Selasa, 02 Agustus 2016

Secuil Sejarah di Desa Wisata Brumbun

HvM berkunjung di Rumah Bersejarah Desa Brumbun

Secuil Sejarah di Desa Wisata Brumbun, Wungu Madiun

Seiring menggeliatnya Desa Wisata Brumbun dengan daya tarik Pesona lereng wilis yang dilengkapi fasilitas-fasilitas menarik, diantaranya Body Tubing dialiran kanal yang bersumber dari lorong air dari PLTA Giringan dan Golang yang merupakan pemasok sumber energi listrik utama Madiun sejak masa kolonial. Selain itu juga disediakan camping ground, warung kuliner ala pedesaan, kebun buah-buahan dan juga ada air terjun dengan suasana teduh, sejuk dan bernuansa asli pedesaan di pinggir sungai catur.

Desa Brumbun, ternyata tidak hanya memiliki panorama alam dan lingkungan yang asri, namun dibalik suasana kampung dengan udara yang sejuk banyak cerita menarik dibaliknya, ada urban legend tentang Buta Kala / Raksasa yang mati dikepung 1000 warga kampung, akibat keserakahannya yang menginginkan putri Mbok Rondo Kuning, legenda ini didukung adanya Kuburan Buta yang terdapat di atas bukit pinggir kali catur.  Maka dusun tersebut dikenal dengan Dusun Sewu.
Di dusun ini terdapat peninggalan kolonial yang sampai sekarang masih kokoh dan berfungsi dengan baik, yaitu DAM sewu sesuai catatan di bangun Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1922.
Dam ini juga yang memberi kemakmuran pada Desa Brumbun dan sekitarnya, dengan mengaliri sawah ratusan hektar di wilayah Kecamatan Wungu dan Kota Madiun. Jembatan pada DAM sewu menjadikan desa ini cukup strategis karena dengan adanya jalur ini bisa memotong jarak antara Pasar Dungus dengan Desa Kresek. 
Tentang sejarah perjuangan bangsa ternyata Desa Brumbun memberikan sumbangsih dan sebuah cerita menarik, yaitu 
Pada saat Agresi Militer Belanda II (operation craai), Pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Praja Madiun. Pada saat itu juga, Kanjeng Bupati Ronggo Kusnindar, Bapak Walikota Sampoerno mengungsi ke wilayah Dungus dengan diikuti para Wedana, R. Sumakun kepala Kantor Offset Kota praja Madiun dan pimpinan daerah lainnya. R. Sumakun adalah keponakan Bung Karno.
Disebuah rumah Pamong Desa, yaitu Musredjo Sentono para pengungsi tinggal untuk beberapa minggu sambil menyusun siasat dalam mengusir Belanda dari kotapraja Madiun, hal ini dikisahkan oleh eyang Putri Yati Kusuma yang saat itu masih berusia 9 tahun, namun ingatannya masih sangat kuat akan hal itu, karena pada saat itu, eyang Putri Yati Kusuma di jadikan anak angkat oleh Kanjeng Bupati Ronggo Kusnindar.
Setelah pengungsian para petinggi Kotapraja Madiun tercium oleh Belanda, kemudian pindah beberapa hari di Desa Bodag dan pindah lagi ke daerah Dusun mBikon yang letaknya lebih tinggi lagi di lereng Barat Gunung Wilis.
Selain pernah digunakan sebagai tempat mengungsi saat Agresi militer II tahun 1948-1949, di desa ini juga pernah digunakan sebagai markas TGP (tentara Genie Pelajar) saat Agresi Militer II tahun 1949. Kompasmadya 

Desa Wisata Brumbun
Desa Wisata Brumbun
DAM sewu desa wisata Desa Brumbun
Kali Catur, Desa Brumbun
DAM sewu, Desa Wisata Brumbun
Kuburan Buta / Raksasa Dusun Sewu
Desa Wisata Brumbun
Air Terjun, Desa Wisata Brumbun
Arena Tubing Desa Wisata Brumbun
Rumah Sejarah Ibu Yati Kusuma
Kursi  saat Bupati R. Kusnindar tinggal di Brumbun
Meja kuno saat Agresi Militer II di Madiun
Rumah arsitektur masih asli era Agresi Militer II
Rumah sejarah Brumbun, Arsitektur masih asli
Kebun buah di belakang Rumah Ibu YatiKusuma
Batu Gendingan Brumbun




Tidak ada komentar:

Posting Komentar