Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 11 September 2013

Peran POLRI (Brimob/Mobrig) Dalam Penumpasan PKI Madiun 1948

Markas Veldpolitie (polisi Lapangan, zaman kolonial Belanda ) gedung utama masih dipertahankan

SEJARAH PERJUANGAN BRIMOB DI MADIUN
PADA MASA PENUMPASAN PEMBERONTAKAN PKI


Agustus 1948 tokoh PKI Muso datang ke Indonesia lagi untuk menyusun Struktur organisasi PKI, dengan sekretaris pertahan Amir Syarifudin yang mendapat dukungan dari Brigade 29 yang dipimpin oleh Kolonel Dahlan yang memproklamasikan berdirinya Republik Sovyet Indonesia.

Dalam penumpasan PKI Muso di Madiun yang ditugaskan antara lain :

1.  Tentara dari Jawa Tengah dipimpin oleh Kolonel Gatot Subroto.
2.  Tentara dari Jawa Timur dipimpin oleh Kolonel Sungkono.
3.  Mobil Brigade Karesidenan Surabaya.
4.  Mobil Brigade Besar Jawa Tengah.
5.  Mobil Brigade Besar Jawa Timur dipimpin oleh KP. I M. Yasin.

Para pimpinan Mobrig dalam penumpasan PKI Madiun :                     

1.  KP. I M Yasin                                  :        Pimpinan Operasi
2.  KP. II Soetjipto Joedodiharjo           :        Pengendali Operasi
3.  IP. I Soetjipto Danoekusumo           :        Komandan Operasi
4.  PIP. I Imam Bachri                          :        Komandan Batalyon
5.  PIP. I Abdul Rahman                       :        Wakil Komandan Batalyon

Para Komandan Kompi Mobrig :

1.  PIP. II Sutopo                                :        MBK Surabaya
2.  PIP. II Yusuf Jayengrono               :        MBK Surabaya
3.  PIP. II Kusnadi                               :        MBK Surabaya
4.  PIP. II Sukadi                                 :        MBB Jawa Timur
5.  PIP. II Wirato                                 :        MBB Jawa Timur

Kronologis peristiwa penumpasan PKI di Madiun oleh Pasukan Mobil Brigade

Pada tangal 18 September 1948 keadaan Madiun kacau, Kapolwil Madiun KP. I R. Soenaryo Tirtodiprojo, pukul 06.45 sudah berada di kantor. Beliau mengatakan kepada Dan Jaga AP. I Tukiman bahwa saya akan ke Korem untuk mendesak Danrem Letkol Sumantri agar secepatnya mengerahkan anak buahnya untuk membantu. Setelah ditemui ternyata bukan Danrem tetapi orang tidak dikenal, karena Danrem Letkol Sumantri sudah ditangkap PKI di rumahnya.dalam pertemuan tersebut akhirnya Kapolwil Madiun KP. I Soenaryo ditangkap dan ditahan di PG. Rejo Agung Madiun. Sementara itu di tempat lain di asrama Mobrig Kletak telah terjadi pengepungan oleh PKI. Pada saat itu Danki IP. I R. Soeparto dengan kekuatan 1 peleton mempertahankan markas kletak sehingga terjadi pertempuran, karena kekuatan tidak seimbang dan peluru sudah habis maka akhirnya asrama kletak dikuasai PKI. Senjata kemudian dimasukkan ke sumur dan untuk mengelabui lawan IP. I Soeparto menggunakan pakaian anggota namun semuanya dibawa di PG. Rejo Agung.

Pada tanggal 25 September 1948 malam hari Kapolwil Madiun KP. I R Soenaryo, mantan Kapolwil Madiun KP. II Subiyanto, Kapolresta Madiun KP. II
Sudarman, Kabag Pam IP. I Danu, Kabag Intel IP. I Suparbak, Wakil Komandan MBK Madiun IP. II Subarjo, AIP I Gunung Ismail ditangkap dan ditahan PKI di PG. Rejo Agung. Dalam peristiwa PKI Madiun ada 94 anggota Polisi yang ditahan di Gorang-gareng tepatnya di PG. Rejosari, namun tinggal 14 orang yang hidup (saksi hidup IP. I     Suwarjan ). Kapolsek IP. II Duryat dan Kapolres Madiun IP. I R. Ismiyati dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur bersama ke 14 orang tersebut.

Pada Tanggal 25 s/d 27 September 1948 dalam perjalanan dari Nganjuk menuju Madiun tepatnya pukul 14.00 terjadi penghadangan oleh PKI di desa Awar-awar, 2 anggota Yon Mobrig dari MBK Surabaya  dipimpin IP. II Kusnadi terkena tusukan bambu runcing. Pada saat di Caruban terjadi pertempuran sengit selama 6 jam. Mobrig berhasil menguasai Caruban namun dalam pertempuran tersebut gugur anggota Mobrig yaitu KP. BD. Matali, AP. II Markaban, AP. I Muryanto.

Pada tanggal 31 September 1948 pukul 14.00 Dan Mobrig mendapat perintah untuk menyerbu Madiun. Pukul 17.00 Madiun dapat dikuasai sepenuhnya termasuk berhasil menyelamatkan Danki Madiun IP. I R. Soeparto. Kemudian PKI lari ke arah Ponorogo. Tepat hari Jum’at Wage tanggal 8 Oktober 1948 pukul 03.00 PKI menyerang Ponorogo, akan tetapi pada pukul 17.00 PKI meninggalkan Ponorogo sehingga Ponorogo dapat dipertahankan. Setelah sampai di desa Balong pasukan Mobrig diaplos oleh pasukan Siliwangi yang selanjutnya pasukan Mobrig ditarik ke Madiun. Pada pukul 20.00 Muso lewat di depan Balai pengobatan Balong. Karena gerak geriknya mencurigakan maka ia diminta berhenti dan diperiksa Agen Polisi Rejo dan Suwarno, barang bawaan yang dibungkus dengan sarung digeledah Suwarno dan Agen Polisi Rejo menanyakan surat-surat, akan tetapi belum selesai membaca surat, tiba-tiba Muso merebut sarung dari tangan Suwarno dan mengambil Pistol selanjutnya menembak AP. Rejo. AP. Rejo tertembak mulutnya sehingga Muso melarikan diri. Teriakan Suwarno didengar massa dan dari arah berlawanan tiba-tiba muncul kendaraan dari Tentara Siliwangi. Atas petunjuk massa, tentara mengejar Muso dan terjadilah kontak tembak yang mengakibatkan Muso tertembak di dekat sumur H. Suhud di Desa Semanding Kec. Balong Kab. Ponorogo. Sementara itu pada saat terjepit rombongan PKI dipimpin Amir Syarifudin lari menuju ke arah utara melintasi Jl. Raya Ngawi Solo. Pada saat itu mereka berpapasan dan akhirnya mencegat Ketua DPA R.M. Soerjo yang juga mantan Gubernur Jatim, Kepala Penilik Kepolisian Jatim Kombes Pol. M. Duryat, Kapolwil Bojonegoro R. Suroko yang pada saat itu perjalanan pulang dari Yogjakarta. Para pejabat tersebut akhirnya ditangkap dan disiksa secara sadis di Dukuh Bogo Desa Palang Lor Kec. Kedung Galar Kabupaten Ngawi. Namun pada akhirnya PKI dapat ditumpas seluruhnya oleh perjuangan rakyat Indonesia.

Sumber: File Sejarah Markas Kompi 4 C Kletak Madiun.
trimakasih Bapak-bapak Prajurit Brimob Kompi 4 C Kletak Madiun.

Markas Kompi 4 C Kletak Madiun 
Markas Kompi 4 C Kletak Madiun
Markas Kompi 4 C Kletak Madiun
Markas Kompi 4 C Kletak Madiun
Markas Kompi 4 C Kletak Madiun
Markas Kompi 4 C Kletak Madiun

Markas Kompi 4 C Kletak Madiun
Markas Kompi 4 C Kletak Madiun

Foto : Kompas Madya