Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 29 April 2015

Sejarah Perdikan Tegalsari

Gerbang Paduraksa Makam Tegalsari
Sejarah Perdikan Tegalsari

Sejarah Pesantren Gebang Tinatar / Masjid Tegalsari dimulai dari Dsn. Setono, Tegalsari , Kecamatan Jetis sekitar 6 km selatan Kota Ponorogo Daerah tersebut awalnya berupa hutan yang dibuka oleh Pangeran Sumende, yang berasal dari Tembayat beserta tiga pengikutnya yaitu Kyai Donopuro, Kyai Noyopuro dan Kyai Wongsopuro. Selain pengikut, tiga ulama itu juga merupakan guru spiritual Pangeran Sumende.

Para ulama tersebut membangun desa dan mendirikan masjid dan pesantren tidak jauh dari kali Keang.keberadaan masjid tersebut sampai sekarang masih ada, yaitu masjid Baiturrahman di dusun Setono, Tegalsari. sesuai angka tahun yang tertera di tembok depan masjid bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1600 M, jauh sebelum pesantren Tegalsari didirikan. 
Masjid Baiturrahman Dsn.Setono Tegalsari
Salah satu santri pesantren Setono adalah putra kyai Ageng Grabahan Caruban bernama Besari sangat pandai Karena kepandaiannya lalu dijadikan menantu oleh Kyai Nursalim dari Dsn. Mantub, Ds. Ngasihan, Jetis. Kemudian Besari diberi tanah oleh Kyai Donopuro disebelah timur Desa Setono yang selanjutnya didirikan Masjid dan Pesantren Tegalsari. 

Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Susuhunan Paku Buana II nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi Kraman / pemberontakan yang dikenal sebagai “Geger Pecinan” dipimpin oleh Raden Mas Garendi / Sunan Kuning, seorang Pangeran keturunan Tionghoa berhasil menduduki istana. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. 

Susuhunan Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Ditengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning, kemudian Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Muhammad Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri di Pesantren Gebang Tinatar, dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah. Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Muhammad Besari, Allah swt mengabulkan doa Paku Buana II kembali bertahta di Keraton Kartosuro. Dari beberapa kisah, Kyai Hasan Besari mengutus salah satu santri Gebang Tinatar yang bernama Bagus Harun Basyariyah putra Pangeran Nolojoyo (Dugel Kesambi) Bupati Sumoroto untuk ikut memadamkan pemberontakan. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Muhammad Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Muhammad Bashari (Besari). Kemudian desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. 

Setelah Kyai Ageng Muhammad Besari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh beliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Besari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Besari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Namun Pesantren Tegalsari telah banyak mengantarkan anak keturunan dan santrinya menjadi kyai-kyai pesantren ,tokoh kerajaan dan tokoh nasional yang kharismatik hingga sekarang ini diantaranya yang keturunan Kyai Hasan Besari adalah :
1. Kyai Zainal putra kesembilan dari Kyai Muhammad Besari yang menjadi Raja Selangor Malaysia
2. Kyai Moh. Muhji menjadi Raja penerus dari Ayahandanya dan Nyai Ngaisah Dinobatkan sebagai Sultan Johor Malaysia. 

Alumni Santri Tegalsari . Diantaranya :
1. Susuhunan Paku Buwana II atau Sunan Kumbul, Raja Kerajaan Mataram Kartasura
2. Bagus Harun Basyariyah pendiri desa Perdikan Sewulan, Dagangan Madiun dikenal sebagai Kyai Ageng Basyariyah. Salah seorang trah Ki Ageng Basyariah adalah Presiden RI ke 4 Abdurahman Wahid (Gus Dur)
3. Muhammad Bin Umar pendiri Desa Perdikan Banjarsari, Dagangan Madiun
4. Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur
5. Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. ia diambil menantu oleh Kyai Khalifah (Penerus Kyai Hasan Besari Tegalsari) dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.
6. Santri besarnya adalah Bagus Darso yang dikenal dengan sebutan KH Abdul Mannan yang mendirikan Pondok Pesantren Termas, Pacitan pada 1830.
7. H.O.S. Cokroaminoto Tokoh Pergerakan Nasional (lahir di Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 – meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember1934 pada umur 52 tahun) masih keturunan Kyai Bagus Hasan Besari, Tegalsari

Kyai Mohammad Besari adalah 3 bersaudara (putra Kyai Ageng Grabahan atau dikenal pula sebagai Kyai Anom Besari Caruban) adalah :
1. Kyai Kotib Anom, dimakamkan di Srigading-Kalangbret-Tulungagung
2. Kyai Mohammad Besari, Tegalsari, Ponorogo.
3. Kyai Noer Sodiq ,dimakamkan di Jetis-Tegalsari, yang menurunkan 6 putra yaitu : 1) Kyai Mukmin yang dimakamkan di Mlarak-Ponorogo. 2) Ny. Amad 3) Ny Zakariya 4) Ny. Suratman 5) Kyai Mubarak 6) Kyai Idris
Batu Bancik /Artefak  yang Beriskripsi

Dalem Njero Kyai Besari Tegalsari
Dalem Njero Tegalsari
Rumah Lumbung Ndalem Jero
Tembok benteng Ndalem Jero Tegalsari
Tembok benteng Ndalem Jero Tegalsari
Mushola Dalem Njero "konon tempat Ranggawarsito di gembleng"
Umpak Batu pilar dalem Njero

Situs Masjid Tegalsari

Masjid Tegalsari adalah peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang hidup sekitar tahun 1742 pada jaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II. Masjid Tegalsari diperkirakan dibangun sekitar abad ke-18 oleh Kyai Ageng Muhammad Besari. Pada awalnya ukuran masjid itu masih relatif kecil. Bangunan masjid diperluas lagi oleh cucu Kyai Ageng Hasan Besari, yaitu Kyai Hasan Besari II agar menampung jumlah jamaah yang lebih banyak. Kyai-kyai Tegalsari inilah yang banyak menyiarkan Agama Islam di wilayah Ponorogo sampai lereng Gunung Lawu. Masjid dengan arsitektur jawa ini memliki 36 tiang, yang mengandung arti jumlah wali / wali songo
( 3 + 6 = 9) yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa dan atap berbentuk kerucut yang mengambarkan Keagungan Allah Swt. Serta didalam masjid ini pula tersimpan kitab yang berumur 400 tahun yang ditulis oleh Pujangga Ronggowarsito. Komplek Masjid Tegalsari terdiri dari tiga bagian yaitu: 

1. Dalem Gede / kerajaan kecil yang dulunya merupakan pusat pemerintahan 
2. Masjid Tegalsari
3. Komplek makam Kyai Ageng Mohamad Besari

Di sebelah timur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Presiden Soeharto. Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Di area rumah tinggal Kyai Ageng Besari ( Dalem Jero ) terdapat pula sebuah bangunan kecil. Persis sebelah barat Dalem Jero berupa Langgar ( mushola kecil ). Di situlah Ronggowarsito pernah di gembleng. 

Masjid Tegalsari berada di RT. 01, RW. 01, Dukuh Gendol, Desa Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tepatnya, terletak 10 km arah tenggara dari pusat kota (Searah dengan jalur Pondok Pesantren Walisongo, Desa Ngabar, Kecamatan Siman dan Al-Mawadah, Desa Coper, Kecamatan Jetis). 

Bangunan Masjid tampak depan sudah direnovasi, sebelum masuk masjid ada 2 buah batu pijakan yang dulunya adalah sebuah bagian dari benda peninggalan sejarah peradaban kuno yang kemungkinan adalah fragmen sebuah candi. Ini bukan tidak mempunyai maksud tertentu tentang arti letak dan posisinya atas batu pijakan ini. Batu pijakan di depan masjid ini bukan sebuah “batu kosong” seperti pada umumnya batu-batu alam tetapi dianggap istimewa karena diambil dari sebuah tempat “angker” punden, atau bagian dari sebuah artifak atau situs atau candi atau bahkan sebuah arca utuh yg ditanam di depan masjid yang dijadikan sebagai perlambang “agomo” telah mengalahkan “tradisi sesat” pada jaman atau saat itu pada medio tahun 70-80 an. 

Dalam bahasa setempat batu itu disebut “watu bancik” atau tempat “ancik-ancik” atau tempat menongkrong atau batu pijakan. “Sesembahmu aku jadikan cuma sebagai pijakan bagi setiap orang yang akan masuk masjid”. Mungkin begitu kira-kira pesannya. Karena pada saat itu juga hingga kini masih banyaknya “laku” warga desa setempat mendatangi punden atau artifak kuno atau tempat angker lainnya dengan maksud yang tidak sinkron dengan ajaran suci. Maka para agamawan memilih jalur terjal ini meski jalur itu merusak arti sebuah potret kehidupan masa lalu atas sebuah peradaban Jawa (khususnya). 

Masjid Tegalsari merupakan bagian dari cagar budaya, satu diantara sekian banyak obyek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo, merupakan peninggalan Kyai Ageng Muhammad / Hasan Besari seorang ulama sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan ke sebelas Nabi Muhammad SAW. Sehingga banyak kyai karismatik lahir dari santri atau keturunan Tegalsari. karena Tegalsari banyak melahirkan orang-orang yang Degdaya atau sakti maka sampai sekarang pun dipercaya banyak orang sebagai salah satu tempat yang mempunyai daya tarik, keunikan dan kekhasan.

Menurut Mbah Sujak, sesepuh Desa Tegalsari yang juga juru kunci Kompleks Makam Kyai Ageng Muhammad Besari di Kompleks Masjid Tegalsari mengakui hampir tiap hari dikunjungi ratusan orang untuk Ngalap Berkah atau mencari hidayah. Apalagi dalam bulan suci Ramadhan maupun menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, puluhan ribuan pelajar melakukan dzikir dan doa bersama serta sholat hajad. Beberapa keunikan Masjid Jami Kyai Muhammad Besari menurut Mbah Sujak, antara lain adalah Kubah masjid yang terbuat dari tanah liat (sejenis gerabah) yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Kubah ini menurut cerita pada jaman Belanda pernah di tembak berkali-kali namun tidak rusak sedikitpun. “Soko guru berjumlah empat buah yang masing-masing mempunyai kekuatan tersendiri apabila ada orang yang berdoa di dekat tiang tersebut dan didukung oleh tiang-tiang penyangga Masjid lainnya,” tutur Mbah Sujak. Selain itu payung kebesaran yang konon bisa dipergunakan sebagai penangkal atau tolak balak mana kala ada kerusuhan di desa Tegalsari. 

“Dalem Njero juga diyakini sebagai tempat bermunajat yang paling ampuh,” ulasnya. Alumni pondok Tegalsari ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari, rehab Masjid Tegalsari pertama menyalahi Bistek sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. “Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya,” ujar Afif Azhari. Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan. Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak. Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalamakara. 

Disarikan dari beberapa sumber :
http://jawatimuran.wordpress.com
http://primbondonit.blogspot.com
http://bumiwengker.blogspot.com
http://warokgabel.blogspot.com
http://lensaindonesia.com