arjo” (minuman keras). Pengikutnya adalah kaum petani, buruh dan buruh tani, wilayahnya penyebarannya mencakup Kecamatan Balerejo, Pilangkenceng, Mejayan, Saradan dan Gemarang. Sesudah tahun 1907 gerakan samin di Madiun mengubah namanya menjadi ”Gerakan DAM (Dadio Opo Mbangkang”  atau WONG DAM, gerakan ini bersifat membangkang (mbalelo) dengan cara memutar balikan perintah. Misalnya: diperintah kerja rodi ”besuk membawa cangkul” maka mereka hanya memanggul cangkul saja, disuruh bayar pajak, mereka menjawab ”ini tanah saya sendiri pemberian Tuhan, kok disuruh bayar pajak” atau waktu membayar  pajak” ini uangnya siapa? Dijawab petugas ”ya uangmu” maka uang itu langsung dibawa pulang lagi. Para tokoh DAM ini sering ditangkap dan disiksa, namun tekad mereka sudah bulat untuk terus membangkang terhadap pemerintah Belanda yang sewenang-wenang.

Dengan gerakan wong DAM ini ternyata cukup ampuh untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda, bahkan sampai akhir kekuasaanya di Jawa, Belanda tidak mampu membrantas gerakan dan faham saminisme dan  DAM di Madiun.

Pengikut DAM ini, sampai sekarang masih banyak di wilayah Madiun, dengan ciri mereka suka memakai pakaian serba hitam (baju penadon dan celana dobyoh seperti warok dan ikat kepala hitam ). Namun sekarang mereka rata-rata sudah berusia lanjut dan  tidak mengembangkan ajaran-ajaran DAM lagi, namun kebiasaan mbalelonya  masih sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.   

Gerakan revolusioner juga banyak terjadi di wilayah Madiun, diantaranya pada  tahun 1870 di daerah Mlilir terjadi huru-hara pembunuhan terhadap  Bangsa Belanda dan kaki tangannya, berawal dari ketidak puasan terhadap peraturan sewa tanah (cultuur stelsel), gerakan ini di pimpin oleh Raden Sumowidjojo, yang masih kerabat dari Bupati Madiun Raden Mas Tumenggung Ronggo Ario Notodiningrat, pengikutnya para petani di daerah Mlilir, Ponorogo bagian utara, Uteran, dan Kebonsari. Akhirnya Raden Sumowidjojo di tangkap dan tidak diketahui nasibnya.

Di daerah Ponorogo, timbul gerakan anti Belanda dengan mengembangkan slogan ”nggetok walondo” (memenggal belanda) dan ”ngusir kompeni” (mengusir Belanda). Gerakan ini dipimpin oleh Raden Ahmad Suhada dari Kanten Ponorogo. Gerakan ini pun akhirnya lenyap setelah Belanda menindak tokoh-tokohnya.

Di daerah Muneng, tahun 1876 terjadi perampokan-perampokan, yang di rampok hanyalah hartanya orang Belanda dan Cina yang ada di Caruban. Harta hasil rampokan kemudian dibagikan kepada fakir miskin di daerah ini, gerakan ini dipimpin oleh Tirtoredjo, dan akhirnya gerakan ini dapat ditumpas pula, Tirtoredjo ditangkap Belanda dan tidak diketahui nasibnya.

Sumber : Buku Sejarah Kabupaten Madiun, 1980
Gambar: http://sosbud.kompasiana.com


Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun
Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun, Saminisme di Madiun